AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
27,769 view

Mungkinkah Audy dan Epyardi Join di Pilkada Sumbar 2024

Foto yang menangkap momentum penting terkait isu Audy dan Epyardi,Audy Joinaldi,Epyardi Asda,Pilkada Sumbar 2024.
Audy Joinaldi dan Epyardi Asda saat berbincang santai. (Foto: Instagram)

MUNGKINKAH Audy dan Epyardi join di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Sumatera Barat (Sumbar)? Yak, tidak ada yang mustahil. Politik itu dinamis. Banyak kejutan yang bisa saja terjadi di luar dugaan publik.

Makin hari makin dekat waktu Pilkada Sumbar 2024. Berbagai lagu dan cara didendangkan oleh yang punya kuasa. Terkadang antara gendang dan nyanyian tidak seirama. Sementara masyarakat seolah disuruh menikmati saja. Cuma, entah mereka lupa entah mereka tidak merasa. Semuanya kembali kepada masyarakat sebagai penentu nilainya.

Kelihatan corak penjodohan di pusat dicoba disuguhkan ke daerah Sumbar, tidak salah, bahkan itu yang benar menurut jalan yang pasa dan terbiasa waktu sekarang. Tidak perlu dipertanyakan kenapa dukungan ke Epyardi Asda yang kabarnya telah dilontarkan hilang begitu saja.

Papek dilua pancuang di dalam. Sumbar yang dihuni sebagian masyarakat bersuku bangsa Minangkabau, apakah membiasakan hal yang demikian? Begitu juga halnya dengan Audy Joinaldi, yang begitu besarnya bujukan agar ia mau menjadi pendamping di 2019 untuk membantu memperbaiki tatanan pemerintahan di Sumbar.

Sekarang, dibiarkan begitu saja. Adakah alasannya, tentu ada, ya mungkin hitung-hitungan. Sementara kalau Audy Joinaldi dipertahankan tentu masih bisa untuk maju kalau menghitung jumlah kursi yang ada di DPRD. Tapi mungkin dek rancak kilek loyang datang intan disangko kilek kaco.

Mereka yang dulu terlihat seakan berseberangan sekarang akan dipertunangankan. Semua kembali pada pertanyaan kita semua, bagaimana hitung-hitungannya? Semua itu bisa saja bergoyang dan digoyang sampai hitam di atas putih diserahkan ke KPU.

Sekali lagi itulah relasi kuasa. Sedangkan relasi etika beserta filosofi dimana mereka akan akan menggelar acara, seolah sirna dengan hembusan melodi-melodi fatamorgana di mata adat istiadatnya.

Bukan bermaksud menyuruh golongan yang dulu berseberangan untuk selalu bersebelahan. Sebab tak ada musuh yang abadi dalam politik. Cuma di mana malu di dalam adat, ketika corak pemerintahan Datuak Katumangguang berselisih dengan Datuak Parpatiah bukan berarti mereka berdendam kesumat.

Mereka teguh dengan pendirian, namun dalam hal untuk kemaslahatan masyarakat mereka berlapang dada. Semua tersebut guna membangun wilayah asa pada waktu itu. Tidak ada kedua datuk tersebut memburuk-burukkan saudaranya. Cuma berdialektika dalam tatanan pemerintahan.

Seharusnya menjadi pandangan tersendiri oleh niniak mamak dan kaum yang merasakan adat masih bersemayam di dalam hatinya. Memberikan edukasi tentang pandangan adat di Ranah Minang dalam memilih pemimpin.

Sangat cocok kiranya bila cara memilih Pangulu dikolaborasikan dengan pemilihan pemimpin. Hal tersebut tentu akan sampai pada sifat yang berpantang di seorang Pangulu,seperti manuhuak kawan sairiang mangguntiang dalam lipatan.

Bagi penulis, nasib Audy dan Epyardi hampir mirip dalam hal ini. Jangan baper. Cuma jangan dilarang juga hati untuk berbicara. Biasanya orang kalau sudah separasaian ini cocok untuk dipasangkan. Dari segi karir kedua-duanya tidak perlu diragukan lagi.

Gebrakan Epyardy yang memperjuangkan masyarakatnya yang dicampur dengan rayuan untuk Audy Joinaldi di 2019 lalu, menjadi tanda bahwa kedua orang tersebut mempunyai potensi besar mengelola pemerintahan di Sumbar.

Cuma sekarang siapa yang menjadi nomor satu siapa yang menjadi nomor dua, tentu itu yang menjadi salah satu faktor kutub magnet. Mungkin akan terjadi tolak menolak atau saling ada ketertarikan.

Tidak eloklah kiranya diajari mereka menentukan itu, mereka sudah sangat tahu. Cuma kalau masih ada ego diperasaan untuk apa dipertahankan. Bukankah bapak-bapak dilengahkan karena ada ego yang menekan?

Kemenangan secara natural akan bisa diraih oleh Audy dan Epyardi. Kenapa tidak, sebab corak mereka dalam manjuaan galeh sesuai dengan filosofi di Minangkabau. Gadang tidak mamijak didahulukan tidak manyipak.

Bersatu bisa tidak bersatu mungkin sulit rasanya, bagitu kiranya tertitip salam untuk dua orang calon pemimpin di ranah minang ini. (*)


Avatar of Irwandi Sikumbang
Irwandi Sikumbang
Penulis
Editor
Exit mobile version