AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
20,909 view

Pekan Kebudayaan Daerah di Katapiang Batal, Hatma: Ini Mempermalukan

Foto eksklusif yang menyoroti sisi lain dari kisah Pekan Kebudayaan Daerah di Katapiang,Pekan Kebudayaan Daerah 1.
Seniman Sumatera Barat, Mahatma Muhammad, menyoroti keputusan pembatalan Pekan Kebudayaan Daerah di Nagari Katapiang. (Foto: Komunitas Seni Nan Tumpah)

Padang Pariaman, AyoSumbar.id – Batalnya Pekan Kebudayaan Daerah di Katapiang mendapat sorotan tajam dari seniman Sumatera Barat, Mahatma Muhammad. Menurutnya, keputusan mendadak dari Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, menggores luka kolektif di Nagari Katapiang.

“Pembatalan ini bentuk ketidakadilan yang telanjang, kealpaan institusional yang serius, dan kekerasan simbolik terhadap martabat para pelaku budaya,” ujar budayawan yang akrab disapa Hatma tersebut, Minggu (6/7/2025).

Menurut Hatma, pembatalan mendadak itu bukan hanya menyakiti hati para pegiat budaya, tetapi juga melukai martabat masyarakat Nagari Katapiang. Pasalnya, mereka telah bergotong royong menyambut kegiatan tersebut.

“Kasihan kita, orang-orang sanggar sudah lama latihan. Masyarakat pun sudah menyiapkan lokasi dengan penuh semangat untuk pelaksanaan Pekan Kebudayaan Daerah di Katapiang itu,” ujar Hatma.

Ia mempertanyakan logika di balik alasan pembatalan yang disebut-sebut terkait larangan penggunaan anggaran daerah. “Kalau sejak awal tak boleh pakai anggaran, kenapa acara ini dicetuskan? Jangan main-main dengan semangat orang,” kritik Hatma.

Dalam pandangannya, keputusan tersebut bentuk ketidakadilan yang nyata dan kekerasan simbolik terhadap para pelaku budaya. Sebab, pemerintah seolah abai terhadap komitmen yang telah mereka bangun bersama masyarakat.

“Ini bukan hanya soal teknis, ini soal prinsip. Ketika semua pihak telah bergerak, lalu dihentikan sepihak tanpa penjelasan, ini mempermalukan,” tegas Hatma lagi.

Ia juga menyampaikan bahwa berbagai spekulasi telah beredar di tengah masyarakat, mulai dari alasan efisiensi anggaran hingga konflik internal di lingkungan Pemkab Padang Pariaman.

Namun, tak satu pun informasi tersebut disampaikan secara resmi kepada para pelaku budaya. “Tak ada surat pembatalan, tak ada forum penjelasan. Semua dibiarkan menggantung,” ungkapnya geram.

Ia menyoroti bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya pembatalan acara, tetapi cara pemerintah memperlakukan masyarakat adat, seniman, dan generasi muda yang selama ini menjadi penjaga tradisi.

“Wali nagari dan niniak mamak sudah mempersiapkan tempat, seniman sudah siap tampil, anak-anak latihan silek sepulang sekolah, semua ini demi kehormatan, bukan demi hadiah,” jelas Hatma.

Lebih lanjut, ia menilai pembatalan Pekan Kebudayaan Daerah di Katapiang sebagai kegagalan administratif dan kerapuhan komitmen pemerintah terhadap budaya lokal.

“Jika memang ada keterbatasan, sampaikan secara jujur dan terbuka. Jangan diam dan mencederai semangat yang sudah menyala,” tegasnya lagi.

Baginya, kebudayaan bukan dibangun oleh pidato dan pernyataan resmi semata, melainkan oleh konsistensi dan penghargaan nyata terhadap pelakunya. “Kebijakan tanpa penghormatan hanyalah formalitas. Semangat masyarakat tidak boleh dijadikan korban inkonsistensi birokrasi,” tutupnya.

Sebelumnya, Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, menjelaskan bahwa pembatalan Pekan Kebudayaan Daerah 1 karena anggaran yang digunakan tidak sesuai dengan semangat efisiensi. Ia juga menyalahkan miskoordinasi di Disdikbud Padang Pariaman.

Hanya saja, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Padang Pariaman, Anwar, belum merespon saat dihubungi terkait pembatalan Pekan Kebudayaan Daerah di Katapiang tersebut. (*)

Avatar of Putri Maharani
Avatar of Aprizal Noer
Putri Maharani
Penulis
Aprizal Noer
Editor
Exit mobile version