AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
2,884 view

Sajadah Rindu di Balik Tembok Ma’had Al-Ikhlash

Sini azizi Santri Wati MAS Pondok Pesantren Ma'had Al-Ikhlash.

Mengenakan mukena putih yang masih kaku, saya berdiri di koridor asrama MAS Pondok Pesantren Ma’had Al-Ikhlash Simpang Empat dengan perasaan yang campur aduk. Hari-hari awal di Pasaman Barat ini terasa begitu lambat, seolah jarum jam sengaja diberatkan oleh beban rindu yang mulai menggerogoti hati. Sebagai seorang santriwati baru, langkah kaki saya masih terasa bimbang antara keinginan untuk menuntut ilmu agama yang luhur dan tarikan kuat untuk kembali ke pelukan rumah yang hangat. Di sini, segalanya berubah dalam sekejap; dari seorang gadis yang dimanja oleh kenyamanan fasilitas rumah, menjadi pejuang kemandirian di tengah riuhnya kehidupan pondok yang serba sederhana.

Pendidikan di pesantren ternyata bukan sekadar tentang menghafal bait-bait ilmu atau mendalami kitab kuning di bawah bimbingan ustadz, melainkan sebuah laboratorium mental yang menguras emosi. Saya belajar bahwa menjadi perempuan di lingkungan pesantren berarti harus siap melipat ego sedalam mungkin di dalam lemari pakaian yang sempit. Setiap sudut Ma’had Al-Ikhlash menjadi saksi bagaimana saya dan kawan-kawan seperjuangan harus mengantre panjang hanya untuk sekadar membasuh muka atau mencuci pakaian sendiri. Kesederhanaan ini awalnya terasa menyiksa, namun perlahan ia menjelma menjadi guru yang paling jujur dalam mengajarkan arti sebuah rasa syukur.

Bayangan wajah Ayah dan Ibu seringkali muncul secara tiba-tiba di sela-sela lantunan zikir setelah salat Magrib, membuat dada ini terasa sesak oleh gumpalan rindu yang tak terbendung. Saya merindukan suara Ibu yang membangunkan saya dengan lembut, bukan bunyi lonceng asrama yang nyaring memecah keheningan fajar yang dingin. Saya juga merindukan tatapan teduh Ayah yang selalu meyakinkan bahwa dunia akan baik-baik saja, sebuah kemewahan rasa yang kini hanya bisa saya titipkan lewat doa-doa panjang di atas sajadah. Kehidupan rumah yang dahulu terasa biasa saja, kini menjelma menjadi surga yang sangat saya damba di tengah hiruk-pikuk kedisiplinan santri.

Rindu pada keluarga bukan hanya soal kehadiran fisik, melainkan tentang aroma masakan di dapur dan canda tawa saudara yang tidak bisa digantikan oleh nasi katering pondok. Seringkali, saya menatap langit Simpang Empat yang mendung, membayangkan apa yang sedang dilakukan keluarga di rumah tanpa kehadiran saya di meja makan. Ada lubang kecil di hati yang sulit ditambal, bahkan oleh kebersamaan dengan teman-teman sekamar yang sudah seperti saudara sendiri. Namun, di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi seorang santriwati; bagaimana tetap berdiri tegak menuntut ilmu saat separuh jiwanya masih tertinggal di pintu rumah.

Di Ma’had Al-Ikhlash, saya diajarkan bahwa kemandirian adalah mahkota bagi seorang perempuan, dan kesederhanaan adalah perhiasannya yang paling berkilau. Hidup dengan barang-barang seadanya dan membagi ruang dengan banyak orang memaksa saya untuk memahami bahwa kebahagiaan tidak melulu soal kemewahan materi. Kami belajar berbagi sepotong roti, saling meminjamkan alat tulis, hingga saling menguatkan saat salah satu dari kami mulai terisak karena teringat rumah. Pendidikan karakter seperti ini tidak akan pernah ditemukan di sekolah umum manapun, karena pesantren membentuk mentalitas pejuang yang tahan banting terhadap kerasnya kehidupan.

Setiap bait doa yang saya panjatkan di bawah atap pondok ini selalu terselip permohonan agar Allah menjaga orang-orang tercinta di rumah selagi saya berjihad mencari rida-Nya. Rasa kangen ini sebenarnya adalah cambuk yang mengingatkan saya bahwa ada harapan besar yang dititipkan Ayah dan Ibu di pundak saya yang masih rapuh ini. Jika saya menyerah hanya karena rindu, maka saya telah mengkhianati air mata keberangkatan yang mereka teteskan saat melepas saya di gerbang pesantren. Oleh karena itu, setiap rasa sepi yang datang menyerang harus saya ubah menjadi energi positif untuk lebih tekun membolak-balik lembaran kitab.

Dinamika pendidikan di pesantren memang unik, karena ia menyatukan aspek intelektual dengan spiritualitas yang mendalam dalam satu tarikan napas. Kami tidak hanya diajarkan cara pintar membaca teks, tetapi juga diajarkan bagaimana “membaca” diri sendiri melalui tirakat dan kesabaran dalam menghadapi keterbatasan. Menjadi santriwati di Simpang Empat ini membuat saya sadar bahwa perempuan yang kuat bukan lahir dari kemudahan, melainkan dari tempaan rindu dan kesederhanaan yang konsisten. Kehidupan yang serba diatur jadwal ketat ini justru memberi kemerdekaan bagi jiwa untuk tidak melulu bergantung pada kesenangan duniawi yang semu.

Terkadang, saat duduk di teras kelas sambil memandang halaman sekolah yang mulai ramai oleh aktivitas kawan-kawan, saya merenungi betapa beruntungnya menjadi bagian dari komunitas pencari ilmu ini. Meskipun hati ini masih sering “pulang” ke rumah tanpa izin, saya tahu bahwa proses pendewasaan ini adalah investasi tak ternilai untuk masa depan saya kelak. Kesederhanaan fasilitas di Ma’had Al-Ikhlash bukanlah penghalang, melainkan jembatan yang menghubungkan saya dengan realitas kehidupan yang sebenarnya di masyarakat nanti. Saya belajar bahwa rumah sejatinya bukan hanya sebuah bangunan, melainkan tempat di mana hati kita merasa tenang dan bermanfaat bagi sesama.

Pengalaman pertama masuk pesantren ini akan selalu saya kenang sebagai masa transisi yang paling emosional sekaligus paling indah dalam hidup saya. Air mata rindu yang seringkali jatuh tanpa diundang itu kini saya anggap sebagai “air wudu” bagi jiwa agar tetap bersih dan fokus pada tujuan awal. Saya mulai mencintai suara gemericik air wudu di pagi buta, suara serak ustadz saat memberi nasihat, hingga suasana tenang di ruang-ruang kelas yang penuh dengan semangat belajar. Semua itu perlahan menjadi penawar rindu yang efektif, mengisi kekosongan hati yang selama ini merindukan kehangatan pelukan keluarga di rumah.

Pada akhirnya, saya, Sini Azizi, menyadari bahwa menjadi santriwati adalah tentang berani merantaukan hati demi menjemput cahaya ilmu yang dijanjikan Tuhan. Rindu kepada Ayah, Ibu, dan keluarga tetap ada dan tidak akan pernah hilang, namun ia kini telah memiliki tempat yang lebih mulia dalam bentuk motivasi belajar yang tinggi. Ma’had Al-Ikhlash Simpang Empat bukan lagi sekadar tempat singgah, melainkan rumah kedua tempat saya menempa diri menjadi perempuan yang tangguh dan berakhlak mulia. Biarlah rindu ini tetap bersemi, karena ia adalah bukti bahwa cinta saya kepada keluarga tetap abadi, meski kini dipisahkan oleh tembok pesantren demi cita-cita yang lebih tinggi. (*)

Avatar of Saipen Kasri
Avatar of TimAS
Saipen Kasri
Penulis
TimAS
Editor
Exit mobile version