BREAKING NEWS
    2,765 view

    Dari Redaksi ke Ruang Batin: Taufik Effendi dan Nalareka yang Mengajak Orang Pulang ke Diri

    Waktu Baca: 2 menit
    Plt Kepala Dinas Kominfo Solok Selatan, Taufik Effendi, saat memimpin rapat dengan jajarannya beberapa waktu lalu. (Foto: Ardi/TimAs)

    Di tengah riuhnya arus informasi dan tuntutan hidup modern, tak semua kegelisahan manusia tampak di permukaan. Banyak yang terlihat baik-baik saja, tetapi diam-diam menyimpan pertanyaan, luka, atau bahkan kehilangan arah.

    KEGANJILAN itulah yang dulu menghampiri Taufik Effendi, seorang jurnalis yang kini menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkup Pemerintah Kabupaten Solok Selatan. Sebagai seorang pejabat daerah, Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Solok Selatan, itu terbiasa mengurai fakta, namun justru terseret ke pencarian yang lebih sunyi. Ia memahami manusia dari dalam dirinya sendiri.

    Menurutnya, perjalanan itu tidak terjadi seketika. Dunia jurnalistik yang ia geluti selama ini justru menjadi pintu masuk bagi kegelisahan yang lebih dalam. Ia melihat realitas bukan hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai potret batin manusia yang sering tersembunyi. Dari sanalah muncul satu pertanyaan sederhana namun menggugah: mengapa banyak orang tampak kuat, padahal sebenarnya sedang rapuh?

    Alih-alih mencari jawaban di luar, Taufik memilih menyelam ke dalam dirinya. Proses refleksi panjang itu kemudian melahirkan Nalareka, sebuah ruang yang tidak sekadar menawarkan motivasi, tetapi mengajak orang berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan berdialog dengan dirinya sendiri.

    Nalareka tidak hadir sebagai jawaban instan. Di dalamnya, Taufik meramu pendekatan yang lebih kontemplatif, memetakan hubungan antara ruh, hati, akal, dan nafs. Empat unsur yang sering kali berjalan tidak selaras, namun justru menjadi kunci untuk memahami konflik batin manusia.

    Berbeda dengan konten pengembangan diri yang serba cepat dan praktis, Nalareka mengajak pembacanya menempuh jalan yang lebih sunyi, menelusuri akar persoalan, menerima proses, lalu menemukan makna secara perlahan.

    Di sinilah kekuatan Nalareka, bukan memberi tahu apa yang harus dirasakan, tetapi membantu seseorang menyadari apa yang sebenarnya sedang ia alami.

    Tak berhenti di tulisan reflektif, gagasan Taufik juga menjelma dalam karya fiksi. Lewat novel seperti Algoritma Takdir, Clean ur Heart, Quantum Synchronization Control, hingga serial Genk Salik, Surau Digital, ia menyisipkan nilai-nilai spiritual dalam bingkai kehidupan modern.

    Cerita-cerita itu menurutnya, menjadi jembatan bagi pembaca yang ingin memahami diri tanpa merasa digurui.

    Seiring waktu, Nalareka tumbuh menjadi lebih dari sekadar platform. Ia menjelma sebagai ruang pemikiran yang hidup, tempat orang-orang datang bukan karena mereka sudah menemukan jawaban, tetapi karena mereka sedang mencari.

    Di dunia yang serba cepat, Nalareka menawarkan sesuatu yang langka. Seperti kesempatan untuk berhenti, mendengar diri sendiri, dan perlahan pulang ke dalam. (adi)

    Avatar of Arditono
    Avatar of TimAS
    Avatar of Arditono
    Arditono
    Penulis
    Avatar of TimAS
    TimAS
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *