AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
30,506 view

Ulasan Mendalam: Terduga Pelaku Mutilasi di Padang Pariaman Ternyata ”Aktor dan Sutradara” Hebat

Gambar eksklusif yang memperlihatkan dampak dari Pelaku Mutilasi di Padang Pariaman,Siska Oktavia Rusdi,Adek Gustiana,Septi,ibu cika,Nila Yusnita.
SJP alias W (sisi kiri), terduga pelaku pembunuhan terhadap Septi, Cika dan Adek, saat ditanyai oleh Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir, Rabu malam (18/6/2025). (Foto: Humas Polres Padang Pariaman)

Terduga pelaku mutilasi di Padang Pariaman dapat disebut ”aktor” sekaligus ”sutradara” hebat. Bukan perkara dugaan mutilasi seorang gadis, atau pembunuhan dua mahasiswi 1,5 tahun lalu. Namun, cara terduga pelaku menciptakan drama kehidupan. Nekatnya, dalam drama itu ia melibatkan keluarga korban, sejumlah awak media, dan pihak kepolisian. Bagaimana bisa?

BERAWAL 25 Januari 2025, sejumlah awak media memperbincangkan peristiwa hilangnya dua mahasiswi. Yakni Siska Oktavia Rusdi alias Cika (23), dan Adek Gustiana (24). Kedua gadis cantik ini, adalah teman satu almamater.

Cika merupakan warga Korong Kampung Apa, Nagari Sungai Buluah Utara, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Sedangkan Adek disebut berdomisili di Tanjung Aro, Nagari Sontang Cubadak, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman.

Kedua bersahabat ini terakhir terlihat di kediaman Cika pada 12 Januari 2024. Hal itu diungkapkan oleh Nila Yusnita, ibu dari Cika saat bertemu sejumlah awak media pada 25 Januari 2025. “Pada hari itu, saya tidak dapat lagi menghubungi anak saya ataupun temannya (Adek, Red),” ujar Nila.

Seharian gelisah, keesokannya (13/1/2024), Nila memutuskan melaporkan hilangnya Cika ke Polsek Batang Anai di Pasar Usang. Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan secercah harapan. Yakni sepeda motor yang digunakan Cika, Yamaha Mio M3 warna merah hitam BA 4292 FE, di sekitar kampus MTI Tabing, Padang.

Nyatanya, penemuan sepeda motor itu tak berarti sedikitpun. Pencarian Cika ataupun Adek seperti menemukan jalan buntu. Semua berlangsung hingga 1 tahun. Akhirnya, Nila memutuskan mengungkap cerita tersebut ke awak media pada 25 Januari 2025.

Dengan didampingi sejumlah wartawan yang tergabung di Forum Wartawan Parlemen (FWP) Padang Pariaman, Nila kembali mempertanyakan perkembangan laporan terkait hilangnya Cika 1 tahun lalu, ke Polsek Batang Anai. Namun, titik terang belum juga diperoleh.

Ragam spekulasi pun bergulir hingga ke telinga Nila. Ada yang menyebut Cika dan Adek pernah terlihat di kawasan Lubuk Minturun Padang. Ada pula yang menyebut Cika dibawa Adek ke Pasaman. Bahkan sejumlah spekulasi miring juga didengar sang ibu.

Nila begitu bingung dan semakin larut dalam kesedihan menyikapi bermacam spekulasi itu. Namun ia memutuskan menarik positifnya saja. Nila menganggap spekulasi itu sebagai pertanda putri tercintanya masih hidup. Semangat Nila pun makin menggebu mencari Cika.

“Ayahnya sakit saat mengetahui Cika hilang. 6 bulan kemudian beliau meninggal dunia. Tentu sekarang hanya saya dan keluarga yang berjuang mencari Cika,” ujar Nila dengan suasana hati yang diremuk kesedihan mendalam.

Sayangnya, perjuangan Nila mencari Cika tetap tidak membuahkan hasil. Meskipun beritanya sudah beredar di mana-mana, dan Nila pun sudah tampil di televisi. Sang anak tak juga ada kabarnya. “Sebagai ibu, yang saya harapkan anak saya dalam keadaan sehat,” ungkap Nila.

Sebulan berlalu, perlahan semua meredup. Perbincangan ataupun pemberitaan hilangnya Cika dan Adek tak lagi masif. Nila pun hanya dapat bertanya-tanya info kepada awak media yang sering berkomunikasi dengannya, karena sangat yakinnya Cika masih hidup sehat di luar sana.

Mutilasi yang Menggemparkan, Misteri lebih Mengejutkan

Petugas saat melakukan evakuasi jasad tanpa kepala, tangan, dan kaki yang ditemukan mengapung di sungai Batang Anai, Selasa (17/6/2025). (Foto: Polres Padang Pariaman)

Selasa (17/6/2025) sekitar pukul 10.30 yang kelam. Bukan karena cuaca yang tengah diselimuti musim penghujan saja. Namun, Padang Pariaman digemparkan dengan penemuan jasad tanpa tangan, kaki, kepala, bahkan alat kelamin.

Jasad tragis itu ditemukan nelayan di tepi sungai Batang Anai di Korong Duku, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai. Peristiwa yang benar-benar meramaikan pemberitaan. Foto dan videonya juga beredar luas di media sosial.

Diduga, jasad tersebut korban mutilasi. Dugaan semakin kuat, karena keesokan harinya Rabu (18/6/2025), ditemukan potongan tubuh lainnya. Yakni kaki, kepala, dan tangan, yang diduga masih satu kesatuan dengan tubuh yang ditemukan di hari sebelumnya.

Penemuan sejumlah potongan tubuh pada Rabu (18/6/2025) itu, tampaknya memberi titik terang bagi pihak kepolisian. Sosok mulai mudah dideteksi. Ditambah lagi, pihak keluarga langsung mengkonfirmasi ke RS Bhayangkara Padang, bahwa jasad diduga kuat Septi Ananda (23).

Di hari, polisi langsung melakukan penyelidikan. Alhasi, Rabu malam, Tim Satreskrim Polres Padang Pariaman menemukan petunjuk yang mengarah ke terduga pelaku mutilasi itu. Dia adalah SJP alias W (25), warga Pasa Usang, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai.

Dari interogasi yang dilakukan, terkuaklah misteri yang lebih mengejutkan. Ternyata tidak saja diduga membunuh Septi, SJP sebelumnya juga diduga membunuh dua orang wanita sebayanya. Diungkapkanlah sosok kedua wanita tersebut, yaitu Siska Oktavia Rusdi alias Cika dan Adek Gustiana.

Kabar itu langsung beredar tengah malam. Sehingga, polisi yang sudah mendapatkan keterangan SJP, langsung bertindak di “pagi buta”. Bersama tim BPBD, lokasi penguburan Cika dan Adek pun dibongkar. Yakni di sumur yang terdapat dalam rumah SJP itu sendiri.

Kenapa SJP Berhasil Menyimpan Misteri 1,5 Tahun?

Satu pertanyaan pun mulai muncul. Kenapa SJP bisa menyimpan kebusukan perbuatannya itu hampir 1,5 tahun? Berdasarkan keterangan Rosniati (75), salah seorang tetangga SJP, diduga sumur di rumah SJP tak digunakan sejak masuknya sambungan air PDAM di sana.

Rosniati mengaku sangat tidak menyangka SJP senekat itu. Sebab, pria yang ia ketahui bekerja di salah satu pabrik di Batang Anai tersebut, adalah pemuda ramah. “Setahu saya, dia orangnya tidak neko-neko dan suka menyapa juga,” ungkapnya.

Apa yang disampaikan Rosniati juga sama dengan yang dilihat Syahrial (45) selama ini. “Setahu saya, dia orangnya tidak banyak ngomong. Saya sangat tidak menyangka dengan apa yang terjadi sekarang ini,” ungkap pria yang tinggal tak jauh dari rumah SJP tersebut.

Dari penelusuran AyoSumbar.id, di sebelah rumah SJP memang terlihat adanya terpasang meteran air. Hanya saja, AyoSumbar.id tak dapat melihat lebih dekat meteran itu, untuk memastikan berfungsi atau tidak. Sebab, letaknya tepat di sebelah rumah yang dibatasi aksesnya dengan garis polisi.

Meninggalnya Ibu Cika, dan Kejutan Besar yang tak Terduga

Hilangnya Cika pada Januari 2024, benar-benar menjadi tekanan keras dalam diri orangtuanya. Sang ayah yang paling tidak tahan. Ia sakit berat dan meninggal 6 bulan setelah hilangnya putri tercinta. Sedangkan ibu Cika, Nila Yusnita, meninggal bertepatan di hari penggalian sumur penguburan Cika.

Salah seorang sepupu Cika, Suji Selsya Utami (28), menceritakan betapa syoknya Nila Yusnita, ketika mengetahui putrinya menjadi korban pembunuhan. “Diduga almarhumah (ibu Cika, Red) terkena serangan jantung,” ungkap Suji dengan suara bergetar.

Bagaimana tidak, nasib tragis yang dialami anaknya benar-benar jauh dari bayangannya selama ini. Terlebih sosok yang diduga membunuh Cika, benar-benar tak pernah ada dalam benak ibu ataupun keluarga Cika. Kenapa begitu?

Rentetan Sandiwara Dahsyat SJP, Terduga Pembunuhan dan Pelaku Mutilasi di Padang Pariaman

Proses penggalian sumur di dalam rumah terduga SJP, yang diduga tempat dikuburnya Cika dan Adek setelah dibunuh. (Foto: BPBD Padang Pariaman)

SJP ternyata benar-benar menjalankan drama mengejutkan selama hampir 1,5 tahun belakangan. Dalam kasus hilangnya Cika dan Adek, ia cukup mengabil peran besar. Mulai dari menguatkan keluarga korban, hingga nekat terlibat memberikan keterangan kepada media dan mendampingi ibu Cika melapor ke kantor polisi.

Keberadaan SJP dianggap pihak keluarga sangat membantu. Sebab ia begitu bersemangat. Hal ini diungkapkan kakak sepupu Adek, Nersi Sulastri, saat datang ke kediaman SJP untuk menyaksikan proses pembongkaran sumur tempat dikuburnya Cika dan Adek.

“Awalnya saya mendapatkan kontak si SJP ini dari ibunya Cika. Sebab, saya dapat informasi dia tahu banyak tentang Cika dan Adek,” ujar Nersi memulai penjelasan ke awak media kemarin, tanpa mampu menahan air matanya.

Nersi benar-benar tidak menyangka SJP adalah terduga pelaku pembunuhan adik sepupunya itu. “Padahal, dia sering menyemangati dan mengajak saya untuk terus mencari keberadaan Cika dan Adek. Benar-benar sadis dia,” ujar wanita yang tinggal di Solok itu.

Ia pun menceritakan sekilas sosok Adek. Ternyata, gadis malang itu seorang piatu. Jadi, di Pasaman ia tinggal bersama sang ayah. “Saya sangat dekat dengan adik saya ini. Dia juga sering berkunjung ke tempat saya di Solok,” ungkapnya.

Sampai sebelum mendapat kabar kemarin, Nersi masih sangat yakin bahwa Adek hidup dan baik-baik saja. Kenapa begitu? Di sinilah terungkap lagi satu drama yang diduga dilakoni sekaligus disutradarai oleh SJP.

Ternyata, jelang Pemilu tahun lalu, Nersi mendapat pesan WhatsApp yang menurutnya persis dengan cara Adek menghubunginya. Namun, pesan itu dari nomor baru. “Terakhir Adek itu menghubungi saya dengan nomor lamanya, yaitu 2 hari sebelum dia dikabarkan menghilang pada 13 Januari 2024,” ungkap Nersi.

“Waktu saya dihubungi dengan nomor baru sekitar jelang Pemilu tahun lalu, pesannya singkat saja. Hanya mengabarkan kalau itu dia (Adek), dan menanyakan kabar saya. Itu saja, dan tidak ada lagi balasan,” beber Nersi sembari melihatkan pesan yang masih tersimpan di chat WhatsApp-nya itu.

Nersi hanya bisa percaya saja dengan pesan itu. Sebab, nomor lama Adek yang disimpannya memang tak lagi aktif. “Sekarang, dengan terungkapnya semua ini, saya yakin si SJP ini yang chat saya pakai nomor baru waktu itu. Mungkin untuk meyakinkan saya kalau Adek masih hidup,” tukasnya.

Drama yang rancang SJP turut dirasakan sejumlah awak media yang terlibat dalam pencarian informasi tentang Cika mulai 25 Januari 2025. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua FWP Padang Pariaman, Yuzal Efendi, usai mewawancarai Nersi, kemarin.

“Waktu pencarian itu, si SJP ini sering menghubungi saya. Selain bertanya perkembangan informasi, ia menyampaikan harapan agar kasus itu dikawal dengan ketat agar kepolisian lebih sigap,” ungkap Yuzal.

Dorongan itu benar-benar membuat Yuzal merasa memiliki tanggung jawab sosial yang besar. Sebab, apa yang diharapkan SJP, sama dengan harapan besar ibu Cika. “Ibu Cika ini juga percaya sama si SJP ini. Sebab, dia menemani ibunya Cika sampai pada proses pemberian keterangan di kantor polisi,” kenang Yuzal.

Sekarang, Yuzal hanya dapat menahan kedongkolan di hatinya saat mendapat kabar SJP terduga pelaku pembunuhan Cika dan Adek. “Tidak saya sangka dia yang melakukan. Sampai-sampai kami berdebat dengan pihak Polsek Batang Anai dan berniat ke Pasaman mencari rumahnya Adek di Pasaman,” tukas Yuzal.

Motif Sementara Pembunuhan, Kronologi masih Terpendam

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan dari kepolisian menyangkut kronologi pembunuhan yang dilakukan SJP. Baik terhadap Septi Ananda (SA) yang dimutilasi, ataupun Siska Oktavia Rusdi (SO) alias Cika dan Adek Gustiana (AG) yang dikubur dalam sumur.

Informasi yang diberi pihak kepolisian dari keterangan SJP kemarin, baru motif sementara terkait pembunuhan tiga wanita muda itu. Diduga, Septi dibunuh karena terlibat hutang-piutang dengan SJP. Sedangkan Cika dan Adek diduga dibunuh karena urusan asmara.

“Jadi, pengakuan terduga (SJP alias W, Red), korban SA ini ada hutang. Namun saat ditagih oleh terduga, korban tidak dapat membayarnya. Terduga mengaku sakit hati dan berunjung membunuh korban,” ungkap AKBP Ahmad Faisol Amir, Kamis (19/6/2025).

Masih dari pengakuan terduga, sambungnya, pembunuhan terhadap SA dilakukan pada Minggu (15/6/2025) sekitar pukul 15.00 WIB. Diduga, terduga memotong tubuh korban menjadi 10 bagian, lalu membuangnya ke aliran sungai Batang Anai.

“Tubuh korban ini ditemukan dalam rentang Selasa-Rabu (17-18/6/2025). Sekarang jenazah dalam proses pemeriksaan di RS Bhayangkara Padang. Proses ini masih terus didalami,” ungkap Faisol –sapaan Kapolres.

Sedangkan menyangkut pembunuhan SO dan AG, lanjut Kapolres, dari pengakuan terduga karena masalah asmara dan dendam. “Terduga mengaku ada hubungan asmara dengan korban SO. Namun terduga mendapat kabar korban ini berselingkuh,” ungkap Faisol.

Lalu kenapa AG ikut terlibat? Kapolres mengatakan bahwa terduga menganggap korban AG penyebab hati korban SO mendua. ”Jadi, kata terduga korban AG ini memperkenalkan SO kepada pemuda lain saat KKN,” tukas Kapolres.

Katanya, terduga mengatakan SO dan AG setelah dibunuh langsung dimasukkan ke dalam sumur. “Tidak dipotong seperti korban SA. Korban yang dikubur dalam sumur, katanya langsung dimasukkan setelah dibunuh, lalu sumur ditutup (ditimbun),” kata Faisol.

Namun, Faisol menggarisbawahi bahwa keterangan terduga itu masih motif sementara. Termasuk soal kepastian sosok yang dikubur dalam sumur di rumah terduga. “Semua belum dapat dipastikan. Kerangka yang ditemukan di sumur harus diperiksa dulu di RS Bhayangkara untuk memastikan itu benar-benar kerangka korban sesuai keterangan terduga saat ini. Begitupun dengan motifnya, masih terus dilakukan penyidikan,” tukas Faisol. (*)

Avatar of Putri Maharani
Avatar of Aprizal Noer
Putri Maharani
Penulis
Aprizal Noer
Editor
Exit mobile version