AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
39,046 view

Monumen de Greve: Jejak Megah Kejayaan Ekonomi Ranah Minang yang Hilang

Infografis terkini yang menjelaskan fenomena Monumen de Greve,Sejarah Monumen de Greve di Padang,Tambang batubara Ombilin,Sejarah kolonial di Sumatera Barat,Jejak Belanda di Padang dengan detail.
Jejak monumen de Greave yang berada tepat di depan Kantor Bank Indonesia (sekarang cagar budaya) di dekat Jembatan Siti Nurbaya, Muaro Padang. (Foto: NMVW)

Lapangan tempatnya berdiri bahkan diberi nama de Greveplein, dan pelabuhan di dekatnya disebut de Grevekade. Semua itu menegaskan bahwa jejak Belanda di Padang benar-benar terpatri dalam tatanan kota kolonial.

Monumen Simbol Kolonialisme atau Ilmu Pengetahuan?

Meski diakui sebagai ilmuwan dan bukan tokoh militer, keberadaan de Greve tetap tidak luput dari kritik dan penolakan, terutama setelah kemerdekaan Indonesia.

Bagi sebagian masyarakat yang hidup pada masa setelah 1945, Monumen de Greve dilihat sebagai representasi kolonialisme yang perlu disingkirkan. Pandangan ini berbeda jauh dari perspektif Belanda, yang menganggapnya sebagai penghormatan kepada ilmuwan berjasa.

Perbedaan ini menggambarkan bagaimana satu objek sejarah dapat dimaknai secara berlawanan. Di satu sisi, ia adalah simbol pencapaian teknologi dan eksplorasi ilmiah. Namun di sisi lain, ia adalah lambang kehadiran asing yang menguasai dan mengeksploitasi sumber daya lokal.

Beberapa sejarawan menekankan bahwa de Greve berbeda dengan tokoh kolonial lain seperti Raaff dan Michiels, yang keduanya adalah komandan militer dalam Perang Paderi.

Sementara Raaff dan Michiels membawa senjata dan memerangi rakyat lokal, de Greve datang membawa peta dan kompas, memilih berkawan dengan bumi dan logam yang dikandungnya.

Hilangnya Monumen: Jejak yang Terhapus?

Hingga kini, tak ada sumber resmi yang menjelaskan secara pasti kapan dan mengapa Monumen de Greve dihancurkan. Sebagian menyebut peristiwa itu terjadi pada masa pendudukan Jepang sebagai bentuk euforia atas runtuhnya kekuasaan Belanda.

Namun, sebuah peta yang dipublikasikan oleh Dinas Perang Inggris pada September 1945 masih menunjukkan keberadaan monumen ini bersama dua monumen kolonial lainnya.

Kemungkinan lain adalah bahwa penghancuran terjadi secara bertahap, sebagai bagian dari kebijakan “dekolonisasi ruang publik.” Proses ini jamak terjadi di banyak negara bekas jajahan, termasuk Indonesia, di mana simbol-simbol kolonial dihapus untuk memberi tempat pada identitas nasional baru.

Meski telah hilang secara fisik, nilai historis Monumen de Greve tetap relevan untuk dikaji. Sejarah Monumen de Greve di Padang bukan hanya tentang sebuah tugu yang pernah berdiri megah, tetapi tentang narasi kekuasaan, ekonomi, dan politik identitas.

Respons Publik dan Kontroversi Sejak Awal

Pendirian Monumen de Greve sejak awal tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik. Sebagaimana dilaporkan oleh Sumatra-courant pada tahun 1880, sebagian warga Belanda di Padang menilai bahwa lokasi pendiriannya—di lapangan gantung tempat eksekusi dahulu dilakukan—kurang pantas.

Mereka khawatir monumen itu akan diasosiasikan dengan tempat ‘terkutuk’, bukan kehormatan. Usulan muncul agar monumen dipindah ke Plein van Rome (sekarang Lapangan Imam Bonjol).

Avatar of Putri Maharani
Avatar of Aprizal Noer
Putri Maharani
Penulis
Aprizal Noer
Editor
Exit mobile version