Brigadir Ramadhan, Polisi yang Menginspirasi dan Memberi Banyak Manfaat untuk Masyarakat
Di tengah kesibukan, Brigadir Ramadhan mampu memberi lebih banyak manfaat untuk masyarakat. Ia mendirikan TK hingga TPA. Melatih karateka hingga mengedukasi masyarakat merawat ternak mereka.
BRIGADIR Polisi Ramadhan, SH, salah seorang anggota Polres Padang Pariaman yang bertugas sebagai Babinkamtibmas di wilayah hukum Polsek Nan Sabaris. Ia tinggal di Korong Kalamuntuang, Nagari Tapakih, Kecamatan Ulakan Tapakih.
Di rumahnya itu, Ramadhan dan istri tercintanya, Febriani, S.Kep, membuka ruang edukasi bagi generasi di lingkungannya. Ia membentuk Taman Kanak-kanak (TK) hingga Tempat Pendidikan Agama (TPA).
Sebagai bentuk keseriusan, ia bahkan membentuk Yayasan Madhani Ramadhan Koto untuk menaungi TK yang didirikannya itu. Sehingga, edukasi berlangsung sesuai standar dan memiliki izin dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padang Pariaman.
“Saya membuka TK ini, karena melihat anak-anak di nagari (desa) ini banyak yang langsung masuk SD ketika usianya sudah mencukupi,” ujar Brigadir Ramadhan saat diwawancarai Jumat pagi (11/4/2025), di TK. A. Madhani yang didirikannya.
Suasana TK itu tampak terdengar begitu meriah. Terdapat lima orang tenaga pengajar yang mendidik 25 anak-anak di sana. “TK ini awalnya saya buat dalam bentuk les untuk anak-anak pra sekolah dasar. Jadi, tahun 2023 saya membuat akta yayasan untuk melegalkannya sebagai TK,” jelas Ramadhan.
Namun membangun lembaga pendidikan di tengah kampung bukan perkara mudah. Ramadhan dan Febriani rela berjalan dari rumah ke rumah. Mereka menyapa para orang tua, meyakinkan bahwa TK bukanlah sekadar tempat bermain, tapi fondasi masa depan anak.
“Kami tahu, kalau hanya menunggu, tak akan ada yang datang. Harus langsung temui orang tua, satu-satu,” cerita mereka.
Tak hanya itu, tantangan juga datang dari persaingan antar TK dan urusan perizinan. Beruntung, dengan kegigihannya, TK itupun berhasil terdaftar resmi di Dinas Pendidikan, bahkan dua guru mendapat insentif dari Pemkab Padang Pariaman.
“Alhamdulillah sekarang TK ini menjadi rujukan dinas untuk setiap program TK yang akan dijalankan di sini. Sebab kita benar-benar membuktikan pengelolaan TK dengan baik,” ujar polisi yang akrab disapa Amaik ini.
Membangun hingga Menggambar Sendiri
Menariknya, TK yang dibuat Brigadir Ramadhan di rumah pribadinya itu, benar-benar dikerjakannya secara mandiri. Mulai dari mengecat, membangun pondok gazebo, bahkan menghias hingga melukis gambar-gambar di dinding TK.
“Itu saya gambar sendiri. Makanya begitu hasilnya,” ujar Brigadir Ramadhan sembari tersenyum menunjuk gambar anak-anak berseragam di dinding bagian luar TK tersebut.
Begitupun dengan pondok gazebo, ia bangun untuk tempat anak-anak belajar sholat dan beristirahat anak. “Sekarang, orang tua anak banyak juga banyak yang duduk di sana saat menunggu anak-anak mereka pulang,” kata pria kelahiran Kalamuntung pada 9 Mei 1991 ini.
“Walaupun kondisi TK ini masih seadanya, alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Kita juga mendapat dukungan karena pertemanan. Baik dari kantor (Polsek dan Polres) hingga dinas dan anggota DPRD,” ungkapnya.
Bukan Bisnis, Tapi Misi

Di tengah maraknya lembaga pendidikan yang berorientasi bisnis, Ramadhan teguh pada niat awalnya, yaitu mendidik. Setiap anak hanya diedukasi menabung Rp2.000 per hari. “Dana itu akan dikembalikan saat mereka lulus,” ucapnya.
Sedangkan untuk operasional dan gaji guru, Ramadhan masih banyak mengandalkan dana pribadinya. Meski begitu, ia bersyukur atas uluran tangan dari orang tua murid yang mampu, serta dukungan dari sahabat-sahabatnya di DPRD, seperti Syafrinaldi di Fraksi PKB.
“Alhamdulillah, mobiler TK ini berkat dukungan pokok pikiran dari anggota DPRD Padang Pariaman, bapak Syafrinaldi,” katanya.
Lahirkan Anak-anak Berprestasi
Keseriusan Brigadir Ramadhan dan istri di dunia pendidikan, benar-benar membuahkan hasil manis. Sebab, anak-anak lulusan TK-nya mampu berprestasi di sekolah dasar (SD). “Anak-anak TK kita yang berprestas di SD, kita kasih apresiasi juga. Jadi mereka tetap termotivasi,” jelas Febriani.
Febriani pun menjelaskan, anak-anak lulusan TK A Madhani, tidak saja dibekali kemampuan interaksi sosial yang baik, tetapi juga memiliki ilmu dasar pendidikan dan keagamaan. “Anak-anak kita yang lulus umumnya hafal 7 hadist dan beberapa ayat-ayat pendek,” katanya.
Maka dari itu, sambungnya, SD yang ada di sekitar daerah tersebut, sangat berterima kasih kepada pihaknya, karena telah memberikan bekal yang baik untuk anak-anak selama di TK.
“Masuk SD kan tidak diwajibkan baca, tulis dan hitung lewat metode belajar sambil bermain. Tapi kita membentu anak-anak kita menggemari pelajaran ini. Jadi, mereka lebih santai saat di SD,” jelasnya.
Pagi Ramai, Sore Apalagi
Rumah Ramadhan tak ada sepinya. Jika pagi terdengar suara anak-anak yang asyik bermain, sorenya lebih ramai lagi. Sebab, mulai pukul 15.00 hingga 18.00, di sana berlangsung aktivitas mengaji.
“Alhamdulillah, ada sekitar 60 lebih anak-anak belajar mengaji di TPA kita. Itu tidak saja anak-anak di nagari ini, tetapi ada juga dari nagari tetangga,” jelas Brigadir Ramadhan.
Layaknya TK, ia pun tak memungut biaya pada anak-anak yang belajar mengaji di TPA-nya itu. Hanya saja, mereka diedukasi untuk menabung Rp1.000 sehari. “Itu kadang sering bolong juga nabungnya,” katanya sembari tersenyum.
Ramadhan memutuskan menbentuk TPA, karena tidak adanya TPA di nagari itu. Seadangkan pendidikan agama menurutnya yang paling penting ditanamkan pada anak. “Percuma berilmu kalau tidak bagus agamanya,” hematnya.
Pendidikan Atlet untuk Kemandirian
Ternyata tak hanya TK dan TPA, Ramadhan juga masih sempat membuat kelas Karate di rumahnya itu 3 kali dalam seminggu. Jumlah karateka yang diajarkannya pun mencapai 60 orang.
“Jadi atlet adalah mendidik untuk mandiri dan sportif dalam menjalani kehidupan. Selain itu, saya lihat anak-anak yang dibekali keterampilan sebagai atlet, lebih mudah dalam pendidikan dan pekerjaan nantinya,” jelas Brigadir Ramadhan.
Ia pun menceritakan, belakangan banyak anak-anak perempuan belajar karate di tempatnya. Hal ini karena viralnya peristiwa yang dialami oleh Nia Kurnia Sari, gadis penjual gorengan di Kayu Tanam.
“Sekarang anak-anak perempuan ataupun orangtua banyak yang menyadari pentingnya keterampilan untuk membela diri. Kita sangat mendukung ini,” ujar Ketua Pengcap Karate Padang Pariaman dan Sekum Pengprov Karate Sumbar ini.
Jadi, bagi Brigadir Ramadhan dan Febriani, pendidikan bukan hanya soal membaca dan menulis. Tapi soal membentuk karakter. “Kami ingin anak-anak tumbuh cerdas, agamais, dan mandiri,” tukas Ramadhan yang juga didampingi Kepala TK A Madhani, Khairunnisa Angriani Pratiwi.
Polisi, Guru, Ayah, Motivator bagi Generasi Nagari

Di mata orangtua anak, ternyata TK A Madhani bukan ruang edukasi biasa bagi anak-anak mereka. Namun lebih kepada tempat motivasi bagi anak.
“Yang mendirikan pak polisi, tentu anak-anak tertarik belajar di sini. Apalagi anak saya laki-laki. Cita-citanya tentu juga mengarah ke situ,” jelas Rika Nuri (35) salah seorang orangtua anak.
Ia juga apresiasi TK A Madhani yang mampu membawa anak-anaknya sampai masuk bandara, untuk menyaksikan langsung pesawat. “Itu sangat memotivasi anak-anak. Apalagi lihat seragam pilot yang gagah itu kan,” tukasnya.
Sedangkan wali anak lainnya, Rini Gusti (34), mengatakan bahwa pendidikan di TK A Madhani membuat anaknya lebih cakap dalam hubungan sosial.
Begitupun dalam ilmu dasar keagamaan. “Kami sangat mengapresiasi dan senang anak kami berkembang baik di sini,” ucapnya. (*)
