BREAKING NEWS
    12,061 view

    Konsumsi Pangan di Padang Pariaman Alami Pola Perubahan Unik

    Waktu Baca: 3 menit
    Ilustrasi seorang ibu rumah tangga salah beli sayur. Pola konsumsi sayur meningkat di Kabupaten Padang Pariaman. (Foto: TimAS/AI)

    Padang Pariaman, AyoSumbar.id – Konsumsi pangan di Padang Pariaman 2024 meningkat tipis. Jika dilihat dari rata-rata pengeluaran per kapita penduduknya per bulan, memang tercatat sedikit peningkatan dari di tahun 2023 ke 2024. Yakni dari Rp1.293.628 menjadi Rp1.317.747 per bulan.

    Data ini dirangkum dari laporan resmi Padang Pariaman Dalam Angka 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, di balik angka tersebut tersimpan dinamika menarik dalam pola konsumsi masyarakat—terutama pada sektor pangan dan non pangan.

    Secara keseluruhan, belanja rumah tangga di Padang Pariaman untuk makanan masih mendominasi struktur pengeluaran rumah tangga, dengan kontribusi sebesar Rp715.317 per kapita atau sekitar 54 persen dari total pengeluaran.

    Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kenaikannya sangat tipis, hanya sekitar Rp1.800. Ini menunjukkan kecenderungan stagnasi konsumsi pangan di Padang Pariaman, meskipun terjadi inflasi dan kenaikan harga di berbagai komoditas.

    Di sisi lain, beberapa jenis makanan justru mengalami penurunan konsumsi. Contohnya, pengeluaran untuk daging turun dari Rp23.874 menjadi Rp20.944, dan telur serta susu dari Rp30.728 menjadi Rp28.117.

    Bahkan, kelompok ikan dan hasil laut—yang biasanya menjadi sumber protein utama masyarakat pesisir seperti Padang Pariaman—juga turun dari Rp66.995 ke Rp63.012. Penurunan ini dapat dibaca sebagai sinyal penyesuaian konsumsi masyarakat terhadap tekanan harga atau kondisi ekonomi.

    Sementara itu, kenaikan konsumsi signifikan tercatat pada sayur-sayuran (dari Rp69.994 menjadi Rp77.381) dan buah-buahan (dari Rp20.133 menjadi Rp26.873). Pola ini memberi indikasi positif bahwa masyarakat mulai bergeser ke pola makan yang lebih sehat dan terjangkau.

    Kenaikan pada konsumsi buah dan sayur bisa mencerminkan upaya menjaga imun tubuh, sekaligus adaptasi dari krisis ekonomi dengan memilih makanan yang lebih murah namun bergizi.

    Kebutuhan Non Pangan

    Di luar kebutuhan pangan, pengeluaran untuk barang bukan makanan justru tumbuh lebih signifikan, dari Rp580.111 menjadi Rp602.430. Sektor yang paling mencolok adalah pengeluaran untuk perumahan, bahan bakar, penerangan, dan air yang melonjak dari Rp253.786 ke Rp275.213.

    Hal ini selaras dengan meningkatnya tarif energi dan kebutuhan rumah tangga modern yang makin kompleks. Aneka barang dan jasa juga naik cukup tajam dari Rp128.757 di tahun 2023, ke Rp139.212 tahun 2024. Ini mencerminkan ekspansi kebutuhan gaya hidup dan digitalisasi rumah tangga.

    Sebaliknya, beberapa kategori belanja rumah tangga di Padang Pariaman justru menurun drastis. Misalnya saja pakaian, alas kaki, dan tutup kepala (dari Rp40.348 ke Rp32.615) serta keperluan pesta (dari Rp29.766 ke Rp23.098).

    Penurunan ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk efisiensi belanja rumah tangga di Padang Pariaman, dan pergeseran prioritas dari konsumsi simbolik ke kebutuhan fungsional.

    Jika ditelisik lebih jauh, penurunan pengeluaran untuk rokok dari Rp105.902 ke Rp96.241 juga patut diapresiasi. Penurunan ini bisa berarti dua hal. Yakni kesadaran kesehatan mulai tumbuh, atau tekanan ekonomi memaksa masyarakat untuk menekan pengeluaran tidak produktif.

    Secara umum, data ini menampilkan bahwa masyarakat Padang Pariaman berada dalam masa transisi pola konsumsi. Mereka cenderung lebih selektif, rasional, dan mulai mengadopsi gaya hidup sehat serta hemat. (*)

    Avatar of Putri Maharani
    Avatar of Aprizal Noer
    Avatar of Putri Maharani
    Putri Maharani
    Penulis
    Avatar of Aprizal Noer
    Aprizal Noer
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *