30 Jam Menembus Kerinci dari Solok Selatan, Kisah Petualangan 5 Hari Jalur Berhasil di Patahkan
Gunung Kerinci mungkin menjadi tujuan akhir bagi banyak pendaki. Dinilainya bukan sekadar puncak, jalur Kerinci via Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat, menawarkan kemegahan dan kisah petualangan yang berbeda.
PESONA sesungguhnya justru dimulai sejak langkah pertama menembus rimba tropis, melintasi jalur alami, hingga berjumpa dengan kehidupan masyarakat yang menjaga kawasan di kaki gunung.
Berdiri megah pada ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau sekitar 12.484 kaki, Gunung Kerinci menyandang predikat sebagai gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia sekaligus di Asia Tenggara. Meski demikian, bagi enam pendaki dari komunitas Beyond Run, puncak hanyalah penutup dari sebuah perjalanan yang jauh lebih bermakna.
Dalam ekspedisi yang berlangsung pada 28–29 Juli 2026, mereka membuktikan bahwa jalur pendakian Kerinci melalui Kabupaten Solok Selatan bukan sekadar rute menuju atap Sumatera, melainkan pengalaman menyeluruh yang memadukan tantangan alam, ketahanan fisik, dan kekayaan cerita di setiap kilometer perjalanan.
Mereka membawa satu pembuktian sederhana, pendakian Kerinci melalui Solok Selatan tidak harus menghabiskan waktu empat atau lima hari. Sekitar 30 jam menjadi catatan perjalanan mereka untuk menempuh rute dari Visitor Center Solok Selatan, mencapai kawasan puncak, kemudian kembali ke titik awal.
Perjalanan tersebut dilakukan dengan pendampingan pemandu lokal, persiapan yang matang, pengaturan ritme, serta dukungan cuaca yang bersahabat. Tetapi angka 30 jam bukan sekadar soal kecepatan.
Justru di sepanjang perjalanan, hutan Solok Selatan menghadirkan cerita yang tidak bisa dihitung dengan stopwatch.
Delapan Kilometer untuk Menghemat Tenaga
Imam, salah seorang anggota Beyond Run, melihat jalur Kerinci dari sisi Solok Selatan memiliki karakter yang berbeda. Sekitar delapan kilometer pertama relatif landai sehingga pendaki mempunyai kesempatan mengatur napas dan menyimpan tenaga sebelum berhadapan dengan medan yang semakin menanjak.
“Medannya relatif landai sehingga tenaga bisa dihemat sebelum memasuki tanjakan menuju puncak,” ujar Imam dalam Podcast Saruga, 31 Juli 2026.
Strategi tersebut menjadi salah satu kunci perjalanan mereka. Bukan sekadar berjalan secepat mungkin, tetapi bagaimana tenaga dikelola agar tetap tersedia ketika medan mulai berubah menjadi lebih berat. Sebab gunung tidak pernah hanya soal kaki.
Ada napas yang harus dijaga, tubuh yang harus dibaca, cuaca yang harus diperhatikan, serta keputusan yang harus diambil ketika kondisi di lapangan berubah.

Ketika Hutan Menjadi Bagian dari Perjalanan
Bagi pendaki seperti Mulazmi, perjalanan melalui Solok Selatan justru menawarkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar catatan waktu.
Di balik pepohonan besar, perjalanan membawa pendaki memasuki lanskap hutan tropis yang masih terasa liar. Air terjun muncul di tengah perjalanan. Hutan lumut memberikan nuansa berbeda.
Sementara suara satwa menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut bukan sekadar jalur yang menghubungkan kaki gunung dengan puncak. Rangkong dan siamang menjadi sebagian penghuni alam yang dapat ditemui atau didengar di kawasan hutan.
“Bukan hanya mengejar puncak, jalur ini memberikan pengalaman menikmati hutan yang benar-benar masih alami,” kata Mulazmi.
Kalimat itu seperti menggambarkan wajah lain pendakian Kerinci melalui Solok Selatan. Puncak memang menjadi tujuan, tetapi hutan adalah perjalanan yang sesungguhnya.
Guide Bukan Sekadar Penunjuk Jalan
Di tengah rapatnya vegetasi, perjalanan menuju Kerinci bukanlah petualangan yang ideal dilakukan tanpa pengetahuan medan.
Javian Dery Kurniawan, pemandu lokal, menjelaskan bahwa jalur hutan dapat berubah seiring waktu. Vegetasi yang tumbuh cepat bahkan dapat membuat lintasan kembali tertutup jika jarang dilalui.
Karena itu, guide memiliki peran jauh lebih besar daripada sekadar menunjukkan arah.
Mereka membantu membaca medan, menentukan tempo perjalanan, mengenali sumber air, memantau kondisi jalur dan memberikan informasi mengenai kawasan serta habitat satwa yang dilalui. Disinilah catatan 30 jam perlu ditempatkan secara proporsional.
Keberhasilan Beyond Run bukan berarti jalur Kerinci dari Solok Selatan dapat ditaklukkan dengan tergesa-gesa. Sebaliknya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa dengan kondisi fisik yang memadai, persiapan, pengalaman, perlengkapan yang tepat, navigasi dan pendampingan yang baik, sebuah perjalanan panjang dapat dilakukan secara terukur. Gunung tetap memiliki aturan sendiri.
