BREAKING NEWS
    17,864 view

    Diskusi di Unand, Dirjen Dikti Tekankan 4 Pilar Transformasi Pendidikan Tinggi

    Waktu Baca: 4 menit
    Dirjen Dikti Ristek, Prof. Khairul Munadi, menyampaikan visi baru kebijakan pendidikan tinggi nasional saat diskusi di UNAND, Sabtu (12/4/2025). (Foto: Humas UNAND)

    Padang, AyoSumbar.id – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dirjen Dikti Ristek), Prof. Khairul Munadi, kunjungan kerja di Universitas Andalas (Unand), Sabtu (12/4/2025).

    Ia menyampaikan visi baru kebijakan pendidikan tinggi nasional, dalam diskusi strategis bertajuk “Isu Strategis Pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia” di Unand itu.

    Dalam forum tersebut, Dirjen Dikti juga menekankan penguatan empat pilar utama pendidikan tinggi sebagai landasan strategis kementerian ke depan.

    Empat pilar yang ditekankan meliputi akses, mutu, relevansi, dan dampak. Pilar dampak menjadi penambahan signifikan yang menurut Prof. Khairul bertujuan agar pengembangan pendidikan tinggi dilakukan secara lebih sistemik dan terukur, menjawab tuntutan zaman dan kebutuhan pembangunan nasional yang semakin kompleks.

    “Pilar dampak kami tambahkan agar pengembangan pendidikan tinggi dilakukan secara lebih sistemik dan teratur. Ini menjadi jawaban atas tuntutan zaman dan kebutuhan pembangunan nasional yang semakin kompleks,” ungkapnya.

    Unand, sebagai kampus tertua di luar Pulau Jawa, mendapat apresiasi khusus atas perannya sebagai simbol kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia bagian barat dan kontribusinya dalam melahirkan intelektual bangsa serta memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai agen perubahan.

    Dalam waktu dekat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tengah merumuskan Rencana Strategis (Renstra) baru. Dirjen Dikti memastikan bahwa Renstra tersebut akan berfokus pada tiga agenda utama, yakni penguatan kelembagaan dan otonomi, riset dan inovasi yang berdampak, serta sains dan teknologi untuk transformasi sosial-ekonomi berkelanjutan.

    Mengenai otonomi, Prof. Khairul menekankan pentingnya penguatan tata kelola kampus bagi seluruh bentuk perguruan tinggi negeri (PTNBH, BLU, dan Satker). Otonomi, menurutnya, bukan hanya kebebasan tetapi juga tanggung jawab untuk membangun institusi yang akuntabel, adaptif, dan inovatif.

    Fleksibilitas dalam tata kelola program akademik, pemanfaatan aset, dan penggalangan dana dinilai krusial untuk perkembangan kampus. Untuk riset, Dirjen Dikti menegaskan perlunya transformasi hasil penelitian menjadi solusi terapan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat, melampaui sekadar publikasi.

    Sementara itu, peran sains dan teknologi ditekankan dalam mendorong transformasi sosial-ekologis dan ekonomi secara integratif, terutama dalam menghadapi isu krisis iklim, disrupsi digital, dan ketimpangan sosial.

    Khairul juga meluruskan polemik terkait persepsi publik terhadap PTNBH yang sering disamakan dengan entitas bisnis. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab negara tetap melekat pada PTNBH, dan misi utamanya adalah pendidikan.

    “Selama ada huruf ‘N’ di PTNBH, artinya tanggung jawab negara tetap melekat. Kita bukan entitas profit-oriented,” tegasnya.

    Ia juga menyinggung perlunya regulasi yang mendukung skema pembiayaan kreatif bagi PTNBH, termasuk pinjaman institusional dari mitra strategis. Pemerintah saat ini tengah menyiapkan regulasi turunan untuk memfasilitasi akses legal terhadap pinjaman tersebut.

    Langkah diversifikasi pendanaan yang mulai dikembangkan Unand, seperti optimalisasi aset, penguatan dana abadi, dan keterlibatan publik, diapresiasi sebagai contoh positif.

    Konsep visioner “kampus berdampak” menjadi salah satu poin penting yang disampaikan Dirjen Dikti. Kampus berdampak adalah perguruan tinggi yang aktif berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan sosial, ekonomi, dan ekologi di berbagai tingkatan. Unand dinilai telah menunjukkan arah menuju paradigma ini, dan best practices-nya diharapkan dapat menjadi contoh nasional.

    “Kalau manusia didorong untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin, maka kampus pun seharusnya begitu—bermanfaat bagi seluruh makhluk, lintas skala lokal, nasional, dan global,” ujarnya penuh semangat.

    Konsep ini akan menjadi agenda kampanye kementerian untuk menunjukkan kontribusi nyata perguruan tinggi kepada publik. Sinergi antara kampus dan pemerintah daerah dalam meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) di wilayah tertinggal seperti Mentawai menjadi salah satu contoh konkret yang diangkat.

    Menutup diskusi, Dirjen Dikti menyampaikan keyakinannya bahwa Unand dan perguruan tinggi lainnya di Indonesia akan memainkan peran sentral dalam mewujudkan visi Indonesia 2045. Ia berharap konsep kampus berdampak dapat diimplementasikan menjadi program nyata yang relevan dengan kebutuhan lokal namun juga berkontribusi secara global.

    “Kami ingin Indonesia bukan hanya konsumen kebijakan global, tapi juga produsen solusi dunia melalui pendidikan tinggi,” pungkasnya.

    Diskusi strategis ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif antara Dirjen Dikti, Rektor Unand, serta jajaran pimpinan dan anggota senat akademik Unand yang hadir, menunjukkan antusiasme dan komitmen untuk bersama-sama mewujudkan arah baru pendidikan tinggi nasional yang lebih berdampak dan relevan. (*)


    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of TimAS
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Penulis
    Avatar of TimAS
    TimAS
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *