AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
10,444 view

Irigasi Anai Kering, Luas Tanam dan Produksi Padi Terus Menurun

Infografis terkini yang menjelaskan fenomena Irigasi Anai Kering,Irigasi Anai,irigasi di Kecamatan Sintuak Toboh Gadang dengan detail.
Irigasi Anai yang melintasi Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, tampak tidak dialiri air atau kering. Berdasarkan keterangan masyarakat sekitar irigasi, kondisi itu sudah berlangsung sangat lama. (Foto: TimAS)

Padang Pariaman, AyoSumbar.id – Irigasi Anai kering karena tidak dialiri air hingga kini. Kondisi itu menyebabkan keresahan yang mendalam di kalangan petani. Misalnya di Kecamatan Sintuak Toboh Gadang (Sintoga).

Kondisi keringnya irigasi di Kecamatan Sintuak Toboh Gadang yang telah berlangsung cukup lama ini membuat petani terpaksa mengubah pola tanam mereka demi bertahan hidup.

Minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir memperparah keadaan. Petani yang biasanya mengandalkan Irigasi Anai untuk mengairi sawah, kini beralih menanam jagung karena ketidakpastian ketersediaan air.

“Sampai kapan Irigasi Anai ini dibiarkan kering? Ini bukan kejadian baru, tapi terus berulang,” keluh Erman (47), petani di Sintoga. Ia menyebutkan, sawah-sawah di sekitarnya kini didominasi tanaman jagung karena tak ada pilihan lain.

Menurutnya, kekeringan Irigasi Anai tidak hanya memukul petani di Sintoga, tetapi juga di Kecamatan Nansabaris dan Ulakan Tapakih. Ia menyindir kebijakan pemerintah soal ketahanan pangan yang justru tidak sejalan dengan kondisi di lapangan.

“Katanya ketahanan pangan, tapi air untuk sawah saja tidak ada. Ini seperti menyuruh ikan hidup di darat,” sindirnya tajam.

Keluhan serupa disampaikan Heri (40), petani lainnya. Ia menilai, suara petani seperti tak digubris oleh pemerintah. “Jangan salahkan kalau masyarakat kehilangan kepercayaan. Sudah berkali-kali kami suarakan, tapi tetap tidak ada tindakan nyata,” ungkapnya.

Heri menekankan bahwa air adalah kebutuhan mendasar bagi petani. “Kalau infrastrukturnya buruk, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau air pun sulit, apa kami harus siram sawah pakai ember dari sumur?” tanyanya retoris.

Menurutnya, banyak petani memilih menanam jagung karena menanam padi tanpa jaminan air terlalu berisiko. Namun, ia menyayangkan hal itu karena jagung bukan makanan pokok di Sumatera Barat. “Tidak ada orang sini yang makan jagung tiap hari. Tetap nasi, kan?” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa menanam padi memberikan keuntungan lebih dalam jangka panjang. “Padi bisa dijadikan stok beras untuk kebutuhan rumah tangga. Kalau jagung? Selain bukan makanan utama, harga jualnya juga fluktuatif, tergantung perusahaan penampung,” jelas Heri.

Ia berharap pemerintah daerah tidak lagi menunda penyelesaian masalah ini dan segera mengupayakan perbaikan pasokan air ke Irigasi Anai. “Kalau pemerintah anggap ketahanan pangan bukan soal beras, ya kami rakyat biasa hanya bisa angguk saja. Mereka kan pintar,” ucapnya kecewa.

Data Luas Tanam dan Produksi Padi

Kekeringan Irigasi Anai turut berdampak langsung terhadap penurunan luas tanam dan produksi padi di Padang Pariaman. Berdasarkan data Padang Pariaman Dalam Angka 2025, tren penurunan ini berlangsung dalam lima tahun terakhir.

Pada 2020, luas tanam padi tercatat 62.847,10 hektare (ha). Namun, angka itu terus menyusut:

  • 2021: 49.514,30 ha
  • 2022: 47.892,12 ha
  • 2023: 44.448,96 ha
  • 2024: tinggal 40.760,32 ha

Seiring menyusutnya lahan tanam, produksi padi pun anjlok drastis. Dari 283.127,72 ton pada 2020 menjadi hanya 186.567,68 ton di tahun 2024—penurunan hampir setengahnya.

Situasi ini menuntut respons cepat dan strategis dari pemerintah. Para petani berharap ada pemulihan aliran air ke Irigasi Anai, bukan sekadar janji atau pembahasan tanpa realisasi.

Jika tidak ditangani, ancaman ketahanan pangan dan meningkatnya ketergantungan terhadap beras luar daerah tak bisa dihindari.

“Petani hanya minta satu: air. Kalau air tersedia, kami akan kembali menanam padi. Biar Sumbar tetap punya beras dari ladang sendiri,” pungkas Erman dengan harap.

Menanggapi hal ini, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Irawati Febriani, mengakui pihaknya sudah berulang kali menyampaikan masalah ini ke tingkat provinsi.

“Bukan hanya Dinas Pertanian, bahkan bupati dan Dinas PUPR juga telah mengangkat persoalan ini. Kami akan kembali bahas dengan pihak terkait,” ujarnya. (*)

Avatar of Putri Maharani
Avatar of Aprizal Noer
Putri Maharani
Penulis
Aprizal Noer
Editor
Exit mobile version