AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
17,178 view

Perkuat Sistem Mitigasi Bencana Siberut, Siapkan 22 Titik Evakuasi Hadapi Megathrust

Tangkapan momen penting yang berkaitan erat dengan Sistem mitigasi bencana Siberut.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Mentawai, Lahmuddin Siregar, saat memimpin apel. Ia mengarahkan jajarannya terkait penguatan sistem mitigasi bencana di Mentawai. (Foto: BPBD Mentawai)

Mentawai, AyoSumbar.id – Sistem mitigasi bencana Siberut terus diperkuat oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai upaya menghadapi potensi gempa megathrust dan tsunami yang mengancam wilayah tersebut.

Hingga pertengahan tahun 2025, sebanyak 22 titik evakuasi telah tersedia dan tersebar di lima kecamatan prioritas di Pulau Siberut. Hal ini disampaikan Plt Kepala Pelaksana BPBD Mentawai, Lahmuddin Siregar.

22 titik tersebut, sambungnya, terdiri dari 12 Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan 10 Tempat Evakuasi Akhir (TEA). Pembagian ini mencakup tiga TES di Siberut Barat, empat di Siberut Utara, dua di Siberut Tengah, dua di Siberut Selatan, dan satu di Siberut Barat Daya.

Sementara untuk TEA, katanya tiga titik berada di Siberut Barat, empat di Siberut Utara, dan masing-masing satu titik di tiga kecamatan lainnya.

“Pemetaan ini kami lakukan agar masyarakat dapat mengakses zona aman dengan cepat saat bencana terjadi. Selain membangun infrastruktur, kami juga fokus pada edukasi masyarakat dan penataan jalur evakuasi yang jelas,” ujar Lahmuddin, Rabu (9/7/2025).

Di daerah padat seperti Muara Siberut, BPBD telah menetapkan tiga jalur utama evakuasi yang meliputi Jalan Pastoran, Jalan Maileppet, dan jalur menuju Rumah Sakit Siberut.

Ketiga jalur ini dipilih karena dinilai strategis dan mampu mendukung mobilitas warga dalam jumlah besar saat evakuasi darurat berlangsung.

Tak hanya itu, BPBD juga tengah merancang pembangunan dua TEA tambahan di Muara Sikabaluan dan Bosua sebagai bagian dari penguatan sistem mitigasi bencana Siberut jangka menengah.

Kendati proses pembangunan masih menunggu kepastian anggaran, perencanaan fisiknya sudah masuk dalam dokumen skala prioritas BPBD.

“Anggaran memang belum tersedia, tapi kami sudah menyusun desain dan rencana lokasinya. Begitu dana turun, pengerjaan bisa langsung dimulai,” tambah Lahmuddin.

Selain itu, BPBD Mentawai kini memfokuskan perbaikan jalur evakuasi darurat di belakang Puskesmas Lama. Namun, masih diperlukan penyesuaian pada kontur tanah dan perawatan rutin agar jalur tersebut memenuhi standar keselamatan nasional dalam penanganan bencana.

Lahmuddin mengakui bahwa kondisi geografis Pulau Siberut yang didominasi wilayah perbukitan dan terpencil menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, semua rencana disusun dengan mengedepankan efisiensi waktu, biaya, dan keselamatan warga sebagai prioritas utama dalam penanganan darurat.

Meskipun berbagai hambatan dihadapi, BPBD Mentawai tetap berkomitmen membentuk budaya siaga bencana di tengah masyarakat.

Program edukasi publik, pelatihan tanggap darurat, dan simulasi evakuasi rutin terus digelar agar warga semakin sadar akan risiko bencana megathrust yang mengintai kawasan tersebut.

“Target utama kami adalah memperkuat kesadaran kolektif warga terhadap potensi bencana. Dengan sistem mitigasi bencana Siberut yang kuat dan kesiapan masyarakat yang tinggi, kami optimistis Mentawai bisa lebih tangguh menghadapi situasi darurat,” pungkas Lahmuddin. (*)

Avatar of Aprizal Noer
M Afif Azari
Penulis
Aprizal Noer
Editor
Exit mobile version