Krisis Ruang Kelas SMA di Padang Panjang, 29 Siswa Terancam Sekolah ke Luar Kota
Padang Panjang, AyoSumbar.id – Persoalan keterbatasan ruang kelas SMA di Padang Panjang menjadi perhatian utama Pemerintah Kota (Pemko) Padang Panjang, dalam menghadapi dinamika Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026.
Masih adanya siswa yang belum tertampung di tahap kedua SPMB mendorong Pemko Padang Panjang untuk mengambil langkah konkret demi menjamin hak pendidikan seluruh pelajar di kota tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Padang Panjang, Nasrul, mengungkapkan bahwa salah satu upaya strategis yang dilakukan adalah dengan menyerahkan hibah lahan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Lahan tersebut, lanjutnya, direncanakan untuk pembangunan ruang kelas baru (RKB) di SMA Negeri 2 Padang Panjang. “Ini solusi jangka panjang agar daya tampung SLTA di kota kita bisa terus berkembang,” ujar Nasrul, kemarin.
Pemko Padang Panjang juga mendorong percepatan realisasi pembangunan satu RKB di SMA Negeri 1 dan dua RKB di SMA Negeri 2.
Meski terjadi efisiensi anggaran, rencana pembangunan fisik tetap diupayakan dalam perencanaan anggaran 2025 melalui sinergi intensif dengan Pemprov dan Dinas Pendidikan Sumbar.
Selain pembangunan infrastruktur, Pemkot juga sigap merespons keresahan masyarakat. Pada 8 Juli 2025, Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, menerima langsung aspirasi para orang tua siswa di rumah dinasnya.
Para orang tua itu berharap agar anak-anak tetap dapat bersekolah di Padang Panjang, tanpa harus mencari alternatif ke luar kota.
Menindaklanjuti pertemuan tersebut, Pemko Padang Panjang segera menyurati Disdik Sumbar. Isi surat tersebut mencakup permohonan penambahan satu rombongan belajar (rombel) di salah satu SMA, serta usulan peningkatan kapasitas siswa per rombel dari 36 menjadi 38 orang.
Wakil Wali Kota Padang Panjang, Allex Saputra, bersama anggota DPRD dan Kepala Disdikbud pun turun langsung bertemu Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, pada 10 Juli 2025.
Audiensi di Istana Gubernur itu menjadi wadah untuk menyampaikan data faktual dan menjajaki solusi menyeluruh atas persoalan daya tampung ini.
Berdasarkan evaluasi tahap ketiga SPMB, sebanyak 40 siswa bersaing untuk 11 kursi tersisa di SMA Negeri 3 Padang Panjang. Artinya, masih ada 29 siswa yang terancam tak memperoleh tempat di SLTA negeri.
“Kami pastikan akan terus mengawal persoalan ini hingga tuntas. Koordinasi dengan provinsi dan pihak sekolah terus kami lakukan,” tegas Nasrul.
Sebagai bentuk antisipasi jangka panjang, Pemko Padang Panjang kini juga sedang menyiapkan lahan untuk pendirian SMA Negeri 4 Padang Panjang. Langkah ini dinilai penting agar masalah serupa tidak berulang di tahun-tahun mendatang.
Komitmen Pemko Padang Panjang dalam memperjuangkan penambahan ruang kelas dan akses pendidikan yang merata menjadi bukti bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama, demi masa depan generasi muda kota berhawa sejuk itu. (*)
