AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
8,890 view

SPM Berhasil, Produksi Sawah di Agam 2025 Melonjak 23,34 Persen

Potret suasana dari peristiwa yang berhubungan dengan Produksi sawah di Agam 2025,produksi beras di Agam,sawah pokok murah,SPM di Agam.
Salah satu kawasan perwasahan di Kabupaten Agam yang tampak subur. Penerapan program sawah pokok murah oleh Bupati Agam, Benni Warlis, berhasil meningkatkan hasil panen sawah di Agam. (Foto: Diskominfo Agam)

Agam, AyoSumbar.id – Baru di bulan September, produksi sawah di Agam 2025 meningkat signifikan berkat penerapan Program Sawah Pokok Murah (SPM) yang digagas Bupati Agam, Benni Warlis. Berdasarkan catatan Dinas Pertanian, produktivitas panen naik 23,34 persen dibanding metode konvensional.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Armelia, menyampaikan peningkatan ini terjadi karena dukungan pemerintah daerah bersama masyarakat. Mereka mengoptimalkan lahan sawah dengan dana desa serta swadaya petani.

Hingga 21 September, tercatat 36 lokasi sawah berhasil dipanen. Sebanyak 27 lokasi memakai dana desa dan 9 lokasi hasil swadaya, dengan total luas 31,90 hektar. Produksi sawah di Agam 2025 melalui SPM mencapai 216,76 ton, sedangkan metode konvensional hanya 175,74 ton.

Dari jumlah tersebut, 31 lokasi menunjukkan peningkatan hasil, 1 lokasi tetap sama, dan 4 lokasi menurun. Armelia menjelaskan, penurunan dipicu pola tanam tidak serentak, serangan hama burung, irigasi terbatas karena kemarau, serta gangguan pada fase generatif akibat musim kering.

Rata-rata produktivitas padi melalui SPM mencapai 6,80 ton per hektar. Sebelumnya, metode konvensional hanya sekitar 5,51 ton per hektar. Dengan demikian, produksi sawah di Agam terbukti meningkat tajam hingga 23,34 persen.

Armelia menegaskan, program ini dirancang untuk mendorong kemandirian pangan sekaligus menjaga stabilitas produksi beras di Agam. Ia menyebut hasil panen tetap menggembirakan meski musim kemarau panjang.

Selain meningkatkan produksi sawah di Agam 2025, metode SPM mampu menekan biaya operasional, mempercepat masa tanam, serta memperbaiki kualitas panen. Sistem ini lebih efisien karena petani tidak perlu membajak tanah, umur pindah tanam lebih singkat, dan bibit lebih sedikit per lubang.

SPM di Agam juga membantu mengatasi hama keong mas pada fase awal tanam. Anakan padi tumbuh lebih optimal karena serangan hama dapat ditekan. Jerami berfungsi sebagai mulsa yang menjaga kelembaban tanah, menghemat air, dan menjadi pupuk kompos.

Keunggulan lain SPM antara lain mengurangi polusi udara karena jerami tidak dibakar, menekan pertumbuhan gulma, serta menghemat tenaga kerja. Produksi sawah di Agam 2025 makin adaptif terhadap iklim, terutama saat musim kering, berkat sistem jarak tanam yang membuat fotosintesis lebih optimal.

Armelia menegaskan pemerintah daerah akan memperluas penerapan SPM agar lebih banyak nagari merasakan manfaat. Ia berharap program ini memperkuat posisi Agam sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sumatera Barat.

Petani pun menyambut baik SPM. Mereka merasa terbantu dengan dukungan pemerintah, terutama dalam penyediaan sarana produksi dan pendampingan teknis berkelanjutan. (*)

Avatar of St Batuah
Avatar of Arditono
St Batuah
Penulis
Arditono
Editor
Exit mobile version