Kisruh di Ruang KONI, Edi Busti Angkat Bicara: Tak Ada Penganiayaan
Agam, AyoSumbar.id – Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Agam, H. Edi Busti, membantah keras tuduhan penganiayaan terhadap Ketua LSM Garuda NI DPW Sumatera Barat yang juga berprofesi sebagai wartawan, Bj. Rahmat. Ia menegaskan tidak pernah melakukan pemukulan ataupun tindakan kekerasan fisik sebagaimana yang diberitakan sejumlah media.
“Saya tegaskan, tidak ada pemukulan dan tidak ada penganiayaan. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta,” ujar Edi Busti saat memberikan klarifikasi kepada wartawan melalui sambungan telepon, Sabtu (20/12/2025).
Edi Busti mengakui adanya pertemuan pada Kamis (18/12/2025) pagi di ruang Ketua KONI Kabupaten Agam. Namun menurutnya, peristiwa tersebut hanya berupa perdebatan keras akibat salah paham, tanpa disertai tindakan fisik.
“Yang terjadi hanya adu argumen. Tidak ada kekerasan fisik. Ada saksi yang melihat langsung dan bahkan menengahi, yakni Zamzami dan Sarbaini,” tegasnya.
Ia menyebut, keberadaan saksi-saksi tersebut dapat membuktikan bahwa tuduhan penganiayaan tidak pernah terjadi. Karena itu, Edi Busti menilai pemberitaan yang menyudutkannya sebagai tidak berimbang dan cenderung sepihak.
“Saya sangat menyayangkan pemberitaan yang tidak melakukan konfirmasi. Media seharusnya menjunjung asas keberimbangan dan profesionalisme,” ujarnya.
Meski demikian, Edi Busti menyatakan tetap menghormati proses hukum. Ia mengaku belum menerima pemberitahuan resmi terkait laporan yang disebut telah masuk ke Polres Agam, namun menyatakan siap bersikap kooperatif. “Jika dipanggil penyidik, saya siap hadir dan menjelaskan sesuai fakta,” katanya.
Klarifikasi tersebut disampaikan Edi Busti secara daring di TAMY Straight Cafe and Billiard, dan turut didengarkan sejumlah tokoh masyarakat Lubuk Basung, di antaranya Noveri Edios dan Marjoni.
Versi Pelapor: Mata Dicokok, Laporan Masuk Polisi
Sebelumnya, Bj. Rahmat melaporkan dugaan penganiayaan oleh Edi Busti ke Polres Agam. Dalam keterangannya, ia menyebut mengalami tindakan kekerasan berupa pencolokan mata kanan yang menyebabkan memar dan penglihatan kabur.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik, menyusul saling bantah antara kedua pihak dan masih menunggu hasil penyelidikan aparat kepolisian untuk memastikan fakta hukum yang sebenarnya.
Noveri Edios: Jangan Hakimi Sepihak, Utamakan Damai
Tokoh masyarakat Lubuk Basung, Noveri Edios, berharap polemik tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak diperkeruh oleh opini yang berkembang di ruang publik. Ia mengimbau masyarakat agar tidak menjustifikasi persoalan ini secara sepihak sebelum ada kejelasan hukum.
“Saya tidak bisa berdiri di salah satu pihak. Keduanya adalah teman dan keluarga kita di Lubuk Basung. Kalau bisa, perselisihan ini diselesaikan secara damai, dengan kepala dingin. Tidak elok jika ego diperturutkan,” ujar mantan anggota DPRD Agam periode 2019-2024 itu.
Menurutnya, penyelesaian yang mengedepankan musyawarah jauh lebih bijak agar persoalan tidak melebar dan menimbulkan kegaduhan sosial di tengah masyarakat. (*)
