AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik

Wajah Bahagia Puluhan Yatim Duafa, Ketika Kepedulian Nagari Jadi Tradisi Jelang Lebaran di Lubuk Gadang Tenggara

Puluhan anak yatim, piatu dan duafa foto bersama PJ Wali Nagari Lubuk Gadang Tenggara Sahrizal dan Ketua TP-PKK Rossi Ningsih, Babhinsa, Dermawan di Masjid Nurul Bhakti Lubuk Rasak. Ardi/TimAs
Puluhan anak yatim, piatu dan duafa foto bersama PJ Wali Nagari Lubuk Gadang Tenggara Sahrizal dan Ketua TP-PKK Rossi Ningsih, Babhinsa, Dermawan di Masjid Nurul Bhakti Lubuk Rasak. Ardi/TimAs

 

Di  masjid Nurul Bhakti Lubuk Rasak, Nagari Lubuk Gadang Tenggara, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Ramadhan tidak hanya hadir sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai ruang di mana rasa kemanusiaan tumbuh dan dirawat bersama.

 

Kamis (19/3/2026), suasana masjid dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Kehangatan itu terasa begitu nyata mengalir dari tangan-tangan yang memberi, hingga ke hati mereka yang menerima.

 

Sebanyak 64 anak yatim, piatu, dan kaum duafa berkumpul dalam satu ruang yang sama, bukan sekadar untuk menerima santunan, tetapi untuk merasakan bahwa mereka tidak sendiri.

 

Ada pelukan kebersamaan yang tak terlihat, namun begitu kuat mengikat setiap jiwa yang hadir. Program “Ramadhan Peduli” menjadi jembatan yang mempertemukan kepedulian dan harapan.

 

Penjabat Wali Nagari Lubuk Gadang Tenggara, Sahrizal, mengaku kegiatan ini bukanlah seremoni tahunan semata, melainkan tradisi yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan. Ia percaya, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperkuat rasa saling memiliki dalam satu keluarga besar bernama nagari.

 

Di nagari ini, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah cerita yang terus ditulis tentang kepedulian yang diwariskan, tentang kebersamaan yang dijaga, dan tentang harapan yang tak pernah padam.

 

Di tengah acara, sebuah momen sederhana justru menjadi yang paling membekas. Sahrizal menghampiri seorang anak yatim, memeluknya dengan hangat, lalu menyampaikan pesan penuh makna “tetap semangat belajar dan jangan pernah kehilangan harapan.

 

Kalimat ini mungkin terdengar biasa, namun diucapkan dengan ketulusan, ia berubah menjadi kekuatan bagi mereka yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu menyambut lebaran Idul Fitri 1447 Hijriyah 2026.

 

“Jangan pernah merasa sendiri. Kami ada bersama kalian,” Ucapan itu menggema, menyentuh hati banyak orang yang hadir.

 

Program Wali Nagari ini, seolah menjadi pengingat bahwa di balik keterbatasan, selalu ada tangan yang siap menggenggam. Tak kalah penting, kegiatan ini juga menjadi cermin dari kepedulian para donatur. Dari mereka, aliran kebaikan terus hidup, membuktikan bahwa berbagi bukan tentang berapa banyak yang diberikan, tetapi seberapa tulus niat yang disertakan.

 

Di akhir penyaluran santunan bagi yatim, piatu dan duafa itu, suasana kembali menghangat dengan ucapan selamat menyambut Idul Fitri yang di ucapkan Sahrizal.

 

Saling mendoakan dan memaafkan menjadi penutup yang sederhana, namun sarat makna bagi mereka. Seolah seorang ayah yang sudah lama pergi, kini kembali dalam pelukan mereka di hari nan suci menyabut lebaran.

 

Meski di raut wajah si yatim dan piatu, senyum terlukis manis. Namun, air mata tak kuasa dibendung. Ayah dan ibu yang dulu hangat, kini hanya kenangan. Meninggalkan lubang di hati yang takkan terisi lagi.

 

Ucapan Idul Fitri, salam hangat dari hati

menyentuh jiwa-jiwa yang terluka, mereka menutup Ramadhan dengan air mata.

Mengharapkan kasih sayang, di hari yang suci ini, beruntung seorang PJ Wali Nagari bersama Ketua PKK Nagari Rossi Ningsih hadir bersama dermawan untuk pelukan mereka menyambut hari nan suci dengan kasih sayang dan santunan.

 

“Semoga dengan santunan ini, mereka bisa merasakan hadirnya seorang ayah dan ibu pada hari yang mereka tunggu-tunggu yaitu lebaran idul Fitri,” tutur Sahrizal. (Oleh Arditono Wartawan Ayosumbar.id)

 

 

Avatar of Arditono
Arditono
Penulis
Exit mobile version