Cerita Ika Dian Wahyu Sari yang Nekad Menerobos Banjir Bandang di Arosuka Solok
Ika Dian Wahyu Sari, nekad menerobos banjir bandang (galodo) yang menerjang Arosuka, Kabupaten Solok pada Senin (21/9/2026) malam. Tak satu orangpun yang bisa menghalangi tekadnya itu. Sebab, ada kecemasan yang lebih besar yang mendorong hati Ika.
Malam baru saja turun ketika teriakan warga memecah suasana Arosuka, Kabupaten Solok. Hujan masih turun ketika kabar tentang galodo atau banjir bandang di Arosuka menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Di tengah kepanikan itu, Ika Dian Wahyu Sari sedang dalam perjalanan pulang bersama suaminya.
Ika baru saja meninggalkan rumah orang tuanya yang sedang sakit. Ia dan suaminya sebelumnya menghadiri acara mendoa di rumah tersebut. Namun, perjalanan pulang berubah menjadi kecemasan ketika mereka mendengar kabar galodo yang menerjang Arosuka.
Pikiran Ika langsung tertuju kepada tiga anaknya. Naila yang berusia 16 tahun, Saren berusia 12 tahun, dan Akira yang masih berusia 9 tahun sedang berada di rumah. Tidak ada yang lebih ia pikirkan malam itu selain memastikan ketiganya selamat.
Belum jauh perjalanan ditempuh, Ika melihat warga berteriak dan berlari berhamburan. Suasana yang sebelumnya biasa mendadak berubah menjadi kepanikan. Ia semakin cemas karena tidak mengetahui kondisi anak-anaknya.
Situasi semakin sulit karena listrik padam. Jaringan Wi-Fi di rumah juga otomatis terputus sehingga tidak ada komunikasi yang dapat digunakan. Ika dan suaminya pun bergegas menuju rumah untuk memastikan keadaan ketiga anak mereka.
Namun, perjalanan mereka segera dihentikan warga. Mereka diminta tidak melanjutkan perjalanan karena rumah Ika berada tidak jauh dari kawasan yang diterjang galodo di Solok. Larangan tersebut justru membuat kecemasan Ika semakin besar.
Sebagai seorang ibu, Ika tidak sanggup hanya menunggu kabar. Tiga anaknya berada di rumah ketika bencana datang. Ia merasa harus melihat sendiri keadaan mereka, meskipun perjalanan menuju rumah sangat berbahaya.
Ika dan suaminya kemudian menuju sekolah SMK tempatnya mengajar. Mereka mencari kendaraan yang dapat digunakan untuk menerobos perjalanan menuju rumah. Motor milik satpam sekolah akhirnya dipinjam untuk perjalanan tersebut.
Namun, warga kembali menghadang mereka. Beberapa orang bahkan sempat memegang dan menahan Ika agar tidak melanjutkan perjalanan. Mereka khawatir Ika dan suaminya justru menjadi korban karena kondisi kawasan masih berbahaya.
Ika tetap bersikeras untuk pergi. Ketakutan terhadap keselamatan anak-anaknya membuat ia tidak mau menyerah. “Sekalipun harus mati di sana, saya harus ke sana,” ujar Ika saat menceritakan kembali kejadian tersebut.
“Saya berontak saat ditahan. Saya memohon kepada Allah agar dipertemukan kembali dengan anak-anak saya,” kenangnya. Setelah berhasil meyakinkan warga, Ika dan suaminya akhirnya melanjutkan perjalanan. Motor perlahan bergerak menembus kondisi jalan yang masih dipenuhi material galodo.
Potongan kayu dan bongkahan batu berserakan di sepanjang perjalanan. Lumpur dan air juga menutup sebagian badan jalan. Motor yang mereka kendarai bahkan nyaris terjatuh ketika harus menghindari material yang terbawa arus.
“Saya dan suami terus berjalan. Tidak ada pilihan lain bagi kami selain memastikan sendiri keadaan ketiga anak kami,” ucap Ika.
Batu, Kayu, dan Lumpur di Halaman Rumah
Sesampainya di rumah, langkah Ika seketika terhenti. Halaman rumah yang sebelumnya ia kenal berubah menjadi hamparan material galodo. Batu, potongan kayu, lumpur, dan air memenuhi kawasan sekitar rumah.
Ika dan suaminya sempat terdiam. Keduanya melihat kondisi rumah sambil menahan kecemasan yang sejak perjalanan terus menghantui pikiran. Namun, mereka tidak punya waktu untuk berlama-lama di luar.
