BREAKING NEWS
    33,565 view

    Audy-Emma si Kuda Hitam?

    Waktu Baca: 4 menit
    Wagub Sumbar Audy Joinaldy dan Senator Emma Yohana. Keduanya diprediksi menjadi kuda hitam jika berpasangan di Pilgub Sumbar 2024 ini. (Foto: TimAS)

    BULAN Juli baru saja berkirab, berganti Agustus. Tiga bulan kurang menuju hari pemungutan suara Pilkada 2024 (27 November mendatang). Kentara sekali terasa Pilkada kali ini agak “dingin” dibandingkan dua Pilkada terakhir (2015 dan 2020).

    Kalau Pilkada sebelumnya, sudah mulai terasa gairahnya satu tahun sebelum hari pencoblosan (pemungutan suara) dilaksanakan. Apakah ini efek dari dilaksanakan Pilkada dalam tahun yang sama dengan Pemilu? Ataukah dinamika Pemilu 2024 yang baru saja usai, menimbulkan trauma bagi pemilih dan calon kontestan? Terutama melihat fakta “menguatnya” pragmatisme terutama “money politics”. Wallahu A’lam Bishshawab.

    Terlepas dari tanda tanya di atas dan fenomena lambatnya “memanas” mesin-psikologi massa menyambut Pilkada 2024 ini, ada hal menarik yang perlu kita cermati dan diskusikan. Khususnya kondisi mutakhir seputar Pilkada Sumbar berkaitan dengan dua faktor.

    Pertama, pasca PSU (Pemungutan Suara Ulang) DPD Sumbar. Kedua, pecah kongsinya pasangan Mahyeldi-Audy, meskipun tidak pas ini dikatakan pecah kongsi, karena komitmen kebersamaan mereka adalah saat Pilkada 2020 untuk kepemimpinan 2020-2025.

    PSU DPD memang menyisakan kejutan. Hal itu lantaran mantan terpidana korupsi IG (Irman Gusman) kembali berhak duduk di Senayan sebagai salah satu senator mewakili Sumbar, bersama tiga calon terpilih lainnya (berurut: Cerint Irreloza, Muslim Yatim, Jelita Donal).

    Kejutannya adalah petahana DPD tiga periode akhirnya tumbang, yakni Emma Yohana. Padahal, dalam Pemilu Februari 2024 -beberapa bulan lalu, Emma meraih peringkat suara kedua. Total perolehan suaranya 357.267, di bawah perolehan suara Cerint Irreloza yang menempati peringkat pertama.

    Fenomena ini tentunya layak untuk diselami dan dianalisa. Terutama bila dikaitkan dengan fakta bahwa jika dilihat dari Pemilu 2019, Emma berada di peringkat pertama dengan perolehan sangat fenomenal, yaitu 501.956 suara ketika Irman Gusman tidak ikut kontestasi. Namun, semua menjadi anjlok setelah PSU DPD menjadi hanya 122.547 suara, saat “bertarung” dengan IG –kentara sekali irisan basis konstituennya?

    Fenomena berpisahnya Audy Joinaldy dengan Mahyeldi menjadi catatan kedua yang layak untuk dibedah. Ada tiga hal yang menjadi modalitas (kekuatan) Audy secara personal, seandainya ia maju Pilkada Sumbar.

    Pertama, Audy sebagai tokoh muda kelahiran 80-an secara psikologi massa sangat layak “dimainkan” dalam timbangan ego milenial yang konon jumlah mereka dalam DPT (daftar pemilih pemilu) terakhir mendominasi lebih dari 40% (empat puluh perseratus).

    Kedua, empat tahun menjabat Wakil Gubernur Sumbar, Audy cukup melekat (popular) dalam persepsi warga sebagai akibat pergerakannya yang cukup aktif turun ke seluruh wilayah Sumbar. Ketiga, fenomena sebagai tokoh muda yang “layak” namun seperti “ dikhianati”, bisa menjadi unsur “value” marketing personalnya. Terutama dikaitkan dengan sentimen basis kohor (kelompok usia) dan basis wilayah.

    So Whats? Penulis meyakini jika dua tokoh ini dipasangkan untuk menghadang petanaha yang digadang-gadang unggul di atas kertas, yakni Mahyeldi-Vasco, akan menjadi lawan sepadan alias kuda hitam dengan beberapa catatan.

    Pertama, pasangannya adalah Audy-Emma bukan Emma-Audy, karena beberapa pertimbangan. Salah satunya meskipun dari sisi senioritas Emma jauh lebih berpengalaman dari Audy, namun karakter pemilih Sumbar yang cenderung berkarakter maskulinitas, masih menempatkan “bundo kanduang” di ruang yang eksklusif khas seperti limpapeh rumah gadang.

    Kedua, Fenomena Audy sebagai orang pertama akan mudah untuk dijual dibandingkan menjual Vasko yang memang lebih muda dari Audy. Namun, milenial yang menjadi “sopir” tentu lebih disukai psikologi massa dari pada milenial “stokar”.

    Audy yang gagah tinggi dan akrab dengan massa akan menjadi poin jualan tambahan yang menarik, meskipun di lapangan akan tetap membutuhkan strategi pas untuk packaging dan branding -alih-alih jika keliru bisa menciptakan blunder di tingkat pemilih.

    Ketiga, kekuatan Emma adalah fenoma kekuatan empiris dengan basis popularitas dan elektabilitas yang sudah teruji di empat pemilu. Meskipun, akhir-akhir ini mengalami degradasi signifikan saat PSU DPD lalu.

    Salah satu kunci Audy-Emma bisa jadi kuda hitam lainnya adalah jika memang Bapaslon (Bakal Pasangan Calon) Pilkada Sumbar berjumlah 3 pasang. Maka, suara di tingkat bawah akan terbelah nyaris tidak terlalu jomplang dihitung dari kekuatan masing-masing calon.

    Baik basis partai, basis konstituen massa mengambang, dan basis dapil (daerah pemilihan). Kenapa penulis tidak memperhitungkan pasangan ketiga? Alasanya tentu karena respon di tingkat bawah tidak terlalu baik, dan kondisi empirisnya tidak terlalu menarik.

    Fenomena Emma yang popular di pemilih perempuan adalah kekuatan yang tidak dimiliki oleh kontestan lain. Popularitasnya sebagai anggota DPD Sumbar 3 periode merata di 19 kabupaten/kota, meskipun nilai elektabilitasnya berbeda-beda.

    Popularitas adalah modal paling dasar untuk “menjual” calon kepada massa. Apalagi Emma adalah nama yang mudah diingat dan ia punya konsistensi persepsi visual di tingkat massa, dengan gambar perempuan berbaju pink-nya. Sentimen perempuan akan mudah digarap dan dimainkan.

    Kekuatan Mahyeldi dengan kader PKS yang loyal dan Vasco muda Gerindra, pendatang baru akan dapat lawan sepadan di lapangan. Persoalannya adalah, apakah Audy menyadari modalitas ini dan Emma tidak trauma kalah kontestasi PSU DPD?

    Jika Audy menyadari dan Emma masih memiliki mental tarung paripurna, maka kekuatan marketing Audy dengan target milenialnya, dan kekuatan marketing Emma dengan basis perempuannya akan bisa menciptakan “pusaran angin” di Pilkada Sumbar 2024. Besar kemungkinan hasilnya akan mengejutkan. Wallahu A’lam. (*)


    Zulnaidi, SH
    Penulis
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *