Mengapa Kita Perlu Mendukung Yuhendrizal (Hen Inyak)?
Yuhendrizal (Hen Inyak) menjadi salah satu nama yang hangat diperbincangkan menjelang pelaksanaan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) serentak di Kabupaten Pesisir Selatan pada 17 Desember 2025. Ota politik di lapau semakin ramai, dan tentu saja, perbincangan itu akan lebih bermakna jika masyarakat memiliki referensi yang cukup tentang calon yang akan maju.
MASYARAKAT berhak tahu, bukan hanya tentang visi di atas kertas, tetapi juga bagaimana memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing calon agar tidak membeli “kucing dalam karung”. Beberapa nama disebut akan maju sebagai calon wali nagari, disertai dengan berbagai analisis para tukang ota di lapau. Fenomena ini merupakan bagian dari geliat demokrasi yang tumbuh subur di kampung kita, dan menunjukkan meningkatnya partisipasi masyarakat terhadap demokrasi.
Pada kesempatan ini, saya ingin menyigi salah satu nama yang menjadi perbincangan hangat di lapau kopi, yaitu Yuhendrizal (Hen Inyak). Namun sebelum sampai ke sana, izinkan saya menjelaskan sedikit kronologinya—mengapa nama Yuhendrizal kini muncul di tengah perbincangan warga sebagai calon Wali Nagari Pulau Karam Ampang Pulai Tarusan.
Ide ini berawal pada tahun 2021 ketika kenagarian Pulau Karam Ampang Pulai masih dipimpin oleh Wali Nagari Arfidal. Kala itu tersiar kabar bahwa Arfidal akan maju sebagai calon anggota legislatif (Caleg) Kabupaten Pesisir Selatan periode 2024–2029. Karena tahapan pencalegan sudah dimulai sebelum tahun 2024, maka konsekuensinya beliau harus mengundurkan diri dari jabatan wali nagari.
Cerita itu pun berkembang menjadi bahan diskusi besar di kalangan masyarakat dengan pertanyaan: siapa sosok yang tepat menggantikan Bapak Arfidal sebagai Wali Nagari Pulau Karam?
Sejumlah pemuda mulai mendiskusikan hal ini dengan serius, termasuk saya di dalamnya. Diskusi dimulai tanpa menyebut nama calon, melainkan dengan membahas kriteria ideal seorang pemimpin nagari yang diharapkan. Kami mengusung semangat perubahan dan keberlanjutan.
Beberapa kriteria minimal yang kami sepakati waktu itu antara lain:
- Calon harus bersih (track record baik), tanpa catatan buruk baik secara birokrasi maupun sosial budaya.
- Tidak terlibat dalam pusaran politik nagari sebelumnya agar diterima semua pihak.
- Memiliki jiwa sosial yang tinggi dan tidak hidup individualis.
- Memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan masyarakat.
Setelah kriteria ini disepakati, kami mulai menelaah satu per satu nama tokoh, baik yang ada di kampung maupun di rantau, tanpa melihat suku. Siapa pun yang memenuhi kriteria, layak didorong. Setelah melalui perenungan panjang, muncullah nama Yuhendrizal (Hen Inyak), yang waktu itu berdomisili di Padang setelah beberapa tahun merantau ke Batam.
“Karatau madang di hulu, babuah baguno balun, marantau bujang dahulu, di kampuang baguno balun.”
Filosofi Minangkabau ini tercermin dalam perjalanan Yuhendrizal. Setelah tamat SMA di Padang, ia merantau ke Batam untuk menimba pengalaman hidup. Pendidikan Yuhendrizal dimulai dari SD di kampung Pulau Karam, SMP Negeri 1 Tarusan, dan SMA di Padang. Sebagai anak sulung dari enam bersaudara, tanggung jawab besar membuat bakat kepemimpinannya terasah sejak dini.
Dari informasi perantau di Batam, diketahui bahwa Yuhendrizal pernah menjadi Ketua RT dan aktif dalam organisasi perkumpulan anak nagari Pulau Karam dan Ampang Pulai di Batam. Fakta ini semakin memperkuat keyakinan kami bahwa Yuhendrizal layak didorong menjadi pemimpin nagari. Dari segi usia, kematangan, dan pengalaman sosial, ia sudah sangat siap.
Menariknya, tidak satu pun peserta diskusi waktu itu yang sesuku dengan Yuhendrizal. Artinya, semangat yang muncul benar-benar murni dari kecintaan terhadap kampung halaman, tanpa fanatisme kesukuan.
Hasil diskusi ini kemudian kami sampaikan kepada para tokoh dan senior di kampung untuk menguji tingkat penerimaan terhadap nama Yuhendrizal. Alhamdulillah, responnya luar biasa positif. Tidak ada penolakan sama sekali—bahkan para tokoh langsung menyatakan siap mendukung, padahal tahap dukungan belum dimulai.
Hari berganti, musim bertukar. Kami menyadari bahwa pemimpin tidak akan turun dari langit, sehingga proses ini harus diikhtiarkan secara nyata. Menjawab hal itu, Yuhendrizal pun kembali ke kampung halaman. Awalnya ia mengurus bagan, namun seiring waktu, aktivitasnya semakin bersentuhan dengan masyarakat. Ia hadir di berbagai kegiatan sosial, hajatan, dan pertemuan nagari, hingga dipercaya menjadi Ketua Panitia Turnamen Sepak Bola antar-club yang sukses besar.
Dalam bidang kepemudaan dan olahraga, sejak lama Yuhendrizal memang memiliki hobi olahraga, terutama voli. Kini, ia juga menjadi pelatih klub voli di kampung.
Kembali ke semangat awal pengusungan, dukungan terhadap Yuhendrizal (Hen Inyak) lahir dari tekad perubahan dan keberlanjutan. Kita semua tentu menginginkan kemajuan kampung halaman dengan pemimpin yang mampu mengayomi seluruh masyarakat, bukan hanya satu kelompok. Kita butuh pemimpin yang berwawasan luas, komunikatif, dan mampu menjalin hubungan baik hingga ke level birokrasi kabupaten.
Pulau Karam, sebagai daerah penyangga pariwisata Mandeh, membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Kita memiliki potensi besar seperti destinasi wisata Muaro Bantiang yang jika dikelola baik akan meningkatkan ekonomi masyarakat dan Pendapatan Asli Nagari.
Dalam konteks keberlanjutan, program nagari yang telah berjalan harus diteruskan. Pikiran niniak mamak, pemuda, dan masyarakat harus menjadi bagian dari pembangunan. Saya mengajak kita semua menjadi pemilih rasional—bukan pemilih tradisional. Kita memilih pemimpin nagari, bukan kepala suku atau ketua adat. Nilai-nilai kearifan lokal tetap harus dijaga, namun keputusan politik mesti berdasarkan objektivitas dan rasionalitas.
Apa yang dilakukan Yuhendrizal di kampung selama ini membuat banyak tokoh masyarakat datang memberikan dukungan agar ia maju dalam Pilwana Pulau Karam. Menjawab itu, dengan lugas dan optimis Yuhendrizal menyatakan: “Saya siap maju menjadi calon Wali Nagari Pulau Karam.”
Namun perjuangan ini tentu memerlukan dukungan dari seluruh masyarakat Pulau Karam. Semoga Allah SWT meridai langkah dan niat baik ini. Bismillah. (*)
Opini ini ditulis oleh Rambun Pamenan, salah seorang anak Nagari Pulau Karam.
