BREAKING NEWS
    4,151 view

    Pantauan Udara BPBD Agam Ungkap Ancaman Galodo Susulan di Batang Muaro Pisang

    Waktu Baca: 2 menit
    Tangkapan layar pantauan udara BPBD Agam di hulu sungai Batang Muaro Pisang, di kawasan Kelok 42, Sabtu (3/1/2026). (Foto: BPBD Agam)

    Agam, AyoSumbar.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi galodo susulan di aliran Batang Muaro Pisang, Jorong Pasa Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya. Sabtu (3/1/2026), BPBD melakukan pantauan udara intensif sejak pukul 10.30 hingga 13.00 WIB.

    Hasil pantauan mengarah ke kawasan hulu sungai di Kelok 42. Di lokasi tersebut teridentifikasi deretan material batu berukuran besar yang masih bertahan di sepanjang aliran sungai. Material ini diketahui merupakan endapan yang dihanyutkan arus deras sejak Kamis (1/1) lalu, sekitar pukul 16.20 WIB, saat debit sungai meningkat tajam.

    BPBD Agam menilai keberadaan material batu tersebut menyimpan ancaman serius. Jika kembali terbawa arus, material berpotensi meluncur hingga ke kawasan permukiman warga di Jorong Pasa Maninjau, memperbesar risiko galodo lanjutan.

    “Material di hulu masih sangat labil. Saat hujan dengan intensitas tinggi, ancaman galodo susulan tetap terbuka,” demikian laporan BPBD Agam dikutip dari kanal resmi Diskominfo Agam, Minggu (4/1/2026).

    Pemantauan lapangan terus dilakukan, disertai koordinasi lintas sektor guna meminimalkan risiko dan memastikan keselamatan masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Batang Muaro Pisang. Warga pun diminta tetap siaga, terutama ketika hujan turun di wilayah hulu.

    Sementara itu, Bupati Agam Benni Warlis menegaskan penanganan bencana tidak boleh setengah-setengah. Menurutnya, penyelesaian masalah harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

    “Kita berharap persoalan ini tidak hanya diselesaikan di hilir. Hulunya harus dipetakan dengan benar dan ditentukan langkah teknis yang tepat. Kalau tidak, ketika galodo kembali terjadi, dampaknya bisa jauh lebih luas,” tegas Benni.

    Bupati menjelaskan, galodo yang terjadi berulang kali disebabkan kondisi hulu sungai yang sudah jenuh akibat curah hujan tinggi dalam waktu lama. Bahkan, getaran kecil pun bisa memicu bencana.

    “Dalam kondisi tertentu, meskipun tidak hujan, galodo masih bisa terjadi karena hulunya sudah terisi air,” ujarnya.

    Benni juga menyebut situasi di Maninjau saat ini tergolong mengkhawatirkan. Perubahan alur sungai telah meningkatkan ancaman terhadap rumah-rumah warga.

    “Kondisi sekarang boleh dikatakan mencekam. Sungai yang kemarin sudah beralih alirannya ke lokasi sebelah. Artinya, semakin banyak rumah penduduk yang terancam. Saat ini apa yang bisa dilakukan masyarakat bersama Basarnas, TNI, dan Polri, lakukan semaksimal mungkin,” katanya.

    Ia menegaskan, penanganan tidak cukup hanya membersihkan titik longsor. Dibutuhkan kajian teknis dan penanganan ilmiah dari hulu.

    “Yang longsor bisa kita selesaikan dengan alat berat. Namun untuk aliran sungai, penanganan dari hulu sampai ke bawah ini harus ada ilmunya. Itu yang kita mintakan ke provinsi melalui Balai Wilayah Sungai. Alhamdulillah, BWS sudah turun menindaklanjuti,” pungkas Benni. (*)

    Avatar of St Batuah
    Avatar of Arditono
    Avatar of St Batuah
    St Batuah
    Penulis
    Avatar of Arditono
    Arditono
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *