UMKM Jadi Andalan Ekonomi, Pemkab Solok Selatan Perkuat Pembinaan dan Dukungan
Solok Selatan,Ayosumbar.id — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sejak 2021, berbagai program pembinaan, bantuan, hingga fasilitasi legalitas usaha telah digulirkan untuk memperkuat sektor yang dianggap sebagai tulang punggung ekonomi daerah ini.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Solok Selatan, Musferi Hendra, menjelaskan, data pemerintah daerah mencatat, dari total 12.768 pelaku UMKM yang tersebar di Solok Selatan, sebanyak 1.769 usaha mikro di tujuh kecamatan telah mendapatkan pembinaan dan pendampingan usaha. Selain itu, 1.323 pelaku usaha juga telah menerima bantuan peralatan guna menunjang aktivitas produksi mereka.
Tak hanya itu, pemerintah juga memfasilitasi 5.804 pelaku UMKM untuk memperoleh berbagai legalitas usaha seperti sertifikasi halal, Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga pendaftaran merek dagang. Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi, Kementerian Agama, Bank Indonesia, serta Pusat Kajian Halal LDPM Bukittinggi.
Dia menyebut berbagai dukungan tersebut merupakan bagian dari program UMKM Naik Kelas yang digagas pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pelaku usaha.
“Program ini bertujuan memperkuat ekonomi masyarakat melalui peningkatan kapasitas pelaku UMKM. Pemerintah hadir dengan pembinaan, pelatihan, hingga bantuan peralatan agar UMKM di Solok Selatan mampu berkembang dan menembus pasar yang lebih luas,” ujar Musferi, Selasa (17/03/2026).
Program yang telah berjalan sejak masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Solok Selatan, Khairunas dan Yulian Efi pada periode pertama tersebut, dinilai mulai memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Selain membuka peluang kerja baru, sektor UMKM juga menjadi ruang pemberdayaan bagi perempuan serta generasi muda yang memiliki keterampilan di berbagai bidang seperti kerajinan tangan, bordir, sulaman, hingga usaha kuliner.
Pemerintah daerah juga terus memberikan dukungan berkelanjutan melalui pelatihan, konsultasi usaha, pendampingan bisnis, hingga kunjungan langsung ke lokasi usaha pelaku UMKM.
Kepala Bidang Koperasi dan UKM Disperindagkop dan UKM Solok Selatan, Azizah Mutia, menyebutkan bahwa UMKM di daerah tersebut bergerak di tujuh sektor utama, yakni penyediaan akomodasi dan makanan minuman, perdagangan, industri pengolahan, jasa, kerajinan, pertanian, serta peternakan.
Menurutnya, dukungan yang konsisten dari pemerintah telah membawa sejumlah produk UMKM Solok Selatan menembus pasar internasional. Komoditas kopi misalnya, kini telah dipasarkan ke negara seperti Jepang, Australia, Amerika Serikat, hingga Korea Selatan. Sementara produk kuliner seperti rendang Uni Lili telah menjangkau pasar Eropa, dan kerajinan sulaman mulai diminati di negara tetangga serta kawasan Timur Tengah.
Ke depan, program penguatan UMKM ini akan terus dilanjutkan dan telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 sebagai bagian dari visi pembangunan daerah.
Untuk tahun 2026, pemerintah daerah melalui Disperindagkop dan UKM telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp817,8 juta dengan target peningkatan kapasitas usaha bagi 420 pelaku UMKM.
Di sisi lain, saat ini sekitar 400 pelaku UMKM juga tengah dalam proses pengurusan sertifikasi halal melalui Pusat Kajian Halal LDPM Bukittinggi sebagai langkah memperluas akses pasar dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk lokal. (adi)
