BREAKING NEWS
    2,233 view

    Siaga TBC, Gubernur Mahyeldi Kebut Eliminasi TBC di Sumbar

    Waktu Baca: 3 menit
    Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menghadiri Konferensi Kerja PDPI ke-XVIII di The ZHM Premiere Hotel Padang, Jumat (18/9/2026). (Foto: (ADPSB Pemprov Sumbar)

    Padang, AyoSumbar.id – Siaga TBC di Sumatera Barat terus diperluas untuk mempercepat penemuan, pencegahan, dan pengobatan tuberkulosis (TBC), yang masih menyisakan sekitar 15.192 kasus berdasarkan data 2026. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyampaikan hal itu saat menghadiri Konferensi Kerja (Kongker) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) ke-XVIII di The ZHM Premiere Hotel Padang, Jumat (18/9/2026).

    Mahyeldi menegaskan, pengendalian TBC membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah, nagari, desa, kelurahan, fasilitas kesehatan, organisasi profesi, hingga masyarakat perlu bergerak bersama.

    “Penanggulangan TBC tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan. Kita membutuhkan gerakan bersama seluruh komponen masyarakat,” ujar Mahyeldi.

    Menurut dia, persoalan TBC memiliki dampak yang lebih luas daripada aspek medis. Penyakit tersebut juga berkaitan dengan kemanusiaan, kondisi sosial, ekonomi, serta pembangunan.

    Pemprov Sumbar telah memperkuat kebijakan penanggulangan TBC melalui pembentukan tim percepatan penanggulangan TBC dan penyusunan Rencana Aksi Daerah. Pemerintah provinsi juga menerbitkan Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Tuberkulosis yang telah diintegrasikan ke dalam RPJMD Provinsi Sumatera Barat.

    Penemuan Kasus Masih Menjadi Tantangan

    Mahyeldi mengungkapkan, penemuan kasus TBC di Sumbar masih menghadapi kesenjangan. Berdasarkan data 2026, estimasi kasus TBC mencapai sekitar 24.525 kasus.

    Dari estimasi tersebut, sekitar 9.330 kasus atau 38 persen telah ditemukan dan mendapatkan pengobatan. Sementara itu, sekitar 15.192 kasus masih menjadi pekerjaan bersama.

    “Kita tidak boleh hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Kita harus semakin aktif menemukan kasus di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

    Untuk mengejar kesenjangan tersebut, pemerintah mendorong penemuan kasus secara aktif, screening, investigasi kontak, diagnosis secara cepat dan tepat, serta pengobatan sampai tuntas. Terapi pencegahan TBC juga menjadi bagian dari upaya yang diperkuat.

    Strategi itu dijalankan dengan memperluas gerakan Nagari, Desa, dan Kelurahan Siaga TBC. Pendekatan berbasis wilayah tersebut diharapkan membuat upaya pencegahan dan penemuan kasus lebih dekat dengan masyarakat.

    Baru 20,5 Persen Desa dan Kelurahan

    Data per 19 Juli 2026 menunjukkan sebanyak 264 desa/kelurahan Siaga TBC telah terbentuk di Sumatera Barat. Jumlah tersebut setara sekitar 20,5 persen dari total 1.287 desa/kelurahan yang ada di provinsi tersebut.

    Mahyeldi menyebut pembentukan 264 desa/kelurahan Siaga TBC sebagai perkembangan positif. Namun, cakupan itu masih perlu diperluas agar pencegahan dan penemuan kasus dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

    “Bagi kita, 20,5 persen belum cukup. Target kita harus jauh lebih besar,” katanya.

    Ia meminta pemerintah kabupaten dan kota mempercepat pembentukan Siaga TBC sekaligus memastikan gerakan tersebut berjalan aktif. Peran kader masyarakat dinilai penting dalam mendukung pelaksanaan program di tingkat wilayah.

    Kader diharapkan mampu mengenali gejala TBC dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Mereka juga diharapkan mendampingi keluarga pasien, mendorong pemeriksaan kontak serumah, serta membantu memastikan pasien menyelesaikan pengobatan hingga sembuh.

    Mahyeldi Soroti Peran PDPI

    Konferensi Kerja PDPI ke-XVIII yang mengusung tema “Expanding Horizons in Every Breath” turut mendapat apresiasi dari Mahyeldi. Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi tantangan kesehatan respirasi, terutama TBC.

    Kolaborasi itu mencakup organisasi profesi, pemerintah, fasilitas kesehatan, perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan. PDPI dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung pemerintah melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan penguatan jejaring layanan TBC.

    Peran tersebut juga mencakup penanganan TBC resisten obat, penemuan dan pelacakan kasus, edukasi masyarakat, serta penguatan terapi pencegahan TBC.

    “Dengan dukungan PDPI dan jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, kita berharap upaya-upaya ini dapat mempercepat langkah menuju Sumatera Barat bebas TB,” ujar Mahyeldi.

    Notifikasi Kasus Nasional Meningkat

    Wakil Menteri Kesehatan RI Dr. Benjamin Paulus Octavianus menyebut penanggulangan TBC menjadi salah satu agenda penting pemerintah. Ia menyampaikan capaian notifikasi kasus TBC secara nasional meningkat dari 48 persen pada 2020 menjadi sekitar 80 persen pada 2025.

    Untuk Sumatera Barat, capaian notifikasi kasus berada di kisaran 62 persen. Angka tersebut, menurut Benjamin, masih perlu ditingkatkan melalui penguatan penemuan dan penanganan kasus.

    Perluasan Siaga TBC di tingkat nagari, desa, dan kelurahan menjadi bagian dari upaya Sumatera Barat untuk mendekatkan pencegahan serta penemuan kasus kepada masyarakat. (*)

    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of Aris Prima Gunawan
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Penulis
    Avatar of Aris Prima Gunawan
    Aris Prima Gunawan
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *