Ratusan Warga Sholat Istisqa di Nagari Batu Taba, Tangis Haru Iringi Doa Minta Hujan
Agam, AyoSumbar.id – Ratusan warga Sholat Istisqa di Nagari Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek, kemarin. Sholat sunah ini sebagai bentuk ikhtiar menghadapi kemarau panjang yang melanda daerah mereka. Pelaksanaan Sholat Istisqa di Nagari Batu Taba dipimpin oleh Ustadz Bilal sebagai imam dan Ustadz Darno Effendi sebagai khatib.
Rangkaian ibadah berlangsung khidmat, diselingi dengan isak tangis warga yang larut dalam doa memohon curahan rahmat dari Allah SWT. Dari anak-anak hingga orang tua, serta tokoh adat dan ulama, semuanya turut ambil bagian dalam prosesi ibadah di ruang terbuka ini.
Sholat Istisqa merupakan tradisi dalam ajaran Islam yang dilakukan saat wilayah dilanda kekeringan atau krisis air, sebagai wujud kepasrahan kepada Sang Khalik agar menurunkan hujan.
Dalam khutbahnya, Ustadz Darno mengajak jamaah untuk memperkuat iman, memperbaiki hubungan antarsesama, dan memperbanyak istighfar sebagai bentuk introspeksi diri menghadapi bencana alam ini.
Bupati Agam, H. Benni Warlis, menyampaikan keprihatinan mendalam atas dampak kemarau yang dirasakan masyarakat, terutama para petani yang mengalami gagal panen. Ia menyatakan bahwa doa yang dipanjatkan bersama ini merupakan simbol kepasrahan dan harapan kepada Allah SWT.
“Sholat Istisqa ini bukan sekadar bentuk ibadah, tetapi juga cerminan dari keimanan kita untuk memohon pertolongan-Nya di saat kondisi sulit seperti ini. Semoga hujan segera turun dan membawa berkah bagi kita semua,” ucap Bupati Agam dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
Diketahui, musim kemarau yang berkepanjangan di Kabupaten Agam selama beberapa bulan terakhir telah menyebabkan menurunnya debit air, mengeringnya sumur-sumur warga, serta terganggunya aktivitas pertanian. Masyarakat pun semakin menggantungkan harapan mereka pada pertolongan Tuhan.
Kegiatan Sholat Istisqa di Nagari Batu Taba ini menjadi pengingat kuat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan memperkuat spiritualitas di tengah tantangan zaman.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, doa bersama ini menjadi bentuk solidaritas sosial dan kepedulian kolektif terhadap krisis yang tengah dihadapi bersama. (*)
