Monumen de Greve: Jejak Megah Kejayaan Ekonomi Ranah Minang yang Hilang
Monumen de Greve merupakan sebuah simbol monumental yang tak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah kolonial di Sumatera Barat. Letaknya dahulu berada di kawasan pusat Kota Padang, dan keberadaannya menjadi representasi kuat dari jejak Belanda di Padang.
DIBANGUN pada tahun 1880, monumen ini diabadikan untuk mengenang Willem Hendrik de Greve, seorang insinyur pertambangan Belanda yang berjasa besar dalam eksplorasi batubara di wilayah Ombilin, Sawahlunto.
Sebagai salah satu peninggalan penting dari masa penjajahan, Monumen de Greve bukan hanya sebuah bangunan fisik, namun juga sebuah tapal batas antara kepentingan kolonial dan semangat nasionalisme yang muncul kemudian.
Keberadaan monumen ini seolah menjadi pintu masuk dalam memahami sejarah Monumen de Greve di Padang, serta bagaimana narasi sejarah dapat memiliki dua wajah yang saling bertentangan.
Penemuan yang Mengubah Arah Ekonomi

Willem Hendrik de Greve dikenal luas berkat kontribusinya dalam menemukan cadangan tambang batubara Ombilin di dataran tinggi Sumatera Barat.
Dalam laporan penelitiannya tahun 1871 yang berjudul Het Ombilien-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het Transportstelsel op Sumatra’s Westkust, ia memaparkan potensi luar biasa dari batubara Ombilin, sekaligus mengusulkan sistem transportasi untuk mengangkut hasil tambang tersebut menuju pesisir barat Sumatra.
Laporan de Greve menjadi pemicu utama dimulainya ekspedisi eksplorasi yang lebih besar dan sistematis. Beberapa tahun kemudian, wilayah tambang mulai dibuka, mengawali masa baru dalam sejarah ekonomi kolonial.
Tambang batubara Ombilin pun menjadi salah satu sumber energi utama Belanda, bahkan berkontribusi besar dalam menggerakkan mesin-mesin industri dan kapal uap kolonial.
Melalui eksplorasi itu, tak hanya keuntungan ekonomi yang diperoleh pemerintah kolonial, tetapi juga dominasi atas sumber daya dan tenaga kerja lokal. Maka tak mengherankan bila Belanda kemudian mengabadikan jasa de Greve dalam bentuk sebuah monumen prestisius.
Arsitektur dan Nilai Simbolik Monumen de Greve
Monumen de Greve bukan sekadar tugu biasa. Ia dirancang dengan gaya arsitektur khas Eropa abad ke-19 oleh L.F.A. Benoist di Den Haag, Belanda. Material utama penyusunnya terdiri dari marmer Carrara yang terkenal mewah serta batu biru alami Escauzijnse steen dari Belgia.
Dengan tinggi enam meter dan lebar dua meter, monumen ini menjulang sebagai penanda penting dalam lanskap kota kolonial Padang. Detail arsitekturnya memperlihatkan keseriusan dalam pemaknaan.
Terdapat panil marmer berinskripsi dengan ukiran timbul dan simbol pertambangan seperti palu dan beliung yang disilangkan—ikon yang dikenal sebagai Glück Auf di kalangan pekerja tambang Eropa.
Di sekeliling inskripsi terdapat lambang keluarga, ukiran tanaman Ivy, serta obor yang tergantung di sisi kanan dan kiri monumen, menambah kesan monumental dan sakral.
Penempatan Monumen de Greve juga tidak sembarangan. Lokasinya berada di depan kantor gubernur Sumatra’s Westkust, sebuah titik strategis yang menjadikan monumen ini sebagai alat komunikasi kekuasaan.
Lapangan tempatnya berdiri bahkan diberi nama de Greveplein, dan pelabuhan di dekatnya disebut de Grevekade. Semua itu menegaskan bahwa jejak Belanda di Padang benar-benar terpatri dalam tatanan kota kolonial.
Monumen Simbol Kolonialisme atau Ilmu Pengetahuan?
Meski diakui sebagai ilmuwan dan bukan tokoh militer, keberadaan de Greve tetap tidak luput dari kritik dan penolakan, terutama setelah kemerdekaan Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat yang hidup pada masa setelah 1945, Monumen de Greve dilihat sebagai representasi kolonialisme yang perlu disingkirkan. Pandangan ini berbeda jauh dari perspektif Belanda, yang menganggapnya sebagai penghormatan kepada ilmuwan berjasa.
Perbedaan ini menggambarkan bagaimana satu objek sejarah dapat dimaknai secara berlawanan. Di satu sisi, ia adalah simbol pencapaian teknologi dan eksplorasi ilmiah. Namun di sisi lain, ia adalah lambang kehadiran asing yang menguasai dan mengeksploitasi sumber daya lokal.
Beberapa sejarawan menekankan bahwa de Greve berbeda dengan tokoh kolonial lain seperti Raaff dan Michiels, yang keduanya adalah komandan militer dalam Perang Paderi.
Sementara Raaff dan Michiels membawa senjata dan memerangi rakyat lokal, de Greve datang membawa peta dan kompas, memilih berkawan dengan bumi dan logam yang dikandungnya.
Hilangnya Monumen: Jejak yang Terhapus?
Hingga kini, tak ada sumber resmi yang menjelaskan secara pasti kapan dan mengapa Monumen de Greve dihancurkan. Sebagian menyebut peristiwa itu terjadi pada masa pendudukan Jepang sebagai bentuk euforia atas runtuhnya kekuasaan Belanda.
Namun, sebuah peta yang dipublikasikan oleh Dinas Perang Inggris pada September 1945 masih menunjukkan keberadaan monumen ini bersama dua monumen kolonial lainnya.
Kemungkinan lain adalah bahwa penghancuran terjadi secara bertahap, sebagai bagian dari kebijakan “dekolonisasi ruang publik.” Proses ini jamak terjadi di banyak negara bekas jajahan, termasuk Indonesia, di mana simbol-simbol kolonial dihapus untuk memberi tempat pada identitas nasional baru.
Meski telah hilang secara fisik, nilai historis Monumen de Greve tetap relevan untuk dikaji. Sejarah Monumen de Greve di Padang bukan hanya tentang sebuah tugu yang pernah berdiri megah, tetapi tentang narasi kekuasaan, ekonomi, dan politik identitas.
Respons Publik dan Kontroversi Sejak Awal
Pendirian Monumen de Greve sejak awal tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik. Sebagaimana dilaporkan oleh Sumatra-courant pada tahun 1880, sebagian warga Belanda di Padang menilai bahwa lokasi pendiriannya—di lapangan gantung tempat eksekusi dahulu dilakukan—kurang pantas.
Mereka khawatir monumen itu akan diasosiasikan dengan tempat ‘terkutuk’, bukan kehormatan. Usulan muncul agar monumen dipindah ke Plein van Rome (sekarang Lapangan Imam Bonjol).
Namun, pemerintah kolonial bersikukuh mempertahankan lokasi awal sebagai bagian dari simbol kekuasaan dan kontrol atas ruang kota. Perdebatan ini mencerminkan bagaimana monumen, bahkan sejak awal pendiriannya, sudah menjadi arena tarik-menarik antara simbol, makna, dan persepsi publik.
Refleksi dan Pentingnya Penelusuran Kritis
Hari ini, sebagian besar generasi muda di Padang mungkin tidak lagi mengenal keberadaan Monumen de Greve, apalagi memahami sejarah kolonial di Sumatera Barat yang melatarbelakanginya. Padahal, keberadaan monumen ini dulunya menjadi saksi bisu perubahan besar dalam lanskap sosial, politik, dan ekonomi daerah.
Sebagai peninggalan kolonial, monumen ini memang problematik. Namun, menelusuri kisahnya secara kritis dapat memperkaya pemahaman kita tentang sejarah yang kompleks.
Ia bukan sekadar artefak, tetapi juga jendela yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana ilmu pengetahuan dijadikan alat eksploitasi, dan bagaimana ruang publik bisa menjadi arena pertempuran simbolik.
Monumen de Greve mungkin telah lenyap dari pandangan, namun jejaknya masih nyata dalam sejarah kota, dan dalam narasi panjang tentang bagaimana bangsa ini membebaskan diri dari bayang-bayang kolonialisme. (*)
