Ahli GIS Ungkap Kerentanan Ngarai Sianok, Perlu Mitigasi Berbasis Tata Ruang
Agam, AyoSumbar.id – Fenomena longsor yang kembali terjadi di Ngarai Sianok, Kabupaten Agam, dinilai tidak bisa dilepaskan dari tingginya tingkat kerentanan kawasan tersebut. Lereng yang curam, material batuan lepas, serta intensitas hujan yang tinggi menjadikan wilayah ini rawan longsor musiman.
Praktisi GIS Sumatera Barat, Timtim DP, menyebut kerentanan atau vulnerability Ngarai Sianok diperkuat oleh bentuk bentang alamnya yang berupa ngarai sempit dengan tebing terjal. Kondisi ini diperparah oleh minimnya infrastruktur mitigasi, seperti konservasi vegetasi dan sistem peringatan dini yang terintegrasi.
“Kerentanan kawasan ini meningkat karena belum adanya sistem peringatan dini berbasis GIS yang terhubung dengan data curah hujan dan kondisi lapangan secara real-time,” ujar Timtim DP.
Ia menekankan pentingnya pendekatan mitigasi bencana yang proaktif dan berbasis tata ruang. Salah satu langkah krusial adalah pemetaan zona rawan longsor melalui teknologi GIS yang mengintegrasikan data geologi, kemiringan lereng, jenis batuan, pola aliran air, hingga curah hujan historis.
Selain itu, pembatasan pemanfaatan lahan di zona rawan longsor dinilai sangat penting. Menurut Timtim DP, aktivitas permukiman, fasilitas publik, maupun wisata sebaiknya menjauh dari bibir ngarai, sementara kegiatan pertanian di lereng curam perlu disertai praktik konservasi tanah.
“Penanaman vegetasi berakar kuat, terasering, dan pengelolaan lahan yang tepat dapat mengurangi risiko erosi dan longsor,” jelasnya.
Timtim DP juga mendorong pengembangan sistem peringatan dini berbasis GIS dan hidrometeorologi. Sensor curah hujan, deformasi tanah, serta pemantauan debit sungai dapat diintegrasikan untuk memberikan peringatan cepat kepada masyarakat.
Menurutnya, longsor di Ngarai Sianok menjadi pengingat bahwa manajemen risiko bencana harus menggabungkan aspek hazard, exposure, dan vulnerability sebagai dasar perencanaan wilayah. Koordinasi pemerintah daerah dan peningkatan kesadaran masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menjaga keselamatan warga serta keberlanjutan ekonomi lokal. (*)
