BREAKING NEWS
    12,488 view

    Riset OR Arbastra BRIN di Kota Tua Padang Temukan 4 Fakta Menarik

    Waktu Baca: 4 menit
    Riset OR Arbastra BRIN menelusuri hingga jejak sejarah Kota Padang yang masih tersimpan utuh di rumah warga. (Foto: Tim OR Arbastra BRIN)

    Padang, AyoSumbar.id – Riset OR Arbastra BRIN (Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional) sejak 25 Juni hingga 4 Juli 2025 di Kota Padang, telah rampung. Hasilnya, ditemukan sejumlah fakta menarik tentang sejarah di ibu kota Sumatera Barat tersebut.

    Riset ini difokuskan pada tema Perdagangan Rempah dan Terbentuknya Masyarakat Majemuk di Kota Padang, sebuah upaya ilmiah untuk menelusuri akar sejarah Kota Padang melalui jejak ekonomi dan budaya masa lampau.

    Sasaran penelitian yaitu kawasan Kota Tua Padang, yang secara administratif meliputi Kecamatan Padang Barat dan Padang Selatan—wilayah yang dulunya menjadi pusat perdagangan strategis di sepanjang Sungai Batang Arau.

    Penelitian ini diketuai oleh Iim Imadudin, SS, M.Hum dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN. Sedangkan tim peneliti OR Arbastra BRIN terdiri dari Lia Nuralia, SS, M.Hum (Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN), Dra. Zusneli Zubir, M.Hum (Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN), Dr. Astyka Pamumpuni (Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung), dan Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan (Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas).

    riset or arbastra brin di kota tua padang hasil 2
    Tim Riset OR Arbastra BRIN yang menelusuri jejak sejarah Kota Tua Padang. (Foto: Tim OR Arbastra BRIN)

    Iim Imadudin menjelaskan bahwa Kota Padang berkembang menjadi masyarakat majemuk melalui jalur perdagangan rempah sejak masa kolonial. Aktivitas niaga di pelabuhan Padang menghadirkan arus migrasi dan interaksi dari berbagai etnis seperti Minangkabau, Nias, Tionghoa, India, Eropa, hingga Jawa.

    Seiring waktu, pertemuan ini membentuk identitas sosial yang khas bagi kota ini. Warisan budaya yang ditinggalkan mencakup bangunan tua bersejarah, rumah ibadah dari berbagai agama, serta artefak keseharian dan keagamaan.

    “Hal tersebut menegaskan bahwa perdagangan tidak hanya membawa barang, tetapi juga pertukaran budaya yang memperkaya masyarakat lokal secara sosial dan spiritual,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima AyoSumbar.id, Selasa (8/7/2025).

    Temuan Artefak dan Warisan Emosional

    riset or arbastra brin di kota tua padang hasil 1

    Riset OR Arbastra BRIN turut mengungkap beragam artefak menarik, seperti guci, patung dewa, alat musik, perlengkapan sembahyang, paspor tahun 1926, surat nikah kuno, hingga koper pakaian yang telah berusia ratusan tahun.

    “Banyak dari artefak ini masih disimpan warga sebagai warisan keluarga yang mengandung nilai emosional tinggi, mencerminkan keterikatan masyarakat terhadap masa lalu mereka,” jelas Iim Imadudin.

    Katanya, pendekatan etnoarkeologi yang digunakan juga memberi gambaran utuh tentang proses asimilasi budaya, baik secara fisik maupun simbolik. Arsitektur bangunan, pola ritual, dan peralatan rumah tangga menjadi cermin dari adaptasi budaya yang terjadi seiring berjalannya waktu.

    “Dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat, akademisi, dan pihak pemerintah kota, OR Arbastra BRIN menekankan pentingnya pelestarian kawasan Kota Tua Padang sebagai warisan budaya hidup. Pelibatan komunitas lokal menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sejarah dan identitas kawasan ini, yang masih menyimpan kekayaan narasi tentang keberagaman dan toleransi,” jelasnya.

    riset or arbastra brin di kota tua padang hasil 3

    Iim Imadudin pun menyampaikan sejumlah catatan penting dari riset OR Arbastra BRIN tersebut. Berikut empat poin dalam catatan penting pihaknya:

    1. Perdagangan Rempah sebagai Fase Krusial

    Kota Padang tumbuh sebagai simpul perdagangan rempah yang mempertemukan berbagai suku dan budaya. Aktivitas ekonomi ini menjadi pintu masuk terjadinya migrasi dan pertukaran ideologi, kepercayaan, serta gaya hidup.

    2. Pencampuran Budaya yang Khas

    Interaksi antaretnis melahirkan bentuk akulturasi yang khas dalam berbagai aspek—mulai dari arsitektur, bahasa, kuliner, hingga seni dan praktik keagamaan. Ini menciptakan karakter unik pada Kota Padang.

    3. Kota Padang sebagai Persemaian Toleransi

    Kota ini menjadi simbol toleransi yang berkembang secara organik. Berbagai kelompok etnis hidup berdampingan selama berabad-abad, memperlihatkan harmoni sosial meski dalam keberagaman.

    4. Transisi dari Pluralitas ke Multikulturalitas

    Proses sosial di Padang menunjukkan transisi dari masyarakat plural menuju masyarakat multikultural yang aktif menghargai perbedaan melalui dialog, pendidikan lintas budaya, dan solidaritas sosial.

    Jadi, sambung Iim Imadudin, tim peneliti OR Arbastra BRIN berharap temuan tersebut dapat menjadi landasan untuk pelestarian kawasan Kota Tua Padang secara partisipatif. Mereka juga menginginkan agar kota ini tidak hanya dikenang sebagai jejak sejarah kolonial, tetapi sebagai simbol keberagaman yang hidup dan berkembang.

    “Kota Padang dinilai layak menjadi contoh nasional dalam membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis melalui pelestarian budaya,” tukas Iim Imadudin. (*)

    Avatar of Putri Maharani
    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of Putri Maharani
    Putri Maharani
    Penulis
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *