BREAKING NEWS
    13,958 view

    Sawah Pokok Murah: Upaya Walhi dan KPA Winalsa Dorong Masyarakat Majukan Pertanian Berkelanjutan

    Waktu Baca: 3 menit
    Walhi Sumbar berkolaborasi dengan KPA Winalsa, serta para penyuluh pertanian lokal membekali pelatihan, pendidikan dan metode tanam sawah pokok murah kepada Gapoktan di Sekretariat KPA Winalsa di Lubuk Gadang Selatan, Nagari Lubuk Gadang. (Foto: TimAS)

    Solok Selatan,Ayosumbar.id – Di tengah tantangan pertanian modern yang kian bergantung pada pupuk kimia mahal dan metode yang kurang ramah lingkungan, sebuah inovasi segar muncul dari Kabupaten Solok Selatan.

    Program Sawah Pokok Murah (SPM) menjadi jawaban atas kebutuhan pertanian yang efisien, hemat biaya, sekaligus menjaga kelestarian alam dan meningkatkan hasil panen padi.

    Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat, berkolaborasi dengan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Winalsa, serta para penyuluh pertanian lokal membekali pelatihan, pendidikan dan metode tanam sawah pokok murah kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Sekretariat KPA Winalsa di Lubuk Gadang Selatan, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir.

    Mereka memperkenalkan metode bertani inovatif bernama Mulsa Tanpa Olah Tanah (M-TOT), yang mengandalkan pemanfaatan jerami panen sebagai pupuk organik alami, menggantikan pupuk kimia yang selama ini menjadi beban petani.

    Menurut Wengki Purwanto, Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, ketergantungan petani pada pupuk kimia bukan hanya membebani secara finansial, tapi juga berisiko merusak struktur tanah dalam jangka panjang.

    “Pemerintah mensubsidi pupuk kimia 1.500 ton pertahun, meski di subsidi biaya yang akan dikeluarkan petani sebesar Rp27 miliar untuk pertanian modern. Ini belum solusi yang berkelanjutan,” jelas Wengki, Rabu (23/7/2025).

    Dia menjelaskan, inovasi Sawah Pokok Murah membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan dan hemat biaya bukan sekadar impian, melainkan sebuah kenyataan yang lahir dari kerja sama, inovasi lokal, dan semangat gotong royong di Solok Selatan.

    Program SPM bukan sekadar teknik bertani murah, melainkan sebuah gerakan sosial-ekologis yang bertujuan membangun kesadaran dan kemandirian petani. Hendri Syarif, Ketua KPA Winalsa, menegaskan bahwa pendekatan ini lebih dari sekadar pendampingan.

    “Kami hadir bukan sebagai pembina, tapi sebagai mitra yang berjalan bersama petani untuk menerapkan sistem yang dapat mereka jalankan sendiri, modal kecil, hasil optimal, dan lingkungan tetap terjaga,” ujarnya.

    Praktik langsung metode ini dilakukan melalui pondok belajar pangan yang dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat. Di lahan seluas setengah hektare, para petani menerapkan cara bertani tanpa mengolah tanah dan tanpa menggunakan pupuk kimia, namun tetap memperoleh hasil yang menguntungkan.

    Kepala Divisi Wilayah Pengelolaan Rakyat Walhi Nasional, menyatakan bahwa metode ini merupakan bagian dari Akademi Ekologi Walhi, Uslaili mengatakan, sebuah program yang memberi ruang bagi petani belajar, bereksperimen, dan beradaptasi dengan teknik pertanian rendah biaya yang sesuai dengan kondisi lokal.

    “Kami ingin petani menggunakan benih asli daerah dan menyesuaikan pola tanam dengan ekosistem setempat agar pertanian makin lestari,” terang Uslaini.

    Sementara itu, Koordinator Penyuluh Kecamatan Sangir, Bahwanudin Batubara, menyambut baik perubahan yang terjadi. Dari total 11.500 hektare lahan sawah di Solok Selatan, sekitar 41 hektare mulai kembali produktif berkat penerapan sistem SPM.

    “Biaya produksi yang rendah membuat petani lebih semangat mengelola lahan. Kami berharap lebih banyak sawah terbangkitkan sehingga ketahanan pangan lokal semakin terjaga,” pungkas Bahwanudin. (*)

    Avatar of Arditono
    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of Arditono
    Arditono
    Penulis
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *