BREAKING NEWS

    Panti Asuhan Amanah Canduang Bekali Anak Asuh dengan Pendidikan Tinggi dan Keterampilan Bakery

    Waktu Baca: 5 menit
    Panti Asuhan Amanah Canduang saat dikunjungi Anggota DPRD Sumbar

    Agam, AyoSumbar.id – Panti Asuhan Amanah Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tidak hanya menjadi tempat bernaung bagi anak asuh. Panti ini juga berupaya membekali mereka dengan pendidikan formal dan keterampilan hidup agar mampu mandiri setelah dewasa.

    Salah satu program yang dikembangkan adalah Life Skill Gallery melalui pelatihan bakery. Program ini hadir dari kebutuhan panti untuk memberi bekal praktis kepada anak asuh agar memiliki keterampilan ekonomi dan siap menghadapi masa depan.

    Pengurus Panti Asuhan Amanah Canduang, Gustinar, mengatakan, pelatihan bakery awalnya lahir dari kebiasaan anak-anak membuat kue menjelang Lebaran untuk dinikmati bersama.

    Dari kebiasaan itu, pengurus melihat adanya potensi yang dapat dikembangkan menjadi program keterampilan yang lebih terarah.

    “Program life skill gallery ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk membekali anak asuh dengan keterampilan hidup yang praktis, agar mereka mampu hidup mandiri dan siap menghadapi tantangan setelah keluar dari panti,” kata Gustina, Sabtu 9 Mei 2026.

    Untuk memperkuat program tersebut, panti menghadirkan anggota keluarga pengurus yang memiliki pengalaman di bidang bakery. Tidak hanya itu, dua alumni panti, Wulan dan Reza, juga diutus mengikuti pelatihan di Natural Cooking Club atau NCC Jakarta.

    Setelah mengikuti pelatihan, keterampilan yang mereka peroleh kemudian diajarkan kembali kepada anak-anak panti.

    Gustinar menjelaskan, program bakery di Panti Asuhan Amanah Canduang telah berjalan sejak 2018 dan masih berlanjut hingga saat ini.

    Pelatihan tersebut bertujuan menumbuhkan kemandirian anak asuh, membekali mereka dengan kemampuan ekonomi, serta menanamkan kreativitas, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama.

    “Tujuan utamanya agar anak tidak bergantung kepada orang lain dan memiliki kemampuan untuk membuka usaha mandiri,” ujarnya.

    Selain keterampilan bakery, Panti Asuhan Amanah Canduang juga memberikan perhatian besar terhadap pendidikan formal anak asuh.

    Menurut Gustinar, pengurus panti berperan sebagai orang tua asuh yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga mendampingi perkembangan akademik, karakter, mental, dan spiritual anak.

    Panti memberikan dukungan pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Meski tidak memiliki anggaran tetap yang besar, pembiayaan pendidikan tinggi anak asuh selama ini banyak terbantu oleh donatur.

    Hasilnya, sebanyak 16 santriwati Panti Asuhan Amanah Canduang telah berhasil meraih gelar sarjana dari sejumlah perguruan tinggi, seperti UIN Bukittinggi, UIN Imam Bonjol Padang, Universitas Negeri Padang, dan IPB.

    Saat ini, sejumlah santriwati juga masih aktif menempuh pendidikan S1 di Universitas Andalas dan UIN Imam Bonjol Padang.

    Capaian pendidikan itu tidak berhenti pada jenjang sarjana. Satu alumni telah meraih gelar magister pendidikan, sementara dua lainnya sedang menempuh pendidikan S2.

    Di antara para alumni, tiga orang telah menjadi PNS, tiga orang menjadi guru PPPK, dan beberapa lainnya bekerja sesuai dengan bidang pendidikan masing-masing.

    “Panti asuhan bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga lembaga pendidikan yang mampu mengantarkan anak asuh meraih masa depan,” kata Gustinar.

    Meski demikian, Gustinar tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi panti.

    Dalam pendidikan formal, tantangan terbesar berasal dari motivasi dan karakter anak. Sebagian anak memiliki motivasi rendah atau persoalan emosional akibat latar belakang keluarga.

    Selain itu, pengurus juga menghadapi tantangan dalam mengontrol pergaulan dan kedisiplinan anak saat berada di luar panti.

