AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
6,202 view

Pemilihan Wali Nagari oleh KAN Merambah Demokrasi dari Bawah

Laporan langsung: fakta terbaru dan opini publik tentang Pemilihan Wali Nagari,Pilwana,Kerapatan Adat Nagari.
Ilustrasi niniak mamak yang sedang melakukan musyawarah dan penetapan wali nagari. (Foto dibuat menggunakan AI ChatGPT)

Wacana Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) hanya dilakukan oleh orang-orang di Kerapatan Adat Nagari (KAN) perlu dicermati. Pemilihan yang merupakan bagian dari pesta demokrasi tingkat terendah di tubuh pemerintahan akan dibuat sesimpel mungkin. Dengan cara “baiyo-iyo” diantara niniak mamak, maka ditunjuk siapa orang nomor satu di suatu pemerintahan nagari.

KALAU dihinok-manuangkan ada baiknya juga, tidak bahabih hari, tidak banyak mengeluarkan dana. Yang dimaksud sampai yang diama pacah. Cuma bila dibawakan ke sistem berdemokrasi, setiap orang yang telah memenuhi kriteria bisa dipilih dan memilih. Ada tunas kebebasan yang terpatahkan.

Bukan menafikan, niniak mamak adalah utusan dari sukunya. Tapi kurang sasayik sabalango, pemilihan yang akan dijalankan sedemokrasi mungkin, akan diwakili terkadang oleh orang yang besarnya karena karambia tumbuah di matonyo.

Sebab pemilihan wali nagari sendiri adalah perwujudan demokrasi memang sudah menjalar ke akar rumput masyarakat di Nusantara, terkhusus di Sumatera Barat. Ada kebebasan bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya secara langsung. Begitu juga siapa pemenang nanti akan diterima dengan hati yang suci dan muka yang jernih.

Riak-riak kekecewaan disebulan dua bulan pertama tentu ada. Namun, seiring bergantinya bulan dan berobahnya musim semua itu akan kembali normal seperti sediakala.

Senyum yang kalau ada kecut akan hilang seiring seringnya berjabat tangan antara wali nagari terpilih dengan bapak-bapak pemilih pihak sebelah saat selesai shalat Jumat. Atau ibu-ibu yang belum jernih hatinya terhadap dunsanak-nya yang kalah akan tersenyum ria karena serinya ditegur wali nagari baru saat berpapasan di tempat sayur pasar pagi.

Itulah cabiak-cabiak bulu ayam, sebelum paruh turun tangan menyelesaikannya, hembusan angin sepoy-sepoy membuat bulu tercelak jua. Bersilang api dalam tungku, api akan melenggok memasakan apa yang ada di atasnya.

Begitu juga halnya dengan kajian untung rugi. Jika Pilwana dilakukan oleh orang-orang yang ada di KAN, akan menghemat biaya. Baranak yang ndak kabadarah tentu sangat tidak mungkin. Berdemokrasi mau tidak mau tentu akan mengeluarkan biaya. Cuma kalau bisa tentu akan dihemat sebisanya.

Tidak mungkin rasanya demokrasi yang akan dituju prosesnya dilaksanakan dengan cara meninggalkan aspirasi masyarakat banyak. Pengulu atau niniak mamak cukup konsisten dibidang adat istiadat saja.

Mungkin ada sidang pembaca yang akan mengerinyitkan kening. Dianggap penulis durhaka ke pengulu, jawabannya tidak. Kita bicara faktual saja, Baringin bonsai, suatu istilah yang penulis pernah dengar dari penuturan oleh Angku Yus Datuak Parpatiah. Suka tidak suka itu memang terjadi di masyarakat adat.

Sebagian besar penghulu atau niniak mamak hanya penguasa adat. Masalah kelangsungan hidup lainnya, niniak mamak cukup tahu beres, terkadang ada juga yang tidak tahu. Hanya tinggal sebutan saja.

Tidak mungkin rasanya, pengulu yang pengangkatannya melewati proses administrasi adat akan mewakili proses administrasi pemerintahan. Sekali lagi bukan memandang sebelah mata terhadap adat. Tapi masalah satu orang satu suara.

Wali nagari nantinya akan bekerja mengelola administrasi kepemerintahan. Darinya akan diharapkan perubahan pada yang lebih baik. Akan diharapkan laporan kinerja nagari ke masyarakat biar lepas dahaga pemilih.

Jika pemilihan dilakukan di ruang lingkup kantor kerapatan adat saja, tentu pelaporan juga sebatas niniak mamak saja. Sementara mungkin ada kemenakan yang ingin tahu juga terhadap perkembangan dan capaian daerah tempat tinggalnya.

Kerapatan Adat Nagari bukanlah seperti dewan perwakilan rakyat, yang anggotanya dipilih langsung oleh rakyat. Anggota dewan, akan melahirkan perdebatan juga tentang pemilihan kepala negara. Apakah cukup di dewan atau masyarakat secara langsung.

Jangan takut masalah kata mamulangkan modal karena kampanye mengeluarkan banyak uang. Kalau memang dasarnya pancilok, apapun akan dicilok. Rasanya kampanye tidak terlalu penting kalau setingkat pemilihan wali nagari. Cukup masyarakat memilih siapa orang yang selama ini betul-betul tahu dengan masyarakat.

Jika ada alek buruak alek baiak, siapa yang turun dan membersamai warga. Jika ada permasalahan di nagari, siapa yang banyak mengasih solusi. Siapa yang selama ini yang tidak sombong ke masyarakat bila bertemu. Maka pilihlah orang itu. Kampanye cukup di meja kedai sambil mamatian balak anam kawan. Lalu disudahi galak badahai, sungguh indah persaudaraan di kedai kopi. (*)

Avatar of Irwandi Sikumbang
Avatar of TimAS
Irwandi Sikumbang
Penulis
TimAS
Editor
Exit mobile version