AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
17,059 view

Harga Emas yang Terus Naik Buat Kaget Para Bako, Mungkinkah Amplop jadi Alternatif?

Laporan foto: bagaimana Harga Emas yang Terus Naik,babako berubah dalam beberapa waktu terakhir?
Ilustrasi tradisi babako di Minangkabau yang mendapat Rekor Muri. Tradisi ini dilakukan saat pernikahan anak dari saudara laki-laki para wanita di Minangkabau. (Foto: Rekor Muri)

Padang Pariaman, AyoSumbar.id – Harga emas yang terus naik menjadi perbincangan para bako (keluarga pihak ayah bagi anak-anak di Minangkabau). Hal itulah yang terlihat di tempat di Kabupaten Padang Pariaman.

Publik mungkin selama ini hanya memandang “uang hilang” (uang japuik) yang menjadi tradisi masyarakat Piaman (mencakup masyarakat Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman).

Tradisi uang japuik, kerap dipandang hanya menguntungkan pihak laki-laki. Tak banyak orang yang tahu kentalnya peran pihak keluarga laki-laki di Piaman. Salah satunya lewat tradisi babako.

Babako adalah tradisi gotong royong di Minangkabau yang dijalankan pihak keluarga ayah dari si anak. Tradisi ini dilaksanakan saat si anak menikah.

Informasi yang dikumpulkan AyoSumbar, di Padang Pariaman babako tidak saja terjadi di momen pernikahan si anak. Banyak kegiatan budaya dan tradisi lokalnya yang melibatkan sang bako.

Makanya, manjalang (menemui) bako aktivitas yang masih sangat kental di Ranah Saiyo Sakato ini. Apa saja acara yang mereka lakukan, bako selalu disertakan.

Jadi, apa hubungannya dengan harga emas yang terus naik?

Dominan bako di Padang Pariaman ini menjadi emas sebagai simbol hadiah untuk “anak pisangnya” (anak dari saudara laki-laki). Khususnya saat si “anak pisang” menikah atau syukuran setelah beberapa bulan kelahirannya.

Pasca Lebaran ini, pernikahan banyak berlangsung di Padang Pariaman. Nah, di momen toko emas akan terlihat lebih ramai. Kebanyakan orang datang untuk membeli emas. Meskipun harga emas sedang tinggi-tingginya.

Dalam teori ekonomi mungkin tindakan ini terlihat bertentangan. Namun tidak bagi para bako di Padang Pariaman. Sebab tidak hanya mamak, keberadaan bako pun penting dalam tradisi pernikahan di Minangkabau.

Murniati (46), salah seorang wanita yang berkenan diajak berbicang oleh AyoSumbar, Minggu (20/4/2025). Ia mengaku sedikit panik dengan harga emas yang terus naik. Sebab, “anak pisangnya” akan menikah dua minggu lagi.

“Ekonomi sekarang yang terasa makin sulit, memang buat kaget juga harga emas yang terus naik. Terakhir saya tanya di Pasar Pauah Kamba harganya Rp4,6 juta per satu emas (emas 24 karat dengan berat 2,5 gram, Red),” ucapnya sembari tersenyum.

Namun, baginya memberi emas kepada “anak pisangnya” sebagai kado pernikahan adalah keharusan. “Malulah kalau tidak kasih emas. Kalau kita kasih amplop, apa bedanya kita dengan tamu undangan. Bako itu sama dengan ibu bagi mereka (si anak pisang),” ungkapnya.

Menurutnya, memberi emas sebagai hadiah pernikahan dan kelahiran anak kebanggaan tersendiri bagi seorang bako. “Makanya, seorang bako itu pasti mereka selalu menabung untuk persiapan. Kan mereka tahu, anak kakak atau adiknya akan menikah atau akan lahir,” jelasnya.

Baginya, tradisi babako di Minangkabau, khususnya Padang Pariaman sangatlah baik untuk dipertahankan. “Ini bukan soal uang. Kadang orang memandang adat dan tradisi di Piaman dari sisi finansial saja. Contohnya uang jamputan atau yang disebut orang uang hilang,” jelasnya.

Menurutnya, sudut pandang laki-laki di Piaman dibeli karena uang japuik sangat salah dipahami oleh publik luar Piaman. “Umumnya, tradisi di Piaman ini bersifat gotong royong. Makanya, nilai gotong royong yang ada di Piaman ini tiada duanya,” cermat Murniati.

“Begitupun dengan babako. Jangan sampai ibu dari ”anak pisang” kita mangapiang janjang (menggadaikan tanah warisan) karena pernikahan si anak. Tidak mungkin kita baca semua peran bako itu,” sambung tersenyum lagi.

Maka dari itu, sambungnya, dapat dilihat bagaimana tradisi gotong royong di Padang Pariaman membuat semua menjadi mudah. Bahkan dalam hal membangun rumah pun tidaklah sulit.

“Selagi anak-anak di Piaman ini memiliki bako, tidak akan ada anak “anak pisang” mereka yang tidur di tanah. Apalagi kelaparan. Jadi, semua di Minangkabau ini memiliki peran. Mulai dari mamak sampai ke bako,” hematnya.

Jadi, ia mengungkapkan kebanggaannya karena menjadi orang Piaman. Sebab, menurutnya tradisi Minangkabau yang menjadi terasa sangat kental di Piaman ini, karena mampu memperkuat sistem kekerabatan masyarakatnya.

“Banyak kan di sini tradisi yang memperkuat kekerabatan kita. Ada malamang, sambareh, makan gulai baga, bajamba, dan lainnya. Lihat betapa berbondong-bondongnya kita di Piaman ini melaksanakan itu. Dari yang muda sampai yang tua,” tukasnya. (*)

Avatar of Putri Maharani
Avatar of Aprizal Noer
Putri Maharani
Penulis
Aprizal Noer
Editor
Exit mobile version