BREAKING NEWS
    4,256 view

    Kesabaran dan Keteguhan Hati Seorang Ibu di Bulan Ramadhan

    Waktu Baca: 4 menit
    Ilustrasi seorang anak menangis minta dibeliin baju lebaran oleh ibunya. (Ardi/TimAS)

    Ramadhan selalu datang membawa pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan manusia. Di bulan suci ini, lapar dan dahaga bukan sekadar ujian fisik, tetapi juga pengingat bagi manusia untuk memahami arti empati, keikhlasan, dan perjuangan hidup.

    DI tengah kehidupan masyarakat sederhana, Ramadhan sering menghadirkan kisah-kisah yang sunyi. Namun penuh makna, terutama tentang sosok ibu yang memikul banyak beban tanpa keluh kesah.

    Sekitar sepekan lalu, saya menyaksikan sebuah potongan kisah kehidupan yang begitu menyentuh hati. Kisah itu terjadi di rumah sederhana milik tetangga saya. Awalnya hanya peristiwa biasa, namun terasa begitu dalam untuk direnungkan, terlebih setelah saya mendapat pesan yang nilainya mendalam bagi saya dari Bapak Efi Yandri, “Tulislah, engkau akan dikenal dunia, dan bacalah, engkau akan mengenal dunia”.

    Dari sudut pandang itu, saya berusaha untuk menuliskan kisah kehidupan nyata di masyarakat. Di rumah kecil, yang berdekatan dengan rumah saya. Seorang ibu terlihat berusaha menenangkan anaknya yang menangis. Sang anak menginginkan baju baru untuk Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah/2026.

    Permintaan itu bukan sekadar rengekan manja, melainkan harapan polos seorang anak kecil yang melihat teman-temannya mulai berbicara tentang pakaian baru untuk lebaran.

    “Mak, baju rayo awak indak ado juo…” keluh anak itu dengan suara lirih namun jelas terdengar.

    Sang ibu hanya tersenyum tipis. Ia mencubit pelan perut anaknya seolah bercanda, meski di balik senyumnya tersimpan kegelisahan. Ia tahu betul kondisi ekonomi keluarganya. Penghasilan sang suami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dari minggu ke minggu. Tidak ada tabungan, apalagi untuk membeli pakaian baru.

    Namun, ibu itu tidak menyalahkan siapa pun. Ia tidak memarahi anaknya yang sedang menyampaikan keinginan sederhana. Ia hanya memeluk anaknya dengan lembut, seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

    Keesokan harinya, dalam keadaan berpuasa, sang ibu memutuskan mencari tambahan penghasilan. Ia pergi bekerja sebagai buruh di sawah dan kebun milik orang lain, memetik jagung yang telah menguning di ladang dekat rumah saya.

    Matahari Ramadhan terasa sangat terik. Tubuhnya tampak lelah menahan dahaga, tetapi tangannya tetap bergerak memetik jagung satu per satu. Peluh menetes di dahinya, sementara kakinya terus menapak tanah ladang yang panas. Semua itu ia lakukan demi satu harapan sederhana, membawa pulang sedikit rezeki agar dapat memenuhi keinginan anaknya.

    Tanpa sepengetahuan sang ibu, anaknya ternyata mengikuti dari kejauhan. Ia melihat sendiri bagaimana ibunya bekerja keras di tengah panas, tetap sabar meski tubuh terlihat letih. Di saat orang lain mungkin memilih beristirahat saat berpuasa, ibunya justru mengorbankan tenaga demi dirinya dan anak-anaknya untuk harapan baju rayo.

    Anak itu berdiri diam cukup lama, memandangi ibunya. Saat itu ia mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan: cinta seorang ibu sering kali tidak diucapkan dengan kata-kata, tetapi ditunjukkan melalui pengorbanan.

    Setelah beberapa waktu, anak itu pulang lebih dulu ke rumah. Langkahnya pelan, hatinya dipenuhi perasaan haru. Ketika ibunya pulang dari ladang, anak itu menghampiri dengan suara lembut.

    “Mak, ndak usah bali baju rayo untuk awak,” ucapnya pelan.

    Sang ibu justru tersenyum dan menjawab dengan penuh semangat, “Iyo lah, kalau ado pitih amak, awak bali suak dih nak.”

    Ia lalu bersandar sejenak sambil membuka kain yang menutupi kepalanya dari panas sepanjang hari.

    Peristiwa sederhana ini mengajarkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Bulan suci ini juga membuka mata hati manusia untuk memahami arti pengorbanan dan kasih sayang.

    Seorang ibu yang tetap bekerja di ladang saat berpuasa adalah gambaran nyata tentang keteguhan hati dan kekuatan cinta. Ia tidak banyak berbicara tentang keikhlasan, tetapi menjalani semuanya dengan tindakan.

    Dalam peluhnya tersimpan doa. Dalam langkahnya ada harapan. Dan dalam diamnya tersimpan cinta yang begitu dalam untuk anaknya.

    Pada akhirnya, baju lebaran mungkin hanya sehelai kain yang dipakai pada hari kemenangan. Namun pelajaran tentang pengorbanan seorang ibu adalah pakaian hati yang akan dikenang sepanjang hidup.

    Ramadhan menghadirkan banyak kisah seperti ini kisah tentang kesabaran, keikhlasan, dan cinta tanpa pamrih. Karena sejatinya, kemuliaan manusia tidak selalu terlihat dari kemewahan, tetapi dari keteguhan hati dalam berkorban untuk orang yang dicintai.

    Lalu, apakah sang ibu akhirnya bisa membelikan baju raya untuk anaknya?

    Biarlah kisah itu menjadi cerita yang kita tunggu pada bagian berikutnya. (*)


    Artikel opini ini ditulis oleh Ustadz Mahadolok Ritonga.

    Avatar of Ustadz Mahadolok Ritonga
    Avatar of TimAS
    Avatar of Ustadz Mahadolok Ritonga
    Ustadz Mahadolok Ritonga
    Penulis
    Avatar of TimAS
    TimAS
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *