AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
476 view

Sulam Kapalo Samek Padang Pariaman Masuk Ruang Promosi di Amsterdam

Berita aktual: apa yang terjadi dengan Kapalo Samek hari ini?
Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Nita Christanti Azis, menyerahkan Sulam Kapalo Samek kepada Wakil Kepala Perwakilan KBRI Den Haag Mariska Dwianti Dhanutirto di Den Haag, Selasa (6/10/2026). (Foto: Diskominfo Padang Pariaman)

Den Haag, AyoSumbar.id – Sulam Kapalo Samek dari Padang Pariaman akan ditempatkan di Indonesia House Amsterdam (IHA) setelah Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Nita Christanti Azis, menyerahkan karya tersebut kepada Wakil Kepala Perwakilan KBRI Den Haag, Mariska Dwianti Dhanutirto, di Den Haag, Selasa (6/10/2026).

Penempatan di IHA memperpanjang perjalanan karya kriya Padang Pariaman di Eropa. Sebelumnya, Sulam Kapalo Samek tampil dalam Indonesia Creative Week Belgium (ICWB) 2026 di Antwerp dan Brussels, Belgia.

Langkah di Belanda diarahkan untuk memperkuat jejaring promosi sekaligus menjaga keberlanjutan karya para perajin. Kehadiran sulaman tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas diplomasi budaya serta memperkenalkan produk kriya dan UMKM Padang Pariaman di tingkat internasional.

Mariska Dwianti Dhanutirto menyambut kehadiran Sulam Kapalo Samek dan menyampaikan bahwa karya itu selanjutnya ditempatkan di Indonesia House Amsterdam.

IHA merupakan gedung milik Pemerintah Indonesia di pusat Kota Amsterdam. Tempat tersebut berfungsi sebagai pusat promosi ekonomi, perdagangan, dan budaya Indonesia di Belanda serta Eropa.

Berbagai kegiatan diplomasi dan promosi dapat berlangsung di sana, termasuk pameran budaya, peragaan busana, dan promosi produk Indonesia. Karena itu, penempatan Sulam Kapalo Samek membuat karya perajin Padang Pariaman hadir dalam salah satu ruang promosi Indonesia di Eropa.

Perjalanan karya tersebut pun tidak berhenti pada satu agenda pameran. Setelah sebelumnya tampil di Belgia, Sulam Kapalo Samek mulai memiliki jejak yang lebih permanen melalui ruang promosi Indonesia di luar negeri.

Pertemuan di Den Haag juga menyoroti keberlanjutan Sulam Kapalo Samek. Mariska menekankan tiga hal, yaitu menjaga keberlanjutan budaya, memberdayakan perempuan, dan memastikan keberpihakan kepada para perajin.

Ketiga aspek itu berkaitan dengan keberlangsungan pengetahuan tradisional, kehidupan perajin, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Nita mengatakan kehadiran Sulam Kapalo Samek di Eropa tidak sekadar membawa produk kerajinan. Karya tersebut membawa identitas, cerita, dan kekayaan budaya Padang Pariaman kepada masyarakat internasional.

Ada tiga tujuan yang ingin dicapai. Pertama, menjaga dan melestarikan budaya. Kedua, memperkenalkan serta mempromosikan produk UMKM Padang Pariaman. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan para perajin.

“Yang kami bawa bukan hanya sulaman, tetapi juga identitas dan budaya Padang Pariaman. Kami ingin warisan ini tetap hidup, dikenal lebih luas, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para perajinnya,” ujar Nita dikutip Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, pelestarian tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk dan motif tradisional. Masa depan para perajin dan ketertarikan generasi muda untuk meneruskan keterampilan tersebut juga perlu dijaga.

Pengalaman di Belgia menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Dalam ICWB 2026, sejumlah karya Sulam Kapalo Samek dikembangkan menjadi rancangan busana bersama desainer nasional Itang Yunaz.

Pendekatan desain dan fesyen itu memperlihatkan upaya membawa warisan kriya tradisional ke jangkauan pasar yang lebih luas tanpa menghilangkan karakter serta identitas budayanya.

Sebelum tampil di ICWB 2026, pada 2 Oktober 2026, Sulam Kapalo Samek telah diserahkan kepada Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia, Andy Rachmianto. Karya tersebut disiapkan menjadi bagian dari koleksi yang dipajang di KBRI Brussels.

Setelah itu, Sulam Kapalo Samek tampil dalam rangkaian ICWB 2026 di Antwerp. Dari Belgia, perjalanan karya tersebut berlanjut ke Belanda melalui penyerahan di KBRI Den Haag.

Sulam Kapalo Samek berasal dari sentra perajin di Pasia Baru, Padang Pariaman. Kriya tersebut dikerjakan dengan ketelitian tinggi dan memuat pengetahuan serta keterampilan yang diwariskan antargenerasi.

Rute perjalanannya kini membentang dari Pasia Baru menuju Jakarta, kemudian Brussels dan Antwerp di Belgia, hingga Den Haag dan Amsterdam di Belanda.

Bagi Padang Pariaman, perjalanan ini diarahkan bukan sekadar untuk meningkatkan popularitas produk di luar negeri. Pengembangan Sulam Kapalo Samek juga ditujukan agar warisan tersebut terus dikerjakan, semakin dikenal, dan memberi nilai tambah bagi perempuan serta perajin.

Langkah itu mempertemukan pelestarian budaya dengan inovasi, desain, promosi, dan diplomasi budaya. Dengan pendekatan tersebut, Sulam Kapalo Samek diharapkan tetap hidup sekaligus menjadi sumber kreativitas dan kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat. (*)

Avatar of Putri Maharani
Avatar of Aris Prima Gunawan
Putri Maharani
Penulis
Aris Prima Gunawan
Editor
Exit mobile version