AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
11,466 view

Batagak Kudo-kudo dan Katumbak di Padang Pariaman jadi Warisan Budaya Indonesia

Foto yang menangkap momentum penting terkait isu Batagak Kudo-kudo,Katumbak di Padang Pariaman.
Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, bersama kepala daerah lainnya di Sumbar saat menerima sertifikat WBTbI dari Kemenbud yang diserahkan Gubernur Sumbar, Mahyeldi, Selasa (5/8/2025). (Foto: Prokopim Setdakab Padang Pariaman)

Padang Pariaman, AyoSumbar.id – Batagak Kudo-kudo dan Katumbak di Padang Pariaman resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI), menandai pencapaian monumental bagi masyarakat Kabupaten Padang Pariaman.

Tradisi adat ini, bersama dengan kesenian Katumbak di Padang Pariaman, diakui oleh Kementerian Kebudayaan RI sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya nasional yang patut dilestarikan.

Penetapan dua tradisi khas Minangkabau tersebut diumumkan dalam sebuah seremoni resmi di Auditorium Gubernuran Sumbar, kemarin. Dalam momen tersebut, Gubernur Sumbar, Mahyeldi, menyerahkan sertifikat WBTbI secara simbolis kepada Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis (JKA).

“Warisan budaya seperti Batagak Kudo-kudo dan Katumbak adalah jati diri masyarakat Padang Pariaman. Ini bukan sekadar ritual atau hiburan, melainkan nilai-nilai hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar JKA.

Batagak Kudo-kudo merupakan prosesi adat yang dilakukan saat menegakkan kerangka utama (kuda-kuda) bangunan rumah gadang atau surau. Di balik pekerjaan konstruksi itu, tersimpan makna filosofis yang dalam: kuda-kuda yang tegak berdiri menjadi lambang kekuatan, keteguhan, dan kebersamaan masyarakat.

Tradisi ini dilaksanakan secara bergotong royong oleh warga setempat, menjadikannya peristiwa sosial yang sarat dengan semangat solidaritas dan partisipasi kolektif.

“Tradisi ini bukan hanya soal mendirikan bangunan fisik, tetapi juga membangun rasa kebersamaan yang kuat antarwarga. Semangat gotong royong yang terkandung di dalamnya adalah esensi dari budaya kita,” tambah JKA.

Di sisi lain, Katumbak menjadi simbol kekayaan musikal Padang Pariaman yang berakar dari akulturasi budaya Minangkabau, Melayu, India, dan dangdut. Musik ini biasa dimainkan dalam berbagai kegiatan adat, pertunjukan seni tradisional, hingga festival budaya.

Katumbak tampil dengan alat musik khas seperti rabunian (harmonium), gandang katumbak (gendang dua muka), mambo (gendang satu muka), dan giriang-giriang (tambourin kecil). Ensambel ini tidak hanya menyajikan keunikan ritmis, tapi juga menjadi wadah pelestarian nilai budaya.

“Potensi Katumbak sangat besar untuk dikembangkan ke ranah seni kontemporer bahkan industri kreatif. Ini bisa menjadi media pemberdayaan ekonomi dan seni bagi generasi muda,” ucap JKA optimistis.

Dengan pengakuan ini, Kabupaten Padang Pariaman semakin mengukuhkan diri sebagai sentra budaya Minangkabau yang masih hidup dan terus berkembang. Status WBTbI memberikan peluang lebih luas untuk mendokumentasikan, mengedukasi, serta mempromosikan kekayaan budaya lokal ke tingkat nasional hingga global.

Pemerintah daerah berkomitmen mendorong pelestarian tradisi melalui pembinaan komunitas seni, pelatihan generasi muda, dan penguatan regulasi perlindungan budaya.

“Ini adalah warisan yang harus terus dijaga, tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga seluruh elemen masyarakat. Karena tanpa keterlibatan publik, warisan ini bisa saja memudar,” tutup JKA. (*)

Avatar of Putri Maharani
Avatar of Arditono
Putri Maharani
Penulis
Arditono
Editor
Exit mobile version