BREAKING NEWS
    5,607 view

    Nama Kecamatan Patamuan akan Diubah Lagi?

    Waktu Baca: 4 menit
    Kantor Camat VII Koto Patamuan yang berada di dekat jalan Sicincin-Malalak-Balingka (Simalaka), di Kabun Pondok Duo Utara, Nagari Tandikek Selatan, Kecamatan VII Koto Patamuan. (Foto: Tangkapan layar Google Map)

    Tidak ada hujan tidak ada angin, kabarnya nama Kecamatan Patamuan akan diubah menjadi Kecamatan Koto Patamuan. Bagi kalangan elit kecamatan mungkin sebab musabab perobahan itu ada, tapi itulah kecamatan tempat penulis dilahirkan kurang sosialisasi ke masyarakatnya. Padahal media sosial ada, cuma sebagian kecil yang dipublikasikan. Sebagian besar yang disosialisasikan hanya foto-foto yang tidak tajam dalam menarasikan untuk sidang pembaca.

    SEBENARNYA kalau mau diubah, jika sudah setuju nan gadang-gadang di kecamatan tentu akan berubah juga. Pertanyaan sekarang, untuk apa diubah? Terpantangkah nama tersebut, atau prematurkah nama Patamuan ini. Atau ada pertimbangan-pertimbangan lain yang membuat nama diganti. Menjawab itu semua tentu yang punya gawe dan yang punya keinginan yang akan bisa.

    Sungguhpun hanya orang-orang elit kecamatan yang berwenang menjawab, bak kata-kata orang tua, barundiang siang bahabih hari Barundiang malam bahabih minyak.

    Kesimpulannya, semua akan membuat pitih kalua. Tidak adakah kerja yang lebih bermanfaat dari itu. Membuat rapat, membuat semacam proposal permohonan, terus ada peninjauan, terus disahkan atau ditolak, semua itu mengeluarkan anggaran bukan?

    Tidak bisakah uang untuk itu dialihkan ke anak-anak yang putus sekolah karena kurang biaya. Jika terbantu agak beberapa orang, mana yang lebih bermanfaat dari anggaran penggantian nama itu. Atau anak-anak di Patamuan sudah mulus semua dibidang pendidikan?

    Sebenarnya nama Patamuan sendiri tidaklah matching bagi penulis. Setelah diresek-resek asal mula nama tersebut berasal dari pertemuan sungai. Sekali lagi kabar-kabarnya, kalau bukan itu penulis tak ingin menjadi penyebab dosa dengan demikian.

    Kenapa tidak matching, kalau benar itu sungai yang dimaksud menjadi landasan penamaan, tempat itu sangat hafal dan begitu jelas di pandangan mata. Tempatnya berdekatan dengan penulis mandi-mandi siap pelajaran olahraga di Lapangan Lambau waktu kelas 2 Tsanawiyah dahulu.

    Permasalahan sekarang  bukan romantisme tempo dulu, tapi menilik daerah Patamuan sebagian besar daerah pertanian, daerah mana pertaniannya yang diairi oleh air sungai yang telah bersatu tadi. Tentu banyak, tapi coba bandingkan dengan irigasi dari hulu yang masih berbentuk sungai-sungai asri dari kaki gunung sebelum bersatu di timbulun yang kabarnya “baagahan” tersebut.

    Kemana arah tujuan penyematan kata KOTO sebelum Patamuan di nama kecamatan ini?

    Jika Koto diartikan ke nama sebuah suku, tentu hal ini akan membuat suku lain berkecil hati. Banyak suku-suku yang bermukim di daerah Patamuan. Jika Koto diartikan sistem pemerintahan lareh, akan ada pesan tersirat dilakukannya sistem hirarki untuk selanjutnya.

    Siapa mamaknya yang berkuasa, maka kemenakan atau dunsanaknya boleh bekerja atau honor disuatu tempat, yang lain antri dulu. Jika Koto diartikan berhubung geografis, tentu dengan nama kecamatan yang selama ini telah berlansung telah tercakup di dalamnya. Kata benda yang tentu punya tempat.

    Mungkin para perumus nama waktu itu alergi dengan nama Tandikek. Seolah akan menonjolkan nama suatu kampung saja, tentu akan membuat kampung lain berkecil hati. Tapi kalau kita keluar untuk merantau, orang luar atau antara kita sama kita memperkenalkan diri akan akrab dengan sebutan Tandikek, atau ditambah embel-embel di belakangnya Tandikek Mudiak Padang.

    Nama Tandikek sendiri mempunyai nilai historis dan budaya yang kuat. Demikian juga keadaan geografisnya, setidaknya Gunung Tandikat akan menjadi sponsor utama untuk mengenalkan nama Tandikek ke daerah luar.

    Begitu juga dengan legenda atau cerita kalik-kalik jantan yang melahirkan nama daerah Sicincin dan Kapalo Ilalang. Bernama Sicincin kabarnya di situ cincin dilucuti biar kesaktian hilang, bernama Kapalo ilalang di situ dipisahkan kepala dan badannya. Atau ada juga versi lainnya, tentang asal muasal nama daerah tersebut. Sekali lagi ini cerita, benar tidaknya yang maha kuasa yang tahu.

    Sedangkan sungai yang bertemu dan diabadikan menjadi nama Kecamatan Patamuan, jika ditanya ke warga di sekitar aliran entah tahu entah tidak. Tapi tidak masalah, mungkin maksud perumus sungai-sungai tersebut telah mengaliri atau sumber irigasi penduduk di bagian hulu. Untuk apa juga dipermasalahkan kalau akan mengeluarkan anggaran. Sedangkan banyak tugas atau tanggung jawab lain yang akan diselesaikan.

    Kembali ke kabar perubahan nama Kecamatan Patamuan ini, sepenting apakah nama itu diamandemen. Jangan-jangan besok teringat dengan nama yang wah akan diganti pula. Mau tidak mau perubahan nama akan berpengaruh pada administrasi lainnya. Termasuk kecamatan yang berumur muda, tapi akan diubah penyebutan namanya. Jangan sampai terkesan pengusul nama dahulunya tergesa-gesa tanpa pertimbangan yang matang.

    Jika orang-orang hebat kecamatan pandai dan cakap menjadi jembatan atas dan bawah tentu pembangunan Kecamatan Patamuan akan mulus. Tidak perlu kiranya merubah nama dari Kecamatan Patamuan menjadi Koto Patamuan. Atau terkilan-kilan di hati karena kita pecahan dari Kecamatan VII Koto, atau daerah berbatasan dengan Koto Mambang, entahlah. Wallahu alam bishawab. (*)

    Avatar of Irwandi Sikumbang
    Avatar of TimAS
    Avatar of Irwandi Sikumbang
    Irwandi Sikumbang
    Penulis
    Avatar of TimAS
    TimAS
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *