AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
3,409 view

Sungai Gadiang Nostalgia Ramadhan Menyimpan Kenangan Manis yang tak Terlupakan

Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Selatan Syamsurizaldi saat menyerahkan bantuan TSR kepada pengurus Masjid di Sungai Gadiang, Kecamatan Sangir Balai Janggo. Ardi/TimAs
Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Selatan Syamsurizaldi saat menyerahkan bantuan TSR kepada pengurus Masjid di Sungai Gadiang, Kecamatan Sangir Balai Janggo. (Foto: Ardi/TimAs)

Solok Selatan, AyoSumbar.id – Safari Ramadhan bukan sekadar agenda rutin pemerintah daerah. Ia menjelma menjadi ruang temu yang sarat makna mempererat silaturahmi antara pemimpin dan masyarakat, sekaligus membuka kembali lembaran kenangan masa lalu yang penuh cerita.

Mengutip cerita dan kenangan Sekretaris Daerah Solok Selatan Syamsurizaldi, mengaku suasana itu begitu terasa saat Tim Safari Ramadhan (TSR-1) Kabupaten Solok Selatan berkunjung ke Masjid Nurul Iman, Sungai Gadiang, Nagari Sungai Kunyit Barat, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Jumat (27/02/2026) kemarin.

Di tengah rangkaian kegiatan ibadah dan dialog bersama warga, aroma nostalgia menyeruak, mengalir hangat di antara cerita-cerita lama yang kembali dikenang.

Pengurus Masjid dalam laporannya menyampaikan kisah bersejarah pembangunan masjid tersebut. Salah seorang tokoh yang turut merintis pembangunannya pada 1986, di era transmigrasi, adalah almarhum H. Bustam, ayahanda dari Bupati Solok Selatan, H. Khairunas, yang malam itu memimpin langsung TSR-1.

Nama itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan jejak pengabdian keluarga yang kini kembali menyapa kampung halaman dalam balutan kepemimpinan.

Sungai Gadiang sendiri menyimpan banyak cerita perjuangan. Sebelum ditetapkan sebagai lokasi Unit Transmigrasi PIRSUS Sungai Kunyit Tahap III pada 1985–1987, kawasan ini merupakan ladang padi dan kebun karet milik warga Lubuk Malako.

Tak heran, hingga kini masih banyak warga Lubuk Malako yang menetap di sana, mereka adalah bagian dari transmigran lokal yang membuka dan membangun wilayah ini dengan keringat serta harapan.

Kenangan masa kecil pun seakan kembali hidup singkat cerita Syamsurizaldi. Perjalanan berjalan kaki dari Lubuk Malako menuju Sungai Gadiang saat masih duduk di bangku sekolah dasar, melewati tanjakan tinggi dan jalan setapak di tengah hutan, menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah generasi masa itu. “Mananjak ka ladang” bukan sekadar aktivitas, melainkan simbol kegigihan hidup di kampung.

Salah satu momen paling membekas di hati Mantan Dosen Fakultas FISIP Universitas Andalas (Unand) Padang itu adalah saat kelas 6 SD pada 1986, berjalan kaki demi menyaksikan pertandingan tinju dunia petinju kebanggaan Indonesia, Elyas Pical. Petinju asal Saparua, Maluku itu mencatat sejarah sebagai juara dunia IBF pertama dari Indonesia.

Televisi hitam putih milik Bapak Herman Cino di Ngalau Indah menjadi pusat keramaian malam itu. Halaman rumahnya dipadati warga, suasananya bak layar tancap di bawah langit kampung. Usai pertandingan, bermalam di rumah keluarga di kawasan transmigrasi Tahap I menjadi bagian dari kisah yang tak terlupakan.

Safari Ramadhan malam itu juga mempertemukan kembali sahabat lama. Mbak Siti Robiah, teman satu sekolah di SMPN Bidar Alam (1987–1989) cerita Syamsurizaldi, hadir dan berbagi cerita tentang cucunya yang sempat dirawat di RSUD Solok Selatan dan membutuhkan rujukan ke rumah sakit di Padang karena keterbatasan ruang NICU. Pertemuan itu menjadi pengingat bahwa silaturahmi bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga saling menguatkan dalam persoalan hari ini.

Canda pun mengalir di penghujung acara. Camat Sangir Balai Janggo, H. Muslim Abas, yang juga bagian dari “angkatan lama”, berseloroh menyebut hubungan kakak-adik kelas di masa SMP, memantik tawa hangat para hadirin.

Safari Ramadhan kali ini bukan hanya perjalanan dakwah dan pelayanan, melainkan perjalanan batin menyusuri jejak sejarah, menyambung kembali tali persahabatan, dan meneguhkan bahwa masa lalu adalah akar yang menguatkan langkah hari ini. Di Sungai Gadiang, nostalgia dan kebersamaan berpadu, menjadikan Ramadhan terasa semakin bermakna begitulah cerita pria yang akrab disapa Uncu itu. (adi)

Avatar of Arditono
Avatar of TimAS
Arditono
Penulis
TimAS
Editor
Exit mobile version