BREAKING NEWS
    4,410 view

    Second Language Acquisition di Era Scroll dan Swipe: Ketika Bahasa Dipelajari dari Layar

    Waktu Baca: 5 menit
    Ilustrasi seorang siswi SMA yang fokus mencatat materi pelajaran, berdampingan dengan gawai yang menampilkan konten digital. Potret ini menggambarkan paparan media sosial yang melimpah menjadi kemampuan berbahasa yang substantif. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

    Di tengah derasnya arus digital, fenomena Second Language Acquisition kini berlangsung dengan cara yang jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Namun, apakah banjir paparan bahasa Inggris di era digital benar-benar mampu meningkatkan kemampuan berbahasa generasi muda?

    CARA manusia belajar bahasa memang akan terus mengalami pergeseran. Ini tentunya tidak bisa diabaikan. Jika dahulu ruang kelas menjadi pusat utama pembelajaran bahasa Inggris, kini layar ponsel mengambil alih sebagian besar peran tersebut.

    Generasi muda tidak lagi sepenuhnya bergantung pada guru dan buku teks. Mereka belajar dari video pendek, potongan film, konten TikTok, hingga percakapan di kolom komentar. Fenomena ini menandai lahirnya sebuah realitas baru: Second Language Acquisition (SLA) di era scroll dan swipe.

    Namun, perubahan ini justru menghadirkan pertanyaan mendasar: jika akses terhadap bahasa Inggris semakin luas dan mudah, mengapa kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia masih relatif rendah?

    Data terbaru dari EF English Proficiency Index 2025 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-80 dari 123 negara dengan kategori low proficiency, dengan skor rata-rata 471—di bawah rata-rata global 488.

    Bahkan, kemampuan berbicara (speaking) tercatat lebih rendah dibanding keterampilan lain. Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara paparan bahasa yang melimpah dan kemampuan penggunaan bahasa yang sesungguhnya.

    Realitas ini juga dapat kita temukan di Sumatera Barat. Di banyak sekolah, termasuk di kota-kota seperti Bukittinggi atau Payakumbuh, siswa sudah terbiasa mendengar bahasa Inggris dari gawai mereka. Mereka mengikuti tren global, menonton konten kreator luar negeri, bahkan menirukan gaya bicara dan ekspresi populer.

    Namun, ketika diminta berbicara di depan kelas atau berdiskusi sederhana, banyak yang masih ragu, bahkan cenderung diam. Fenomena ini menunjukkan bahwa paparan tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan produksi bahasa.

    Di sinilah teori dalam SLA menjadi relevan untuk membaca fenomena ini. Salah satu teori paling berpengaruh adalah Input Hypothesis yang dikemukakan oleh Stephen Krashen. Ia berpendapat bahwa bahasa diperoleh ketika pembelajar terpapar pada comprehensible input—yakni input yang sedikit lebih tinggi dari tingkat kemampuan mereka (i+1).

    Dalam konteks hari ini, media sosial sebenarnya menyediakan input yang sangat kaya dan autentik. Bahasa yang digunakan bukan bahasa buku teks, melainkan bahasa hidup yang digunakan penutur asli dalam konteks nyata.

    Remaja di Sumbar hari ini mungkin tidak mampu menjelaskan aturan present perfect tense, tetapi mampu memahami ekspresi seperti “I’ve been there” dalam konteks video perjalanan. Bahkan, tidak sedikit pelajar yang hafal dialog film atau lirik lagu berbahasa Inggris karena sering muncul di beranda mereka.

    Di kawasan seperti Padang, misalnya, fenomena nongkrong sambil membuka TikTok atau Instagram sudah menjadi pemandangan umum. Bahasa Inggris hadir secara alami dalam keseharian mereka—tanpa disadari, proses acquisition sedang berlangsung.

    Namun, teori Krashen juga menegaskan satu hal penting: tidak semua input otomatis menjadi pemerolehan. Input harus dipahami (comprehensible), relevan, dan cukup menantang. Di sinilah kelemahan utama dari pembelajaran berbasis media sosial.

    Banyak konten yang dikonsumsi bersifat cepat, terfragmentasi, dan dangkal. Bahasa hadir dalam potongan-potongan pendek tanpa konteks yang utuh. Akibatnya, yang terjadi bukan pemerolehan yang mendalam, melainkan sekadar pengenalan permukaan.

    Fenomena ini dapat kita lihat dalam keseharian. Di beberapa sekolah di Sumatera Barat, guru kerap menemukan siswa yang mampu memahami video berbahasa Inggris, tetapi kesulitan ketika diminta membuat kalimat sendiri. Mereka terbiasa menjadi “penonton bahasa”, bukan “pengguna bahasa”. Inilah yang dapat disebut sebagai passive acquisition—pemahaman meningkat, tetapi produksi bahasa tetap lemah.

    Di sisi lain, sistem pendidikan formal kita belum sepenuhnya beradaptasi dengan perubahan ini. Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah masih cenderung berorientasi pada struktur dan ujian. Bahasa diajarkan sebagai seperangkat aturan yang harus dihafal, bukan sebagai alat komunikasi yang harus digunakan. Padahal, dalam perspektif SLA modern, interaksi dan penggunaan bahasa justru menjadi kunci utama dalam pemerolehan.

    ‎‎Ketimpangan ini semakin jelas jika kita melihat kondisi daerah. Di sebagian wilayah Sumatera Barat, akses terhadap lingkungan berbahasa Inggris masih terbatas. Interaksi dengan penutur asing jarang terjadi, dan penggunaan bahasa Inggris di luar kelas hampir tidak ada. Akibatnya, meskipun siswa memiliki paparan digital, mereka tidak memiliki ruang untuk mempraktikkan bahasa tersebut secara nyata.

    Avatar of A. St. Mangkuto
    Avatar of TimAS
    Avatar of A. St. Mangkuto
    A. St. Mangkuto
    Penulis
    Avatar of TimAS
    TimAS
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *