BREAKING NEWS
    2,065 view

    Akan Robohkah Surau Kami di Pesisir Selatan?

    Waktu Baca: 3 menit
    Mushalla Al Mahza yang berada di tepi pantai Nagari Sago Salido, Kecamatan IV Jurai. Kondisi ini dicemaskan karena surau berada di dekat bibir pantai yang terus digerus abrasi. (Foto: Irwandi/TimAS)

    Jika A.A. Nafis sarat dengan pesan tersirat di Novel yang berjudul “Robohnya Surau Kami”. Robohnya, tepatnya akan roboh, surau yang akan diutarakan dalam tulisan ini merupakan makna sebenarnya.

    TERJADI di Nagari Sago Salido, Kecamatan IV Jurai. Namanya Mushalla Al Mahza, berada di pinggir pantai, berdekatan dengan SMK Kelautan Pesisir Selatan.  Satu-satunya mushalla yang masih aktif di Pantai Sago. Jamaah ada, apalagi hari libur, banyak pengunjung yang shalat di sana.

    Pengurus mushalla sangat memperhatikan kebersihan mushalla. Mulai dari kamar mandi sampai sajadah untuk shalat. Lumayan nyaman bila beribadah di sana. Diiringi dentuman ombak, tambah menyegarkan syaraf-saraf yang lelah bekerja.

    Pantai Sago merupakan bagian pantai yang membentang di wilayah barat Pulau Sumatera. Nampak jelas di tengah laut pulau-pulau mungil menambah eksotisnya suasana hati. Layanan dari penjual bila pengunjung ingin berbelanja juga ramah. Terkhusus bagi pedagang yang berdekatan dengan mushalla, selain ramah harga yang diberikan juga sesuai dengan suasana kantong.

    Namun keindahan pantai yang membiru berhias belaian daun pinus yang rimbun menghijau, semenjak lebaran haji kemaren “kehilangan pamanih”. Hampir satu Minggu menjelang shalat id pasang besar selalu menerjang tiap malam. Rasa bermimpi penulis melihat Tunggul pinus yang telah terpotong sebaris di bibir pantai. Hal tersebut dilakukan karena uratnya telah benar-benarkeluar, jika dibiarkan tentu akan tumbang, dan memberi mudarat bagi warga dan pengunjung.

    Hilangnya hiasan hijau dari tarian daun pinus ketika dihembus angin sangat berpengaruh pada pengunjung. Dahulunya ramai, terutama hari libur. Semenjak pinus tidak memberikan keteduhan sebagai peningkah ombak yang terus berkumandang maju mundur-maju mundur, cantik. Sekarang berkurang dengan drastisnya. Begitu kira-kira ucap seorang teman yang berjualan di dekat mushalla Al Mahza.

    Jika Robohnya Surau Kami di Novel yang sangat penomenal itu bercerita haji Saleh terlalu tidak mementingkan kehidupan dunia, sekarang kita berharap Mushalla Al Mahza jangan sampai roboh karena abrasi pantai.

    Berhubung azan yang berkumandang dari menaranya bisa menolak berbagai bencana nantinya. Rasanya tidak mungkin masyarakat setempat mengumpulkan uang receh untuk membuat breakwater (dam) di tepi pantai. Hanya orang bertanda tangan saktilah yang bisa memberikan anggaran untuk kebaikan masyarakatnya

    Sebagai orang yang mempercayai bahwa seruan azan akan mendatangkan nikmat dan kasih sayang Allah. Sangat cemas rasanya jika gelombang pasang sering terjadi. Mungkin tidak sampai sekarang 50  meter dari bibir pantai ke Mushalla. Satu baris pinus telah tumbang, apa langkah untuk menyelamatkan agar menara mushalla tempat diletakannya corong agar berdiri kokoh.

    Sangat diharapkan kiranya Pemerintahan Pesisir selatan, membuat langkah-langkah antisipasi agar bibir pantai tidak mengalami abrasi lagi. Mushalla, rumah penduduk, dan pohon pinus tempat burung-burung berteduh tentu diharap tidak ada yang hilang dikikis air laut. Hingga besok atau kedepannya, air laut tetap menari, burung di pohon pinus tetap bernyanyi, dan ekonomi warga tetap berjalan dengan baiknya. (*)

    Avatar of Irwandi Sikumbang
    Avatar of Aris Prima Gunawan
    Avatar of Irwandi Sikumbang
    Irwandi Sikumbang
    Penulis
    Avatar of Aris Prima Gunawan
    Aris Prima Gunawan
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *