BREAKING NEWS
    11,060 view

    ‎Fenomena “Sawah Luluih” di Limapuluh Kota, Praktisi GIS Ungkap Penyebab Ilmiah Tanah Amblas

    Waktu Baca: 5 menit
    Praktisi GIS Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, mengemukakan pandangannya terkait fenomena sawah yang ambruk di Nagari Situjuah Batua, sehingga menciptakan lubang besar. (Foto: A. St. Mangkuto/TimAS)

    Limapuluh Kota, AyoSumbar.id – Fenomena tanah amblas (sinkhole) yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “sawah luluih” di Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, merupakan peristiwa geologi yang dapat dijelaskan secara ilmiah melalui pendekatan risiko bencana yang mencakup bahaya (hazard), keterpaparan (exposure), dan kerentanan (vulnerability).

    ‎Timtim Deby Purnasebta, Praktisi GIS Sumatera Barat saat dihubungi via WhatsApp pada Senin (5/1/2026) mengatakan dari sudut pandang Sistem Informasi Geografis (GIS), kejadian ini bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari interaksi jangka panjang antara kondisi geologi bawah permukaan, sistem hidrologi, dan pola pemanfaatan lahan pertanian sawah.

    ‎”Secara geologi regional, Nagari Situjuah Batua berada di kaki Gunung Sago, sebuah gunung api tua di Sumatera Barat yang pada masa lalu mengalami aktivitas vulkanik eksplosif,” ujar Timtim.

    ‎Ia menjelaskan bahwa Letusan-letusan tersebut menghasilkan material piroklastik berupa abu vulkanik, lapili, dan fragmen batuapung yang kemudian mengendap luas di wilayah sekitarnya.

    ‎”Endapan vulkanik ini, setelah mengalami proses pelapukan dan pemadatan dalam skala waktu geologi, membentuk batuan tufa batuapung yang kini menyusun lapisan bawah tanah kawasan Situjuah Batua,” katanya.

    ‎Menurutnya, batuan tufa batuapung memiliki karakteristik berpori tinggi, ringan, rapuh, dan tidak kompak. Rongga-rongga mikro di dalam batuan ini membuatnya sangat mudah meloloskan air.

    ‎”Dari perspektif GIS dan geomorfologi, kawasan kaki gunung seperti Situjuah Batua memang ideal untuk pertanian karena tanahnya subur. Namun, secara geologi, sifat fisik tufa batuapung menjadikannya sangat rentan terhadap erosi bawah tanah, terutama jika terus-menerus menerima beban air dan genangan,” ujarnya.

    ‎Dijelaskannya, dalam kerangka bahaya (hazard), tanah amblas di Situjuah Batua dipicu oleh keberadaan lapisan tufa batuapung sebagai material geologi utama.

    ‎”Aktivitas persawahan yang memerlukan genangan air menyebabkan air irigasi dan air hujan meresap secara intensif ke dalam lapisan tanah. Air yang masuk ke dalam tufa batuapung meloloskan dan mengangkut butiran-butiran halus batuan tersebut ke lapisan yang lebih dalam melalui proses piping erosion atau erosi internal,” kata Timtim.

    ‎Ia menjelaskan proses ini berlangsung perlahan dan tidak terdeteksi di permukaan. Secara bertahap, terbentuk rongga bawah tanah semu, yaitu ruang kosong yang terbentuk akibat hilangnya material halus, namun tidak disangga oleh batuan keras seperti pada gua karst.

    ‎”Rongga ini bersifat tidak stabil. Ketika lapisan tanah di atasnya telah jenuh air dan daya dukungnya menurun, terjadilah kolaps mendadak yang muncul di permukaan sebagai sinkhole atau tanah amblas,” ujarnya.

    ‎Ia menambahkan bahwa keberadaan lapisan batuan yang lebih keras, seperti andesit vulkanik di bawah atau di sekitar tufa, berperan sebagai penghambat aliran air vertikal. Kondisi ini menyebabkan air dan proses erosi terfokus pada lapisan tufa di atasnya, sehingga mempercepat pembentukan rongga.

    ‎”Hal ini pula yang menjelaskan mengapa setelah amblasan terjadi, air dari dalam tanah naik dan mengisi lubang, karena sinkhole telah membuka jalur langsung ke sistem air tanah.

    ‎Lebih lanjut, dari aspek keterpaparan (exposure), lahan sawah yang berada tepat di atas endapan tufa batuapung menjadi elemen yang paling terdampak.

    ‎”Sawah tidak hanya terpapar secara fisik, tetapi juga berfungsi sebagai zona pengisian air tanah (recharge zone), sehingga intensitas interaksi antara air dan batuan rapuh menjadi sangat tinggi,” katanya.

    ‎Sementara itu, kerentanan (vulnerability) muncul dari kombinasi sifat batuan yang lemah, pola penggunaan lahan yang memerlukan genangan air terus-menerus, serta minimnya informasi geologi detail pada skala lokal.

    ‎”Bibir sinkhole yang tampak stabil sering kali sebenarnya rapuh, sehingga membahayakan petani, ternak, dan peralatan pertanian. Jika fenomena serupa terjadi lebih dekat ke permukiman atau infrastruktur, risiko dapat meningkat secara signifikan, mencakup kerusakan jalan, bangunan, dan jaringan irigasi,” ujar Praktisi GIS Sumbar.

    ‎Selain itu, Timtim mengatakan Risiko utama dari fenomena ini bukan hanya pada satu titik lubang, melainkan pada potensi amblasan susulan akibat pelebaran rongga bawah tanah. Dampak jangka panjangnya adalah hilangnya fungsi lahan sawah secara permanen, terganggunya sistem irigasi, dan penurunan produktivitas pertanian.

    ‎”Dalam konteks risiko bencana, kejadian ini merupakan indikator bahwa wilayah tersebut memiliki kerentanan geologi laten yang perlu dikelola secara serius. Upaya mitigasi tidak dapat dilakukan dengan penimbunan instan, karena berisiko memicu amblasan ulang,” katanya.

    Avatar of A. St. Mangkuto
    Avatar of Arditono
    Avatar of A. St. Mangkuto
    A. St. Mangkuto
    Penulis
    Avatar of Arditono
    Arditono
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *