BREAKING NEWS
    20,545 view

    Strategi Diplomasi Ekonomi Indonesia dalam Merespons Tarif Impor AS: Menjaga Stabilitas di Tengah Tekanan Global

    Waktu Baca: 1 menit
    Presiden Prabowo mengutus Menko Perekonomian Airlangga Hartarto untuk memimpin pengajuan proposal negosiasi ke Pemerintah Amerika Serikat, di Washington. (Foto: Kemenko Perekonomian)

    Pada Maret 2025, pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor sebesar 32% terhadap enam negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

    KEBIJAKAN ini memicu gejolak ekonomi domestik—nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.000/USD, dan IHSG jatuh hingga 7,1%. Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Indonesia memilih jalur diplomasi aktif daripada aksi balasan yang konfrontatif.

    Presiden Prabowo mengutus delegasi tingkat tinggi yang dipimpin Menko Perekonomian Airlangga Hartarto ke Washington. Mereka membawa proposal negosiasi yang mencakup peningkatan impor produk AS (kapas, gandum, minyak, gas), relaksasi regulasi kandungan lokal, serta penyelesaian hambatan non-tarif.

    Pemerintah juga menunjukkan komitmen melindungi sektor industri padat karya melalui insentif dan pelatihan tenaga kerja.

    Bank Indonesia merespons gejolak pasar dengan intervensi agresif di pasar valuta asing, sementara Kementerian Keuangan mempertahankan target pertumbuhan 5,2% dan defisit anggaran 2,53%.

    Langkah fiskal dan moneter yang terkoordinasi ini berhasil menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan eksternal.

    Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga memanfaatkan krisis sebagai peluang untuk diversifikasi pasar ekspor, menarik investasi asing, dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global.

    Diplomasi ekonomi kini menjadi instrumen utama untuk membela kepentingan nasional secara cerdas, strategis, dan bermartabat. (*)


    Avatar of TimAS
    Prof. Syafruddin Karimi
    Penulis
    Avatar of TimAS
    TimAS
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *