BREAKING NEWS
    10,178 view

    Gejog Lesung: Suara Kreativitas Perempuan dalam Arus Modernitas

    Waktu Baca: 4 menit
    Salah satu penampilan kesenian Gejog Lesung oleh perempuan petani. (Foto: Sentung Lestari)

    Musik tradisional dalam masyarakat tidak hanya dapat dimainkan oleh siapa saja, tetapi juga menjadi arena perjuangan dan ekspresi kreativitas, khususnya perempuan petani, yang berjuang di tengah lingkungan patriarki.

    SALAH satu bentuk kesenian tradisional yang dikembangkan dan dipertahankan oleh perempuan petani adalah Gejog Lesung di daerah Jawa Tengah seperti Karanganyar, Banjarnegara, Blora, dan Banyumas, serta Gejog Lesung yang dikenal di Yogyakarta (Bantul, Gunung Kidul), Jawa Timur (Trenggalek, Pacitan), dan Banten dengan nama Bendrong Lesung.

    Melalui seni ini, perempuan petani bukan hanya melestarikan warisan budaya turun-temurun, tetapi juga menyalurkan energi kreatif dan semangat juang mereka untuk melawan batasan sosial yang sering membatasi peran dalam masyarakat.

    Kesenian ini telah menjadi simbol ketahanan dan inovasi perempuan petani yang mempertahankan jati diri budaya mereka meskipun dalam kondisi sosial yang menuntut mereka untuk tetap tunduk pada struktur patriarki.

    Sinkronisasi Lesung dengan Masyarakat Agraris

    Dahulu, lesung digunakan untuk mengolah beras. Perempuan petani mengolah hasil panen menjadi beras merupakan sebuah aktivitas yang memerlukan ketelatenan, kesabaran, dan kerja sama yang harmonis.

    Nilai-nilai moral tersebut tercermin dalam permainan gejog lesung yang dimainkan perempuan petani, di mana ritme berulang dan sinkronisasi suara lesung mencerminkan pentingnya kesabaran, ketekunan, serta solidaritas dalam kehidupan sehari-hari.

    Melalui gejog lesung, perempuan petani tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menanamkan kebersamaan, saling menghargai, dan semangat gotong royong yang menjadi fondasi moral dalam komunitas.

    Lesung, memiliki kedekatan pada masyarakat agraris yang didominasi oleh kehidupan petani. Dalam budaya agraris, Mbok Sri atau Dewi Sri dipercaya masyarakat sebagai dewi pelindung atau dewi kesuburan lahan pertanian, terutama sawah.

    Dalam konteks masyarakat desa, perempuan petani selalu melakukan ritual persembahan saat panen padi. Sebagai salah satu pendukung upacara persembahan, Lesung menjadi ungkapan rasa yang mengandung nilai keindahan.

    Ekspresi masyarakat agraris menyambut sukacita saat panen raya tercermin dalam permainan musik Gejog dengan instrument pokok Alu dan Lesung. Suara yang keluar dari alat tersebut terdengar klotekan sehingga diberi nama Gejog.

    Lesung yang umumnya digunakan untuk musik tradisional gejog panjangnya sekitar 2-3 meter berbentuk kotak dari kayu jati tua, nangka, mangga dan trembesi. Alu atau antan, kayu untuk memukul lesung berbentuk selinder dengan panjang sekitar 1,5-2 meter Panjang Alu disesuaikan dengan tinggi badan pemain musik gejog.

    Kayu yang digunakan untuk alu haruslah kuat seperti kayu petai cina (mlandingan), pinus, dan nangka. Pembuatan lesung harus cermat dan menggunakan hitungan hari untuk mendapatkan kualitas yang bagus.

    Pohon yang mau dijadikan lesung, harus ditebang dengan menggunakan teknik tertentu. Proses pembuatan lesung biasanya sekitar 5 hari, dengan melibatkan tokoh adat dalam masyarakat setempat yang dikenal dengan dukun.

    Sebagai permainan musik gejog lesung dilatarbelakangi oleh kejenuhan yang dialami kaum perempuan petani dalam kegiatan mengolah hasil sawahnya atau panen.

    Untuk mengisi waktu luang—baik setelah bekerja di sawah, mengurus rumah tangga, atau di kala santai pada sore dan malam hari—perempuan petani pun menciptakan hiburan ini. Hiburan Gejog Lesung tidak hanya berfungsi sebagai pelepas penat, tetapi juga sebagai media pengikat sosial yang kuat di antara para perempuan petani.

    Melalui irama yang sederhana namun berulang, Gejog Lesung menjadi sarana ekspresi kolektif yang menghadirkan rasa kebersamaan dan identitas budaya. Lagu dan alat musik yang digunakan pun kental dengan nilai-nilai tradisional, mencerminkan kehidupan, harapan, dan keuletan perempuan petani dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari.

    Simbol Kreativitas dan Emosional Perempuan Petani

    Gejog Lesung, sebagai ekspresi budaya yang hidup, menjadi cermin identitas kolektif masyarakat setempat yang terjalin erat dengan aktivitas sehari-hari perempuan petani. Melalui irama dan pola yang khas, seni tradisional Gejog Lesung mampu menguatkan rasa kebersamaan sekaligus menegaskan akar budaya yang menjadi fondasi kekuatan sosial.

    Ketika Gejog Lesung dipertahankan dan dikembangkan, kehadirannya tidak hanya menjaga warisan leluhur. Gejog Lesung membangun fondasi identitas yang melekat dalam kesadaran komunitas perempuan petani. Perempuan petani yang memainkan Gejog Lesung menunjukkan kuatnya  solidaritas sosial dan memberikan kebanggaan atas jati diri budaya lokal di tengah dinamika perubahan zaman yang cepat.

    Melalui seni tradisional Gejog Lesung, perempuan petani tidak hanya melaksanakan ritual budaya, tetapi juga menunjukkan dedikasinya dalam menjaga kelangsungan nilai-nilai leluhur. Gejog Lesung, semakin menghidupkan kembali tradisi sekaligus memperlihatkan komitmen moral dan spiritual sebagai penjaga akar budaya yang menguatkan identitas kolektif masyarakat serta menghubungkan masa lalu dengan masa kini secara harmonis dan penuh rasa tanggung jawab.

    Secara tradisional, Gejog Lesung menunjukkan adanya ruang dan kesempatan bagi Perempuan petani untuk berekpresi, membangun identitas, dan solidaritas dalam komunitas. Dalam konteks kekinian, semangat di balik kelahiran Gejog Lesung justru sangat relevan untuk direfleksikan. Di era yang serba cepat dan penuh tekanan, masyarakat modern kerap dilanda kejenuhan dan alienasi.

    Gejog Lesung mengingatkan kita pada sebuah kearifan: kreativitas dan kebahagiaan seringkali lahir justru dari keterbatasan. Para perempuan petani itu tidak menunggu hiburan datang, tetapi menciptakannya dari sumber daya yang paling dekat, yaitu lesung dan alu. Ini adalah filosofi “membuat lemon dari limun”—mengubah kesulitan menjadi peluang akan kebahagiaan dengan tidak mereduksi nilai kelokalan. (*)


    Opini ini ditulis oleh Setyasih Harini, Dosen Hubungan Internasional di Universitas Slamet Riyadi Surakarta.

    Avatar of Setyasih Harini
    Avatar of Arditono
    Avatar of Setyasih Harini
    Setyasih Harini
    Penulis
    Avatar of Arditono
    Arditono
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *