Kemiskinan Menurun, tetapi Apakah Masyarakat Sudah Benar-benar Sejahtera?
Ketika melihat angka kemiskinan menurun, tentu kita patut bersyukur. Namun, bagi saya, penurunan angka kemiskinan tidak seharusnya membuat kita berhenti bertanya. Apakah masyarakat yang keluar dari garis kemiskinan benar-benar sudah sejahtera? Atau mereka masih berada dalam kondisi rentan dan dapat kembali miskin ketika menghadapi masalah ekonomi?
BERDASARKAN data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 turun menjadi 8,07 persen, dengan jumlah sekitar 22,93 juta orang. Angka ini menunjukkan perkembangan positif, tetapi bagi saya, 22,93 juta orang bukan sekadar angka statistik. Di balik angka tersebut terdapat keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan makanan, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan hidup lainnya.
Kemiskinan Bukan Hanya Persoalan Pendapatan
Menurut saya, kemiskinan tidak seharusnya hanya dilihat dari seberapa besar pendapatan seseorang. Kemiskinan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang memperoleh pendidikan, kesehatan, pekerjaan yang layak, tempat tinggal yang memadai, serta kesempatan untuk meningkatkan kehidupannya.
Seseorang yang baru saja berada sedikit di atas garis kemiskinan belum tentu kehidupannya sudah aman. Ketika terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok, kehilangan pekerjaan, sakit, atau mengalami bencana, kondisi ekonominya dapat kembali tertekan.
Karena itu, menurut saya, kita tidak cukup hanya bertanya “berapa banyak penduduk yang miskin?”, tetapi juga perlu bertanya “berapa banyak masyarakat yang masih rentan untuk jatuh miskin?”
Kemiskinan di Perdesaan Masih Menjadi Tantangan
Data BPS menunjukkan bahwa pada Maret 2026, tingkat kemiskinan di perdesaan Indonesia mencapai 10,67 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 6,34 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemiskinan di perdesaan masih menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.
Menurut saya, kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik ekonomi masyarakat desa. Banyak masyarakat menggantungkan pendapatan pada pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, perdagangan kecil, dan pekerjaan informal. Pendapatan dari sektor tersebut sangat dipengaruhi oleh harga, produktivitas, cuaca, biaya produksi, dan akses pasar.
Karena itu, kebijakan pengentasan kemiskinan di perdesaan tidak dapat hanya mengandalkan bantuan sosial. Bantuan memang penting, tetapi perlu disertai dengan upaya meningkatkan produktivitas dan kemampuan masyarakat untuk memperoleh pendapatan secara berkelanjutan.
Kemiskinan di Sumatera Barat
Persoalan ini juga relevan bagi Sumatera Barat. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin Sumatera Barat tercatat sebesar 5,27 persen atau sekitar 311,14 ribu orang. Namun, tingkat kemiskinan di perdesaan mencapai 6,88 persen, sementara di perkotaan sebesar 3,82 persen.
Bagi saya, angka tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi di Sumatera Barat perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap masyarakat perdesaan. Apalagi sebagian masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber penghidupan.
Meningkatkan produktivitas pertanian tentu penting. Namun, produktivitas yang meningkat belum tentu langsung meningkatkan kesejahteraan petani jika mereka masih menghadapi harga jual yang rendah, biaya produksi yang tinggi, keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar.
Jangan Hanya Mengejar Penurunan Angka Kemiskinan
Menurut saya, keberhasilan pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya diukur dari turunnya persentase penduduk miskin. Kita juga perlu melihat apakah masyarakat mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, pendapatan yang lebih stabil, pendidikan yang layak, serta akses kesehatan yang memadai.
Jika seseorang keluar dari garis kemiskinan tetapi tidak memiliki sumber pendapatan yang stabil, maka ia masih berada dalam kondisi rentan. Kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, gagal panen, sakit, atau bencana dapat membuatnya kembali mengalami kesulitan ekonomi.
Karena itu, menurut saya, pemerintah perlu melihat kemiskinan secara lebih luas, yaitu bukan hanya bagaimana mengeluarkan masyarakat dari kemiskinan, tetapi juga bagaimana mencegah mereka kembali jatuh miskin.
Dari Bantuan Menuju Kemandirian Ekonomi
Bantuan sosial tetap dibutuhkan, terutama bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Namun, bantuan sebaiknya berjalan bersama program yang dapat membangun kemandirian ekonomi.
Penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan UMKM, penguatan sektor pertanian, akses pembiayaan, teknologi, dan pasar merupakan bagian penting yang menurut saya perlu diperkuat.
Masyarakat miskin jangan hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai pelaku pembangunan ekonomi. Mereka perlu diberikan kesempatan dan kemampuan untuk meningkatkan pendapatan serta membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Kemiskinan Adalah Persoalan Manusia, Bukan Sekadar Angka
Sebagai mahasiswa Magister Ekonomi, saya melihat bahwa data kemiskinan sangat penting sebagai dasar dalam merancang kebijakan. Namun, angka statistik harus tetap dikaitkan dengan kehidupan nyata masyarakat.
Bagi saya, pembangunan yang berhasil bukan hanya pembangunan yang mampu menurunkan persentase kemiskinan, tetapi pembangunan yang mampu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan pendapatan, memenuhi kebutuhan dasar, dan menghadapi berbagai risiko ekonomi.
Pada akhirnya, kemiskinan memang dapat kita ukur melalui angka, tetapi kesejahteraan masyarakat tidak boleh berhenti pada angka. Di balik setiap angka kemiskinan terdapat manusia, keluarga, dan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. (*)
Artikel opini ini ditulis oleh Arni Lusi, Mahasiswa Magister Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas.
