BREAKING NEWS
    5,292 view

    Novrianto (Ucok) yang Mengubah Stigma Tempat Karaoke

    Waktu Baca: 4 menit
    Novrianto (dua dari kanan) bersama istrinya di kafenya pada Sabtu (13/12/2025). Saat itu, kafenya tidak beroperasional karena istrinya mengalami sakit di bagian tangan. (Foto: TimAS)

    Novrianto mengubah stigma negatif tentang tempat karaoke. Misalnya dipenuhi wanita penghibur dan narkoba. Menariknya, kafenya menyediakan tempat untuk sholat.

    KAFE milik Novrianto terletak di Kilometer 19 Jalan Bypass, Tanjuang Aua, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Tepat di belakang rumah makan Padi Boneh. Kafe ini mulai beroperasi pada pukul 21.00 Wib. Lalu, tutup pukul 13.00 Wib.

    Sabtu (13/12/2025), AyoSumbar mengunjungi kafe milik Novrianto tersebut. Jika dilihat, tepat karaoke milik pria yang akrab disapa Ucok ini, lebih mirip warung kopi. Ruangannya tak ada sekat. Hanya ruang lepas yang tersusun meja-meja di sepanjang dinding ruang kafe itu.

    Siang hari, kafe itu sudah tentu ramai dengan aktivitas Jalan Bypass Padang. Lalu, hiruk pikuk gudang dan pabrik di sekitarnya. Sedangkan malam hari, suasananya tampak sangat sunyi. Sebab, letaknya sangat jauh dari pemukiman masyarakat.

    Kendati tampak biasa saja, Novrianto tetap taat terhadap aturan Pemerintah Kota Padang. Ia tetap mengurus izin kafenya, karena ada aktivitas karaoke. “Ini izinnya. Baru saya perbaharui Januari kemarin,” ujarnya sembari memperlihatkan dokumen izin kafenya itu.

    “Saya bahkan dulu ikut juga sosialisasi Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 1 Tahun 2025. Untungnya mengurus izin ini, kita nyaman dalam menjalankan usaha. Walaupun kecil-kecilan begini,” sambungnya tersenyum.

    Taat terhadap peraturan adalah keharusan. Terlebih, profesinya sebagai jurnalis, sering berinteraksi dengan lingkungan pemerintahan. ”Saya tidak pernah memberi tahu kepada teman-teman saya keberadaan kafe ini,” ujar pria yang mengetuai Forum Wartawan Parlemen DPRD Sumatera Barat ini.

    Baginya, kafe itu tak pernah dianggap sebagai sumber mata pencarian. Namun lebih pada tempat istirahat dan hiburan. “Saya setiap malam pasti ke kafe ini untuk tidur. Sebab yang jaga kan istri saya,” ujar Novrianto sembari melihatkan tempatnya tidur di belakang speaker yang hanya beralaskan kardus.

    Novrianto menceritakan, selama membuka kafe itu ia belum tahu yang namanya untung. Sebab, ia harus menggaji orang. Lalu membayar sewa bangunan setiap minggunya sebesar Rp700 ribu. Meskipun kafe itu lebih sering tutup, karena dirinya mesti mengikuti kegiatan DPRD Sumbar ke luar daerah.

    “Kalau istri saya sendiri yang urus tentu tidak sanggup juga. Makanya, kami pekerjakan orang untuk membantu sekaligus menemani istri saya kalau saya lagi tidur. Walaupun tutup semingguan, sewa harus tetap dibayar. Jadi, dimana untung kalau gitu” katanya tersenyum.

    Bagi yang berpendidikan tinggi, sambungnya, mereka tentu memiliki modal besar untuk mencari pekerjaan. Bagaimana dengan yang tidak? Inilah yang membuat Novrianto akhirnya memutuskan mau menerima tawaran pemilik kafe sebelumnya.

    Meskipun ia tahu konsekuensinya sering mengalami kerugian, setidaknya Novrianto merasa puas bisa menjalankan usaha kecil-kecilannya itu. Sebab, ia dapat membantu menghidupi orang yang mustahil dibawanya bekerja di perusahaan media yang dikelolanya.

    “Orang banyak yang butuh pekerjaan sekarang. Terlebih yang pendidikannya rendah. Tidak mungkinkan saya bawa mereka kerja di media, yang berhadapan dengan dominan kalangan intelektual,” jelasnya.

    Tempat Hiburan, bukan Maksiat

    Sepengetahuan Novrianto, tempat karaoke adalah tempat hiburan. Untuk itu, ia selalu menolak apabila ada pelanggan yang meminta disediakan Lady Companion (LC). “Minuman saja, tidak ada selain bir Bintang biasa di sini,” katanya.

    Katanya, di tempat karaokenya itu yang berkunjung tidak saja kalangan single bahkan ada yang datang dengan istri. “Ada pelanggan kami yang suaminya minum bir, istrinya minum jus atau teh hangat. Itu sering juga mereka datang,” ungkapnya.

    Saking memperhatikan keamanan, ada pada suatu-waktu, kafenya dirazia oleh pihak kepolisian. Kapolsek yang mengenal Novrianto, kaget mengetahui Novrianto sebagai pemiliknya.

    “Ngapain abang buka kafe lagi bang. Lebih baik abang banyak-banyak istirahat. Jangan begadang lagi bag,” kenangnya mengulang ucapan Sang Kapolsek.

    Saat itu, Novrianto tak sedikitpun menunjukkan sikapnya sebagai orang yang memiliki banyak teman di kalangan pejabat. Ia malah senang mendapat perhatian dari kepolisian, sehingga keamanan kafenya lebih terjamin.

    “Bahkan, saya larang pengunjung keluar saat ada razia kepolisian. Biar tas mereka diperiksa. Kami juga tidak ingin kalau ada yang tidak-tidak di sini seperti membawa narkoba,” jelasnya.

    Tak Ingin Berprasangka Buruk

    Novrianto tak memungkiri banyak yang berpandangan miring dengan tempat karaoke. Namun, sesuai prinsipnya, tempat karaoke adalah tempat hiburan. Untuk itu, baginya tidak aneh jika disediakan tempat sholat.

    ”Memangnya tempat karaoke tidak boleh ada tempat sholat? Orang yang ke sini, juga banyak loh yang sholat. Apalagi di depan juga rumah makan,” ucapnya yang saat bersamaan dihubungi warga terdampak bencana di Padang, yang hendak dibantunya bersama Jaringan Pemred Sumbar (JPS) untuk pembangunan sumur bor.

    Ia pun mengatakan, bahwa soal ibadah dan sosial seseorang, tidak bisa dinilai oleh orang lain. Sebab, hal itu bersifat privasi. ”Kadang kita nilai orang ini jahat hanya dari bentuk muka dan cara bicaranya. Ternyata dia banyak membantu orang. Makanya, tidak pantas kita menilai orang,” cermat Anggota JPS ini.

    Novrianto berharap, dengan usaha kecilnya itu, ia bisa membantu orang semampunya. Sebab, sebagai seorang jurnalis, membantu orang sudah mandarah daging baginya. “Saya sudah tua jadi wartawan. Kita tahu suka-dukanya. Kita gencar memberitakan soal hak pekerja. Sedangkan kondisi kita memprihatinkan. Kita membela yang tertindas, tapi tak pernah mengeluh ketika ditindas,” tukasnya. (*)

    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of Arditono
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Penulis
    Avatar of Arditono
    Arditono
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *