BREAKING NEWS
    735 view

    Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Melanggengkan Sistem yang Merugikan Dirinya

    Waktu Baca: 5 menit
    (Foto: Instagram/@juliana.naufel)

    ”I’m not like other girls” ”apa cuma aku yang nggak ngerti makeup?” “ngapain sih makeup tebel-tebel mending natural aja lebih cantik” “aku nggak suka kpop dan drakor, itu perempuan banget”.

    KALIMAT-kalimat tersebut sering dilontarkan oleh bebera perempuan yang merasa dirinya lebih baik daripada perempuan lain. Banyak perempuan yang terjebak dalam rivalitas sesama mereka. Misalknya menghakimi, membanding-bandingkan, merendahkan, dan selalu fokus pada hal buruk dari diri perempuan lain. Seringkali hal ini hanya bertujuan untuk mendapatkan valiadasi dari seorang laki-laki semata.

    Fenomena ini tidak bisa dinilai sebagai masalah antar individu saja. Sebab, dari sanalah termanifestasikan suatu produk patriarki yang terus dilanggengkan di masyarakat kita. Yakni internalized misogyny.

    Menurut Wahyudi dan Kartikawati (2025), Internalized Misogyny didefinisikan sebagai kondisi dimana perempuan mengadopsi, mempraktikkan, dan melanggengkan keyakinan serta stereotip negatif yang secara luas ditujukan kepada perempuan oleh sistem patriarki yang mendominasi. Baik itu kepada perempuan lain maupun kepada dirinya sendiri.

    Dalam sudut pandang psikologi, politik ini bukan sekedar pandangan pribadi perempuan. Melainkan, cara agar ketimpangan gender tetap terpelihara. Sesuai dengan system justification theory (Jost&Banaji, 1994) dalam handbook (Craig&Philips, 2023). Dijelaskan bahwa terdapat tiga bentuk motif pembenaran dalam diri seseorang. Yakni ego-justification (memandang diri sendiri secara positif), group-justification (memandang kelompoknya secara positif), dan system-justification (memandang sistem atau status quo sebagai adil dan sah).

    Pada perempuan, motif untuk membela kelompoknya bisa bertabrakan dengan motif untuk membenarkan sistem. Pasalnya, sistem itu sendiri menempatkan perempuan lebih rendah dan dirugikan. Dari sinilah internalized misogyny mulai masuk dan terus dilanggengkan.

    Saat motif membenarkan sistem lebih unggul, perempuan bisa ikut merendahkan sesamanya, sehingga memicu rivalitas antar mereka. Contohnya dengan menyetujui dogma ”perempuan memang lebih lemah” atau mengatakan kalimat seperti ”kodrat perempuan seharusnya begini, bukan begitu” kepada perempuan lainnya. Sehingga, dalam hal ini kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perempuan atas pemikirannya yang terjebak dalam hal tersebut.

    Contoh nyata yang bisa kita lihat yaitu tren “pick me girl” di media sosial. Tren ini diwujudkan dengan tindakan merendahkan perempuan karena mengkritik penampilan, menyinggung seksualitas, hingga menampik persamaan hak perempuan lain.

    Selain itu tak sedikit perempuan menganggap makeup natural lebih baik, lebih cantik, dan lebih antimainstream daripada makeup tebal, padahal dengan ataupun tanpa makeup, perempuan tetaplah perempuan selalu cantik apapun pilihannya. Daripada fokus menjelek jelekkan perempuan yang makeupnya tebal, mengapa tidak belajar untuk mengapresiasi kemampuannya dalam merias wajah?

    Hal yang sama juga terlihat pada hobi yang dianggap “terlalu perempuan”, seperti menyukai K-pop atau menonton drakor. Bukan sekedar tidak tertarik tetapi sebagian perempuan juga merendahkannya dengan menyebutnya receh atau alay, kemudian menyatakan bahwa dirinya “berbeda” atau “tidak seperti cewek-cewek lain”.

    Padahal, sedari awal kaum laki lakilah yang menyebabkan hobi-hobi itu dicap rendah karena memang identik dengan perempuan bukan karena kualitasnya. Di sini terlihat bagaimana nilai yang menempatkan hal-hal feminim posisinya berada di bawah hal-hal maskulin yang malah diserap dan diulang oleh perempuan itu sendiri.

    Is women support women in the room with us?

    Berbicara mengenai Internalized Misogyny tentu tidak dapat dilepaskan dari sebuah slogan kultural yang digunakan oleh seluruh elemen perempuan dalam membantu sesama. Fenomena Internalized Misogyny inilah yang seringkali menjadi penyebab mengapa slogan ”women support women” tak pernah berhasil dan berujung omong kosong ataupun sekedar tagar di internet saja.

    Slogan “women support women” semakin terdengar seperti omong kosong belaka ketika minimnya kesadaran perempuan untuk tidak merendahkan sesamanya. Banyak kasus melibatkan laki-laki dan perempuan sekaligus, tetapi perempuan justru kerap menyudutkan sesamanya saja. Contohnya kasus perselingkuhan, yang jelas melibatkan kedua pihak. Namun, selalu perempuanlah yang paling sering menjadi sasaran amarah dan kekesalan publik, dan ia akan dicap perempuan murahan bahkan oleh perempuan lain.

    Berbanding terbalik dengan laki laki yang terkesan mendapat ruang aman dari amarah publik atas kasus perselingkuhan; sebuah bukti bahwa fenomena Internalized Misogyny masih menjadi bayang bayang yang terus mengahantui internal feminitas.

    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of Aris Prima Gunawan
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Penulis
    Avatar of Aris Prima Gunawan
    Aris Prima Gunawan
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *