BREAKING NEWS
    39,011 view

    Monumen de Greve: Jejak Megah Kejayaan Ekonomi Ranah Minang yang Hilang

    Waktu Baca: 5 menit
    Jejak monumen de Greave yang berada tepat di depan Kantor Bank Indonesia (sekarang cagar budaya) di dekat Jembatan Siti Nurbaya, Muaro Padang. (Foto: NMVW)

    Monumen de Greve merupakan sebuah simbol monumental yang tak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah kolonial di Sumatera Barat. Letaknya dahulu berada di kawasan pusat Kota Padang, dan keberadaannya menjadi representasi kuat dari jejak Belanda di Padang.

    DIBANGUN pada tahun 1880, monumen ini diabadikan untuk mengenang Willem Hendrik de Greve, seorang insinyur pertambangan Belanda yang berjasa besar dalam eksplorasi batubara di wilayah Ombilin, Sawahlunto.

    Sebagai salah satu peninggalan penting dari masa penjajahan, Monumen de Greve bukan hanya sebuah bangunan fisik, namun juga sebuah tapal batas antara kepentingan kolonial dan semangat nasionalisme yang muncul kemudian.

    Keberadaan monumen ini seolah menjadi pintu masuk dalam memahami sejarah Monumen de Greve di Padang, serta bagaimana narasi sejarah dapat memiliki dua wajah yang saling bertentangan.

    Penemuan yang Mengubah Arah Ekonomi

    Sosok Willem Hendrik de Greve
    Willem Hendrik de Greve penemu cadangan tambang batubara Ombilin. (Foto: Het Vaderland, 30/10/1872)

    Willem Hendrik de Greve dikenal luas berkat kontribusinya dalam menemukan cadangan tambang batubara Ombilin di dataran tinggi Sumatera Barat.

    Dalam laporan penelitiannya tahun 1871 yang berjudul Het Ombilien-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het Transportstelsel op Sumatra’s Westkust, ia memaparkan potensi luar biasa dari batubara Ombilin, sekaligus mengusulkan sistem transportasi untuk mengangkut hasil tambang tersebut menuju pesisir barat Sumatra.

    Laporan de Greve menjadi pemicu utama dimulainya ekspedisi eksplorasi yang lebih besar dan sistematis. Beberapa tahun kemudian, wilayah tambang mulai dibuka, mengawali masa baru dalam sejarah ekonomi kolonial.

    Tambang batubara Ombilin pun menjadi salah satu sumber energi utama Belanda, bahkan berkontribusi besar dalam menggerakkan mesin-mesin industri dan kapal uap kolonial.

    Melalui eksplorasi itu, tak hanya keuntungan ekonomi yang diperoleh pemerintah kolonial, tetapi juga dominasi atas sumber daya dan tenaga kerja lokal. Maka tak mengherankan bila Belanda kemudian mengabadikan jasa de Greve dalam bentuk sebuah monumen prestisius.

    Arsitektur dan Nilai Simbolik Monumen de Greve

    Monumen de Greve bukan sekadar tugu biasa. Ia dirancang dengan gaya arsitektur khas Eropa abad ke-19 oleh L.F.A. Benoist di Den Haag, Belanda. Material utama penyusunnya terdiri dari marmer Carrara yang terkenal mewah serta batu biru alami Escauzijnse steen dari Belgia.

    Dengan tinggi enam meter dan lebar dua meter, monumen ini menjulang sebagai penanda penting dalam lanskap kota kolonial Padang. Detail arsitekturnya memperlihatkan keseriusan dalam pemaknaan.

    Terdapat panil marmer berinskripsi dengan ukiran timbul dan simbol pertambangan seperti palu dan beliung yang disilangkan—ikon yang dikenal sebagai Glück Auf di kalangan pekerja tambang Eropa.

    Di sekeliling inskripsi terdapat lambang keluarga, ukiran tanaman Ivy, serta obor yang tergantung di sisi kanan dan kiri monumen, menambah kesan monumental dan sakral.

    Penempatan Monumen de Greve juga tidak sembarangan. Lokasinya berada di depan kantor gubernur Sumatra’s Westkust, sebuah titik strategis yang menjadikan monumen ini sebagai alat komunikasi kekuasaan.

    Avatar of Putri Maharani
    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of Putri Maharani
    Putri Maharani
    Penulis
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *