AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
12,152 view

Inflasi Sumbar Juli 2025, Biaya Perawatan Pribadi dan Pendidikan Melonjak

Berita visual: bagaimana Inflasi Sumbar Juli 2025 berdampak pada masyarakat luas?
Info grafis inflasi Sumbar Juli 2025 menunjukkan terjadinya peningkatan secara month-to-month, year-to-date, ataupun year-on-year. (Grafis: BPS Sumbar)

Padang, AyoSumbar.id – Inflasi Sumbar Juli 2025 kembali menunjukkan tren kenaikan dengan laju 2,19 persen secara year on year (y-on-y). Laporan ini disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat, Sugeng Arianto, dalam keterangan resminya yang dikutip, Selasa (5/8/2025).

Kenaikan ini tidak hanya mencerminkan perubahan harga yang moderat di tingkat konsumen, tetapi juga mengindikasikan pergeseran pola konsumsi dan tekanan struktural di beberapa sektor strategis. Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Barat naik dari 106,76 pada Juli 2024 menjadi 109,10 pada Juli 2025.

“Inflasi sebesar 2,19 persen ini berasal dari tekanan harga di hampir semua kelompok pengeluaran, baik kebutuhan pokok maupun non-pokok. Tekanan terbesar datang dari sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak drastis,” jelas Sugeng.

Inflasi Sumbar Juli 2025, Tertinggi di Pasaman Barat

Dari empat daerah pemantauan IHK di Sumbar, Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,57 persen, dengan IHK 109,94. Hal ini disinyalir dipicu oleh tekanan harga komoditas pangan dan barang kebutuhan pribadi yang signifikan.

Sebaliknya, Kota Bukittinggi mencatatkan inflasi terendah sebesar 1,85 persen dengan IHK 108,50. Dua daerah lain, Kota Padang dan Kabupaten Dharmasraya, masing-masing mencatatkan inflasi sebesar 2,14 persen dan 2,09 persen.

“Tingkat inflasi Sumbar Juli 2025 antarwilayah menunjukkan adanya disparitas konsumsi dan struktur harga. Ini bisa disebabkan oleh perbedaan pasokan, distribusi logistik, dan gaya hidup masyarakat lokal,” ungkap Sugeng.

Inflasi Sumbar Juli 2025 (Year on Year)

Dari data BPS, IHK Sumbar meningkat dari 106,76 (Juli 2024) menjadi 109,10 (Juli 2025). Kenaikan ini menunjukkan bahwa selama setahun terakhir, rata-rata harga di Sumbar naik sebesar 2,19 persen.

Inflasi y-on-y Sumbar Juli 2025 didorong oleh berbagai kelompok pengeluaran. Berikut rincian sepuluh kelompok pengeluaran yang mendorong inflasi Sumbar Juli 2025 berdasarkan y-on-y terbesar:

  1. Perawatan pribadi dan jasa lainnya: naik 10,23%
  2. Pendidikan: naik 3,22%
  3. Transportasi: naik 2,33%
  4. Kesehatan: naik 2,26%
  5. Penyediaan makanan dan minuman/restoran: naik 2,36%
  6. Makanan, minuman, dan tembakau: naik 2,05%
  7. Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga: naik 1,53%
  8. Rekreasi, olahraga, dan budaya: naik 0,47%
  9. Pakaian dan alas kaki: naik 0,43%
  10. Perlengkapan rumah tangga: naik 0,45%

Yang menarik, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi sebesar 0,17 persen, terutama karena penurunan harga telepon seluler.

Inflasi Sumbar Juli 2025 (Year to Date)

Selain inflasi tahunan, Sumbar juga mencatat inflasi y-to-d. BPS melaporkan IHK Sumbar naik dari 106,90 (Desember 2024) menjadi 109,10 (Juli 2025). Artinya, sejak awal tahun hingga bulan Juli 2025, terjadi inflasi sebesar 2,06 persen.

Ini mencerminkan kondisi kumulatif tekanan harga dalam tujuh bulan pertama tahun berjalan. Kelompok yang dominan dalam inflasi Sumbar Juli 2025 secara y-to-d antara lain:

  • Makanan, minuman, dan tembakau: naik 2,64%
  • Transportasi: naik 2,46%
  • Pendidikan: naik 2,54%
  • Perawatan pribadi dan jasa lainnya: naik 7,09%

Inflasi Sumbar Juli 2025 (Month to Month)

Sementara itu, inflasi m-to-m di Sumbar pada Juli 2025, menunjukkan kenaikan harga dari Juni 2025 ke Juli 2025. Hal ini terlihat pada IHK Sumbar naik dari 108,41 ke 109,10, atau sebesar 0,64 persen. Inflasi bulanan ini dipengaruhi oleh kenaikan harga beberapa komoditas utama, terutama:

  • Bawang merah: andil 0,16%
  • Cabai merah: 0,11%
  • Jengkol: 0,08%
  • Daging ayam ras: 0,06%
  • Bimbingan belajar dan sekolah dasar: masing-masing 0,03% dan 0,02%

Namun, beberapa komoditas menyumbang deflasi m-to-m seperti:

  • Jeruk
  • Angkutan udara
  • Minyak goreng
  • Santan segar
  • Diapers bayi

Kenaikan Biaya Pendidikan Mengkhawatirkan

Khusus sektor pendidikan, laporan BPS Sumbar menunjukkan lonjakan biaya akademi dan sekolah dasar sebagai komponen terbesar inflasi pendidikan. “Pendidikan tinggi mengalami inflasi sebesar 4,48 persen. Sementara pendidikan dasar dan anak usia dini naik 2,44 persen,” katanya.

“Andil inflasi sektor pendidikan mencapai 0,14 persen, menjadikannya kelompok penyumbang inflasi terbesar ketiga setelah perawatan pribadi dan makanan,” sambungnya.

Mengapa Perawatan Pribadi Naik Tajam?

Kenaikan 10,23 persen pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya cukup mengejutkan. BPS mencatat subkelompok perawatan pribadi lainnya naik hingga 23,41 persen, dengan emas perhiasan sebagai pemicunya.

“Harga emas sangat sensitif terhadap situasi ekonomi global. Naiknya harga emas sejak kuartal kedua 2025 akibat ketidakpastian geopolitik mendorong harga emas lokal ikut melonjak,” jelas Sugeng.

Selain emas, lonjakan harga terjadi pada pasta gigi, sabun mandi, shampo, dan deodoran. Hal ini mencerminkan meningkatnya belanja rumah tangga untuk produk non-makanan, yang menjadi sinyal pulihnya konsumsi masyarakat.

“Fakta bahwa emas dan rokok menyumbang andil inflasi terbesar menunjukkan pola konsumsi masyarakat kelas menengah yang masih tinggi, sekalipun terjadi tekanan ekonomi,” jelas Sugeng. (*)

Avatar of Putri Maharani
Avatar of Arditono
Putri Maharani
Penulis
Arditono
Editor
Exit mobile version