AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
3,003 view

Pasar Bahulak: Oase kemanusiaan Antara Koin Batok dan Hidangan Tempo Dulu

Visualisasi yang menggambarkan kondisi aktual Pasar Bahulak.
Aktivitas warga di Pasar Bahulak, Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Sragen, tampa sangat hidup. (Foto: Mar Di via FB)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang semakin serba digital dan instan, masih ada sepotong “surga kecil” di Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Sragen. Pasar Bahulak, demikian namanya. Dari Namanya, orang akan terbayang suatu pasar yang kuno, kotor, misterius, dan tak nyaman dipandang.

TAPI, justru di Pasar Bahulak, masyarakat dapat menemukan hakikat kemanusiaan. Di sinilah, orang dapat mendapati nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar yakni: kebersamaan, toleransi, dan kehangatan interaksi antarmanusia yang dibalut dalam warisan budaya tempo dulu.

Pasar Bahulak bukan sekadar tempat bertransaksi antara pedagang dan pembeli, melainkan ruang hidup di mana orang-orang saling bertemu, tertawa, bernostalgia, dan merayakan identitas Jawanya dengan cara yang begitu otentik.

Orang dari berbagai penjuru di luar Kabupaten Sragen, berdesakan, berusaha masuk dan mendapatkan batok (tempurung kelapa) bulat. Batok bulat ini bukan sekadar wujud kreativitas masyarakat setempat, namun sarana agar dapat melakukan transaksi dengan para penjual.

Ya, batok bulat inilah yang digunakan sebagai koin pembayaran dan dihargai setara dengan uang  2.000 rupiah. Cukup murah dan meriah.

Gaya bahasa Jawa yang khas menjadi jiwa dan kekhasan utama Pasar Bahulak. Percakapan dalam Bahasa Jawa menciptakan suasana keakraban yang begitu hangat di antara pengelola, pedagang, dan pengunjung.

Setiap percakapan yang terucap dalam dialek Jawa yang lembut dan penuh kesantunan bukan sekadar aturan, melainkan wujud penghormatan terhadap akar budaya yang masih dijaga dengan penuh cinta.

Tanpa ada ujaran kebencian ataupun kata-kata kotor terdengar dalam sekian banyak orang yang berkeliling menikmati makanan yang dijajakan para penjual. Suasana pedesaan dengan hembusan angin segar di pagi hari semakin menambah kehangatan para pengunjung. Ya, angin segar pagi hari. Pasar ini hanya buka pada Minggu Legi dan Pahing (dalam kalender Jawa) antara pukul 06.00 hingga 10.00.

Para penjual di Pasar Bahulak bukanlah anti menu kekinian, namun justru menampilkan sesuatu yang berbeda dan yang belum ditemukan di tempat lain. Para penjual yang hampir semuanya perempuan mengenakan kebaya lurik, khas Jawa Tengah.

Tanpa henti, para penjual melayani permintaan pembeli yang ingin menikmati hidangan tempo dulu. Para pembeli sengaja diajak bernostalgia untuk menikmati cita rasa kampung halaman. Mulai dari jadah yang legit, sego thiwul yang gurih khas singkong, gendar pecel yang segar, gablok bakwan yang renyah, hingga bongko, sego loyah, dan sego jagung yang hangat mengenyangkan.

Tak ketinggalan minuman jadul yang melegenda seperti wedang jahe panas yang harum, jamu tradisional dalam kemasan botol, serta berbagai minuman yang dibuat secara sederhana namun penuh kehangatan. Setiap suapan dan tegukan bukan sekadar memuaskan lapar dan dahaga, melainkan membawa kenangan akan masa kecil, tradisi keluarga, serta kehidupan desa yang sederhana dan penuh keikhlasan.

Di tengah hiruk-pikuk pasar, alunan gamelan dari yang lembut hingga rancak semakin memperkaya pengalaman pengunjung. Gamelan ini bukan sekadar menjadi hiburan yang menyentuh hati sekaligus mengajak setiap orang untuk larut dalam kebersamaan yang otentik.

Tak sedikit pengunjung ikut berdendang atau menari sesuai alunan gamelan. Melalui irama gamelan dan suara para biduan, menjadikan Pasar Bahulak tidak hanya menjual barang dagangan, tetapi juga menawarkan ruang bagi masyarakat untuk merasakan kembali kehangatan identitas Jawa yang kian langka di era modern.

Bagi pengunjung yang membawa anak pun tak perlu repot. Anak-anak dapat bermain leluasa di alam terbuka sambil menikmati permainan tradisional yang semakin memperkuat kecintaan akan tradisi, kebersamaan serta merawat ingatan kolektif dengan penuh sukacita di era yang sering melupakan akar budaya lokal

Pasar Bahulak menjadi salah satu bukti bahwa tradisi dan budaya lokal bukanlah barang usang yang harus ditinggalkan, melainkan warisan hidup yang terus memberi makna bagi kehidupan.

Di tengah derasnya arus modernisasi yang sering membuat masyarakat terasing dari akar budaya sendiri, tempat ini hadir sebagai pengingat lembut bahwa menjaga bahasa Jawa, menghidupkan gamelan, merasakan cita rasa makanan jadul, dan merawat kebersamaan adalah bentuk cinta yang paling indah kepada tanah air.

Marilah kita dukung dan rawat pasar Bahulak-Bahulak lain, bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang suci di mana identitas dan nilai-nilai luhur bangsa terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi mendatang. Karena hanya dengan menjaga akar budaya, kita dapat tetap tegar berdiri sebagai bangsa yang berjiwa. (*)


Opini ini ditulis oleh Setyasih Harini, Dosen Hubungan Internasional di Universitas Slamet Riyadi Surakarta.

Avatar of Setyasih Harini
Avatar of Aris Prima Gunawan
Setyasih Harini
Penulis
Aris Prima Gunawan
Editor
Exit mobile version