BREAKING NEWS
    11,746 view

    Di Tengah Amukan Alam: Cinta Bertahan Lebih Lama dari Napas

    Waktu Baca: 5 menit
    Gambar ilustrasi proses evakuasi korban bencana yang dibuat oleh penulis menggunakan teknologi kecerdasan buatan. (Ilustrasi: AI Gemini)

    Metafora psikologis dalam kisah ini dapat diibaratkan seperti akar pohon yang tetap mencengkeram tanah meski batangnya nyaris patah diterjang badai. Akar tidak pernah bertanya apakah pohon akan selamat, ia hanya melakukan tugas hingga detik terakhir.

    Pun seorang ibu, pelukannya adalah akar terakhir yang berpegang pada harapan. Harapan yang mungkin mustahil, tetapi cukup membuatnya bertahan dalam badai kematian menghantam. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, pelukan ibu adalah satu-satunya pertahanan yang tak tergoyahkan, bahkan ketika bumi bergeser.

    Para petugas yang menyaksikan mereka tentu membawa pulang kisah itu, bukan sebagai catatan statistik, tetapi sebagai kisah yang melekat di hati. Mereka mungkin terbiasa menghadapi jasad, tetapi tidak terbiasa menghadapi kasih yang membatu dalam embus terakhir napas.

    Ada sesuatu yang mengguncang jiwa ketika melihat dua tubuh yang tak terpisahkan bahkan oleh kematian. Seolah sang ibu berkata pada dunia, “jika ini kematian, biarkan pelukku melindunginya dari siksa maut.”

    Pesan yang terhampar dari kisah ini sangat jernih. Kasih sayang seorang ibu tidak memiliki garis waktu. Banyak hal dalam hidup dapat retak dan patah, tetapi cinta seorang ibu tetap utuh, bahkan ketika tubuhnya tak lagi bernapas.

    Dalam dekapan itu, terkandung pesan bahwa kemanusiaan masih memiliki pusat. Sebuah pusat yang tumbuh dari kasih sayang tanpa syarat, kasih yang sering kita abaikan dalam kehidupan yang tergesa-gesa.

    Ketika membaca kisah ini, hendaknya kita berhenti sejenak. Bukan untuk meratapi duka, tetapi untuk menyadari bahwa hidup layak dijalani dengan lebih bermakna. Bila di tengah bencana besar pun seorang ibu masih sanggup melakukan yang terbaik, lalu apa alasan kita untuk tidak berlaku baik pada hari yang tenang? Jika di tengah banjir yang mengamuk ibu masih setia memeluk, mengapa kita biarkan kasih kita menguap dalam hari-hari yang damai?

    Pada akhirnya, esai ini adalah penghormatan bagi para ibu yang menjadikan tubuhnya tameng terakhir. Dunia mungkin tak sempat menyaksikan perjuangan mereka, tetapi pelukan terakhir itu cukup sebagai pengingat bahwa dalam gelap paling pekat sekali pun, cinta ibu masih setia. Teguh, hangat, dan abadi. (*)


    Esai ini karya penulis dengan nama pena Rungo Ashta. Ia merupkan pendiri Akademi Menulis Metafora, dan Anggota FPL Pasaman Barat, siswa Sekolah Menulis elipsis, WIN Indonesia.

    Avatar of Rungo Ashta
    Avatar of Arditono
    Avatar of Rungo Ashta
    Rungo Ashta
    Penulis
    Avatar of Arditono
    Arditono
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *