BREAKING NEWS
    2,310 view

    Solar Biodigester, Inovasi Warga di Koto Tangah Atasi Sampah Organik

    Waktu Baca: 4 menit
    Warga RT 03 RW 23 Abu Hanif Devila menerapkan Solar Biodigester sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan. (Foto: Diskominfo Padang)

    Padang, AyoSumbar.id – Solar Biodigester menjadi inovasi warga RT 03 RW 23 Perumahan Abu Hanif Devila, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, yang ditemukan Tim Juri Padang Rancak Award (PRA) 2026 sesi kedua, Jumat (18/9/2026).

    Inovasi ini dirancang untuk menangani sampah organik sekaligus membantu meningkatkan daya resap tanah di lingkungan permukiman. Solar Biodigester tidak hanya berfungsi sebagai wadah pengolahan sisa makanan, tetapi juga menyerupai biopori dan dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot.

    Salah seorang juri PRA 2026, Syaifuddin Islami, melihat konsep tersebut relevan diterapkan di Koto Tangah. Terutama karena sejumlah kawasan di wilayah itu menghadapi persoalan genangan dan banjir.

    “Solar Biodigester tidak hanya bermanfaat untuk mengamankan sampah organik dari rumah tangga. Sistem ini juga dapat berfungsi seperti biopori, membantu air masuk ke dalam tanah, sekaligus memperbaiki kesuburan tanah melalui proses penguraian bahan organik,” ujar Syaifuddin.

    Cara kerjanya dilakukan dengan menempatkan sebagian wadah Solar Biodigester ke dalam tanah. Sisa makanan dari rumah tangga kemudian dimasukkan ke dalam wadah untuk menjalani proses dekomposisi.

    Bahan organik yang berinteraksi dengan tanah dan organisme pengurai akan mengalami penguraian. Proses tersebut membantu mengembalikan unsur organik ke lingkungan sekaligus mendukung kondisi tanah di sekitar lokasi pemasangan.

    Menurut Syaifuddin, persoalan lingkungan di kawasan permukiman seharusnya tidak selalu diselesaikan secara terpisah. Pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, serta penghijauan dapat dirancang menjadi satu sistem yang saling mendukung.

    “Pendekatan seperti ini menjadi penting karena persoalan lingkungan di kawasan permukiman sebaiknya tidak ditangani secara terpisah. Pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, serta penghijauan lingkungan sesungguhnya dapat dirancang dalam satu sistem yang saling mendukung,” katanya.

    Bagi kawasan Koto Tangah yang memiliki titik-titik rentan genangan, keberadaan ruang resapan di lingkungan permukiman dapat membantu memperbesar infiltrasi air hujan. Namun, pendekatan tersebut tidak menggantikan fungsi drainase maupun pengendalian banjir dalam skala kawasan.

    Manfaat lainnya terletak pada pengelolaan sampah dari sumber. Sisa makanan dapat diproses sejak dari rumah atau lingkungan RT sehingga tidak seluruhnya harus dibawa ke tempat penampungan dan menunggu proses pengangkutan.

    Konsep itu sejalan dengan perubahan pola pengelolaan sampah perkotaan. Pengelolaan tidak lagi semata mengandalkan pola kumpul, angkut, dan buang, tetapi juga menekankan pengurangan serta pengolahan sampah sejak dari sumber.

    Secara ekologis, Solar Biodigester setidaknya memiliki tiga fungsi. Pertama sebagai komposter untuk membantu menguraikan bahan organik. Kedua sebagai media resapan yang menyerupai biopori karena terhubung langsung dengan tanah.

    Fungsi ketiga adalah sebagai media pengembangan maggot. Organisme tersebut dapat membantu mempercepat penguraian sisa makanan sekaligus menghasilkan biomassa yang masih memiliki nilai guna.

    Bahan organik yang telah terdekomposisi juga dapat memberikan manfaat bagi tanah. Material tersebut membantu meningkatkan aktivitas biologi tanah dan memperbaiki kondisi tanah di sekitar titik pemasangan.

    Penerapan Solar Biodigester di RT 03 RW 23 Abu Hanif Devila memperlihatkan bahwa upaya menghadapi persoalan lingkungan tidak selalu membutuhkan infrastruktur berskala besar. Pekarangan rumah, taman lingkungan, dan ruang terbuka di tingkat RT dapat menjadi bagian dari sistem ekologis perkotaan.

    Namun, keberhasilan sistem ini tidak hanya ditentukan oleh keberadaan perangkat. Kebiasaan warga dalam memilah sampah sejak dari dapur menjadi bagian penting karena sampah organik yang bercampur dengan plastik dan residu lainnya akan lebih sulit dimanfaatkan.

    Warga juga perlu memasukkan sisa makanan secara teratur, menjaga kondisi perangkat, serta memanfaatkan hasil proses penguraian. Partisipasi tersebut menjadi faktor penting agar Solar Biodigester dapat terus berfungsi setelah penilaian Padang Rancak Award berakhir.

    Inovasi itu juga memperluas makna lingkungan yang “rancak” dalam konteks PRA. Lingkungan yang baik tidak hanya berkaitan dengan kebersihan jalan, kerapian selokan, atau tanaman yang tertata.

    Perubahan perilaku dan kemampuan masyarakat menjalankan inovasi secara berkelanjutan juga menjadi bagian penting dari upaya mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Solar Biodigester di Abu Hanif Devila menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut.

    Satu perangkat dapat digunakan untuk menahan sampah organik agar tidak menjadi beban lingkungan. Pada saat yang sama, sistem ini membantu menyediakan ruang resapan air, mendukung organisme pengurai, dan mengembalikan bahan organik ke tanah.

    Apabila diterapkan pada lebih banyak rumah dan lingkungan, pendekatan tersebut berpotensi membentuk jaringan kecil pengelolaan sampah serta resapan air berbasis masyarakat.

    Intinya, tidak semua sampah harus langsung diangkut keluar dari lingkungan. Begitu pula air hujan tidak harus seluruhnya segera dialirkan, karena sebagian sampah organik dapat dikembalikan ke siklus alam dan sebagian air dapat diberi ruang untuk meresap kembali ke tanah. (*)

    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of Aris Prima Gunawan
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Penulis
    Avatar of Aris Prima Gunawan
    Aris Prima Gunawan
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *