Ketika Langit Menangis Deras, Donasi Rp1 Miliar untuk Bencana Sumatera Mengalir dalam Doa dan Harapan di HUT Solok Selatan ke-22
Di tengah suasana langit yang kelabu dan duka yang masih menyelimuti Sumatera akibat bencana, perayaan HUT Solok Selatan ke-22 menjadi momentum penuh makna.
TAK sekadar perayaan, HUT Solok Selatan tahun ini dirangkai dengan aksi kemanusiaan berupa penggalangan donasi sebesar Rp1 miliar. Ini bentuk kepedulian, doa, dan harapan bagi saudara-saudara yang terdampak bencana.
Semangat solidaritas dan kebersamaan pun menguat, menegaskan bahwa Solok Selatan hadir bukan hanya untuk merayakan usia, tetapi juga untuk berbagi dan menguatkan sesama.
Rabu (7/1)2026) malam. Hujan turun tanpa aba-aba di Padang Aro Pusat Kabupaten Solok Selatan. Gerimis yang perlahan berubah menjadi guyuran seakan ingin menguji, apakah perayaan HUT Solok Selatan ke-22 akan tetap berlangsung, atau semangat kebersamaan akan runtuh bersama basahnya bumi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di bawah langit kelabu, Solok Selatan membuktikan bahwa usia ke-22 bukan sekadar angka, melainkan kedewasaan dalam memaknai kemanusiaan.
Tepatnya di Ruang Terbuka Hijau Padang Aro tidak hanya dipenuhi cahaya lampu panggung, tetapi juga cahaya solidaritas. Ribuan warga berdiri berdesakan, memeluk payung, jas hujan, dan satu tekad yang sama. Hadir, bertahan, dan peduli. Hujan bukan penghalang, melainkan saksi bisu dari sebuah perayaan yang berubah menjadi aksi kemanusiaan. Di balik panggung itu terkumpul angka Rp1 Miliar.
Di spanduk dan baliho yang terpajang, Malam Peduli Bencana Sumatera. Sebuah nama yang kemudian menemukan maknanya ketika panitia mengumumkan hasil donasi, sekitar Rp1 miliar terkumpul untuk membantu korban bencana alam di berbagai daerah di Sumatera.
Tepuk tangan menggema, bercampur dengan sorak haru dan wajah-wajah yang berkaca-kaca. Mengenang saudara-saudara dari kepungan bencana. Luluh dalam sekejap, tak ada kebanggaan. Harta bahkan nyawa harus terenggut saat alam menunjukan kemarahannya.

Di atas panggung, hiburan rakyat tetap berlangsung meriah. Nama-nama seperti Pinki Prananda, Kairad KDI, Diva Aurel dari Tabola Bale, hingga Band Armada silih berganti menghidupkan suasana. Lagu-lagu dinyanyikan, tangan diangkat, dan suara ikut larut, meski hujan tak pernah benar-benar berhenti. Musik malam itu bukan sekadar hiburan, melainkan pengikat emosi, penguat rasa kebersamaan.
Namun inti perayaan ini tidak berhenti pada gemerlap panggung. Ketika Ustaz Muhammad Assad menyampaikan tabligh akbar, suasana berubah hening. Di bawah payung dan tetesan hujan, tausiyah tentang iman, empati, dan kepedulian terasa begitu dekat dengan kenyataan.
Ia mengingatkan bahwa bencana bukan hanya tentang mereka yang kehilangan rumah dan keluarga, tetapi juga tentang tanggung jawab moral mereka yang masih diberi keselamatan.
Bupati Solok Selatan, Khairunas, berdiri dengan nada suara yang sarat rasa syukur. Baginya, angka Rp1 miliar bukan sekadar capaian finansial. Itu adalah potret hidupnya nilai gotong royong yang masih mengakar kuat di tengah masyarakat Solok Selatan.
“Ini bukan soal besar kecilnya nominal, tetapi tentang persatuan dan kepedulian. Terima kasih kepada masyarakat, pelaku usaha, dan seluruh dermawan yang telah menunjukkan bahwa Solok Selatan hadir untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Malam kian larut. Hujan masih setia mengguyur Padang Aro. Namun di wajah-wajah warga yang perlahan meninggalkan lokasi, tersisa kehangatan yang sulit dijelaskan. Perayaan ulang tahun ini telah menjelma menjadi ruang berbagi, tempat doa-doa dikirimkan untuk saudara-saudara yang sedang diuji alam.
Di usia ke-22, Solok Selatan tidak hanya merayakan pertambahan tahun. Ia merayakan kemanusiaan, dengan hujan sebagai saksi, dan harapan sebagai warisan ke generasi masa depan daerah nantinya. (adi)

