AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
3,794 view

Pasien Lansia Diduga Terlantar Dua Jam di IGD RSUD Bukittinggi, Keluarga Pertanyakan Penggunaan Ambulans

Gambar yang menggambarkan inti berita IGD RSUD Bukittinggi.
Ambulans yang berada di RSUD Bukittinggi. Terdapat warga yang mempertanyaan keberadaan ambulan di RSUD itu. Hal tersebut diduga dipicu karena penelantaran anggota keluarga mereka yang merupakan pasien lansia. (Foto: A. St. Mangkuto/TimAS)

Bukittinggi, AyoSumbar.id — Seorang warga Gadut, Kabupaten Agam, Januar (54), mengeluhkan pelayanan Instalasi Gawat Darurat atau IGD RSUD Bukittinggi, Bypass Gulai Bancah.

Keluhan itu disampaikan setelah kerabatnya, Amril (68), diduga terlantar sekitar dua jam saat membutuhkan penanganan dan rujukan medis.

Januar mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Senin (8/6/2026) sore. Saat itu, Amril mengalami kecelakaan di rumah dan segera dibawa ke IGD RSUD Bukittinggi.

“Sesampainya di IGD RSUD Bukittinggi, pasien hanya mendapatkan penanganan awal berupa pemasangan perban dan pemotongan rambut di bagian belakang kepala yang mengalami luka. Setelah pemeriksaan, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain karena keterbatasan fasilitas CT Scan,” ujar Januar.

Menurut Januar, keluarga berharap pasien dapat segera diberangkatkan menggunakan ambulans yang berada di rumah sakit.

Namun, kata dia, pihak rumah sakit meminta sejumlah persyaratan administrasi dipenuhi terlebih dahulu sebelum ambulans dapat digunakan.

Akibatnya, keluarga mencari ambulans secara mandiri. Mereka kemudian mendapatkan bantuan dari Ambulans Masjid Jamiyatul Abrar, Aro Kandikia, Nagari Gadut.

“Yang kami pertanyakan adalah sisi kemanusiaannya. Jika memang ada administrasi atau biaya yang harus diselesaikan, seharusnya itu bisa dilakukan setelah pasien diantar. Keselamatan pasien mestinya menjadi prioritas,” kata Januar.

Januar menambahkan, setelah pasien tiba di rumah sakit tujuan, dokter jaga kembali mempertanyakan kelengkapan surat rujukan dari rumah sakit sebelumnya. Kondisi itu membuat proses pelayanan kembali mengalami kendala.

Menanggapi keluhan tersebut, pihak RSUD Bukittinggi menyatakan tindakan yang dilakukan sudah sesuai standar operasional prosedur atau SOP.

Bagian Humas RSUD Bukittinggi, Idola, mengatakan pasien telah diterima dan langsung mendapatkan penanganan medis di IGD RSUD Bukittinggi.

Menurut Idola, dari hasil pemeriksaan, pasien diketahui memiliki riwayat gangguan jantung sehingga membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Namun, pemeriksaan tersebut belum dapat dilakukan di RSUD Bukittinggi karena rumah sakit itu belum memiliki fasilitas CT Scan.

“Pasien sudah kami terima dan langsung ditindaklanjuti. Karena RSUD belum memiliki CT Scan, kami mengupayakan rujukan ke RSAM. Namun, proses rujukan membutuhkan waktu, sementara keluarga menginginkan pasien segera berangkat sehingga disarankan menggunakan ambulans secara mandiri,” jelas Idola.

Diketahui, RSUD Bukittinggi memiliki beberapa unit ambulans, termasuk bantuan dari Yayasan Prabowo Subianto, BRI Peduli, dan Bank Nagari.

Kasus ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara penerapan SOP dan pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien.

Dalam kondisi gawat darurat, kecepatan penanganan dan kemudahan akses transportasi medis menjadi faktor penting. Karena itu, aspek kemanusiaan diharapkan tetap menjadi pertimbangan utama tanpa mengabaikan prosedur yang berlaku. (*)

Avatar of A. St. Mangkuto
Avatar of A. St. Mangkuto
A. St. Mangkuto
Penulis
A. St. Mangkuto
Editor
Exit mobile version