Keduanya perlahan bergerak menuju pintu belakang rumah. Ika kemudian memanggil nama anak-anaknya satu per satu. Suaranya terdengar di tengah suasana malam yang masih mencekam.
“Naila…”
“Saren…”
“Akira…”
Beberapa detik terasa begitu panjang. Ika Dian Wahyu Sari menunggu jawaban dengan perasaan yang bercampur antara takut dan berharap. Kemudian, suara dari dalam rumah terdengar menjawab panggilannya.
Anak-anaknya masih ada di dalam rumah. Seketika kecemasan yang sejak tadi memenuhi dada berubah menjadi kelegaan. Ika Dian Wahyu Sari dan suaminya langsung memeluk ketiga anak mereka.
Malam itu, ketiga anak tersebut ternyata masih selamat. Tidak satu pun dari mereka mengalami luka. Tangis dan pelukan menjadi penutup dari perjalanan yang sejak awal dipenuhi ketakutan.
Tiga Anak Bertahan di Tengah Galodo
Sebelum galodo datang, ketiga anak Ika menjalani malam seperti biasanya. Naila yang berusia 16 tahun sedang belajar untuk menghadapi ujian sekolah. Saren, 12 tahun, sibuk menyelesaikan tugas, sedangkan Akira yang berusia 9 tahun sudah tertidur.
Tidak seorang pun menyangka malam itu akan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Ketika orang tua mereka sedang berada di rumah nenek, galodo menerjang kawasan Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Ketiga anak tersebut akhirnya harus menghadapi situasi itu tanpa didampingi orang tua.
Listrik di kawasan tersebut padam. Komunikasi juga terputus sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi dengan orang tuanya. Dalam kondisi tersebut, ketiganya hanya bisa bertahan di dalam rumah.
Di luar rumah, suasana berubah menjadi kepanikan. Warga berusaha menyelamatkan diri dari ancaman banjir bandang di Solok yang membawa material tanah dan bebatuan. Sementara di dalam rumah, tiga bersaudara itu menunggu tanpa mengetahui kapan keadaan akan kembali aman.
Pada saat yang sama, ibu mereka sedang berusaha menerobos berbagai halangan untuk kembali kepada mereka. Ika tahu perjalanan tersebut berbahaya. Namun, ia merasa harus memastikan sendiri keselamatan anak-anaknya.
Ika kemudian menyadari satu hal yang membuat rasa syukurnya semakin besar. Ketiga anaknya tetap berada di dalam rumah ketika galodo menerjang kawasan tersebut. Keputusan mereka bertahan di rumah ternyata membuat ketiganya tetap selamat.
“Kalau mereka keluar dari rumah, tidak terbayang apa yang akan terjadi,” ujar Ika Dian Wahyu Sari.
Naluri Seorang Ibu di Tengah Gelap
Bencana sering kali memperlihatkan betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam. Air bah, batu, kayu, lumpur, dan gelapnya malam membuat perjalanan Ika menuju rumah menjadi sangat berisiko. Namun, bagi Ika, malam itu bukan semata-mata tentang keberanian.
Ada naluri seorang ibu yang membuatnya terus bergerak. Ketika saluran komunikasi terputus dan kabar bencana hanya terdengar melalui teriakan warga, Ika tidak memiliki banyak pilihan. Ia hanya ingin memastikan tiga buah hatinya masih selamat.
Ika tahu perjalanan itu berbahaya. Ia juga memahami alasan warga berusaha menghentikannya. Namun, bayangan tentang tiga anak yang sendirian di rumah membuat rasa takutnya seolah tidak lagi memiliki tempat.
Malam Senin (21/9/2026), menjadi bagian yang tidak akan mudah dilupakan keluarga tersebut. Di tengah galodo yang menerjang Arosuka, sebuah keluarga akhirnya dipertemukan kembali setelah melewati ketakutan yang panjang. Pertemuan itu terjadi setelah seorang ibu menerobos jalan yang dipenuhi lumpur, batu, dan kayu.
Di antara gelapnya malam dan material galodo, tersimpan kisah tentang seorang ibu yang tidak mau berhenti sebelum mendengar sendiri suara anak-anaknya. Ia tidak mencari kepastian melalui kabar orang lain. Ia memilih datang dan memastikan keselamatan tiga buah hatinya dengan mata kepala sendiri.
Bagi Ika, perjalanan malam itu bukan sekadar perjalanan pulang. Itu adalah perjalanan seorang ibu menuju anak-anaknya di tengah ancaman bencana. Dan perjalanan tersebut baru benar-benar berakhir ketika tiga suara dari dalam rumah menjawab panggilannya. (*)