    Sementara dalam pelatihan bakery, tantangan utama adalah keterbatasan tenaga kerja. Anak-anak belum dapat diberdayakan secara penuh untuk mengelola produksi karena masih menjalani pendidikan formal.

    “Anak-anak masih dalam masa sekolah, sehingga produksi biasanya hanya bisa dilakukan pada bulan Ramadan,” jelas Gustinar.

    Meski belum maksimal, program bakery mendapat respons baik dari warga panti dan masyarakat sekitar. Beberapa masyarakat bahkan rutin memesan produk buatan anak panti, salah satunya nastar.

    Namun, Gustinar mengakui, program bakery belum memiliki kerja sama resmi dengan pihak luar. Panti masih membutuhkan dukungan untuk memperkuat keberlanjutan program tersebut.

    “Panti punya keinginan besar untuk melanjutkan program ini, tetapi masih terkendala tenaga kerja,” ujarnya.

    Salah satu alumni Panti Asuhan Amanah Canduang, Wulan, merasakan langsung manfaat dari program life skill bakery tersebut.

    Menurut Wulan, motivasi awalnya mengikuti pelatihan bakery adalah untuk memiliki keterampilan tambahan. Dari keterampilan itu, ia tidak hanya memahami dasar pembuatan roti, tetapi juga mampu memperoleh penghasilan.

    “Setidaknya untuk diri sendiri, saya mengetahui basic dalam pembuatan bakery. Alhamdulillah, dengan keterampilan tersebut saya bisa menghasilkan pendapatan,” kata Wulan.

    Selama mengikuti program, Wulan mempelajari berbagai keterampilan, mulai dari pengenalan bahan, teknik menguleni adonan, proses proofing, pembuatan roti manis, roti tawar, mi, cake, hingga kue tradisional.

    Ia juga belajar menghitung biaya produksi atau food cost serta cara mengemas produk agar menarik minat pasar.

    Bagi Wulan, kesempatan memperoleh pendidikan hingga S1 sekaligus keterampilan bakery menjadi pengalaman yang sangat berharga.

    Ia mengaku bangga pernah tumbuh di panti karena lingkungan tersebut membentuknya menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan kuat.

    “Saya merasa sangat beruntung dan bangga. Bukan gengsi tinggal dan tumbuh di panti, tetapi menjadikan saya pribadi yang sangat bersyukur karena dikelilingi keluarga yang saling mendukung,” ujarnya.

    Menurut Wulan, gelar S1 menjadi bekal akademik, sementara keterampilan bakery menjadi keahlian praktis untuk menghadapi dunia kerja dan usaha.

    Ia menyebut manfaat terbesar dari program bakery bukan hanya kemampuan membuat roti, tetapi perubahan mentalitas.

    “Saya belajar kedisiplinan, ketelitian, dan daya juang. Program ini juga memberi pandangan bahwa peluang usaha bisa diciptakan dari dapur sendiri,” katanya.

    Ke depan, Wulan berencana membuka usaha bakery rumahan dengan sistem pre-order. Ia ingin mengembangkan produk roti sehat atau roti berbahan lokal yang unik.

    Gelar S1 yang ia miliki akan digunakan untuk mendukung pengelolaan manajemen dan pemasaran usaha agar lebih profesional.

    Meski begitu, Wulan mengakui proses belajar bakery tidak selalu mudah. Ia harus membiasakan diri dengan ketelitian tinggi karena sedikit kesalahan dalam takaran bahan dapat memengaruhi hasil akhir.

    Selain itu, tantangan lain yang ia hadapi adalah pemasaran produk dan upaya membuat produk diterima konsumen.

    “Dalam baking, selisih beberapa gram bahan saja bisa mengubah hasil akhir. Dari situ saya belajar menjadi lebih teliti dan sabar,” ujarnya.

    Avatar of A. St. Mangkuto
    Avatar of A. St. Mangkuto
    Avatar of A. St. Mangkuto
    Avatar of A. St. Mangkuto
    A. St. Mangkuto
    Penulis
    Avatar of A. St. Mangkuto
    A. St. Mangkuto
    Editor
    Avatar of A. St. Mangkuto
    A. St. Mangkuto
    Reporter

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *